Le Wan transmigrou para o livro e se tornou a vítima da disputa entre a verdadeira e a falsa herdeira rica. Como prima da verdadeira herdeira de família rica, com excelente origem familiar, aparênci
“Aduh... sakit sekali...” Le Wan terbangun sambil menopang kepalanya dengan satu tangan. Ia merasakan seolah-olah ribuan semut merayap di dalam kepalanya.
“Lain kali jangan terlalu percaya diri, ternyata menjadi orang baik itu sesulit ini.”
Saat ini, ia hanyalah seorang mahasiswi tingkat akhir yang sedang magang.
Suatu hari, sepulang dari kantor temannya, ia berjalan di jalanan dan melihat sebuah teko air jatuh dari balkon yang tinggi. Seorang gadis kecil berusia sekitar tiga atau empat tahun hampir tertimpa benda itu.
Tanpa berpikir panjang, Le Wan langsung berlari dan mendorong gadis kecil itu agar selamat. Namun, ia sendiri tak sempat menghindar hingga akhirnya teko itu jatuh tepat di kepalanya.
“Aku masih beruntung, meski kepala tertimpa teko, nyawaku masih selamat,” gumam Le Wan sambil berusaha membuka matanya. Namun, yang ia lihat bukanlah ruang rumah sakit, melainkan sebuah tempat yang benar-benar asing baginya.
Di jendela besar berlapis kaca, tergantung tirai renda dua lapis berwarna pinus dan putih gading. Dinding-dinding putih bersih dihiasi motif bunga berwarna hijau muda, dipadu dengan furnitur klasik serba putih, termasuk tempat tidur mewah berlapis renda yang tengah ia tiduri. Semua itu menunjukkan bahwa kamar ini milik seorang putri kecil yang sangat dicintai dan diasuh di keluarga kaya raya.
Apa ini kamar gadis kecil yang tadi ia selamatkan?
Le Wan refleks ingin menyentuh bekas luka di ibu jarinya, namun yang ia rasakan hanya kulit halus tanpa cela.
Ia terkejut dan menunduk, menatap kedua tangan yang t