Orang-orang berkata bahwa cobaan di kehidupan ini sering kali adalah akibat dari benih yang ditanam di kehidupan sebelumnya. Jika ada sebab, pasti ada akibat; itu adalah sesuatu yang tidak bisa diubah
Pada bulan ketiga ketika kembang api bermekaran, aku pergi ke Selatan. Saat ini, kota yang terkenal di seluruh negeri karena keindahannya itu sedang berada dalam musim terindah sepanjang tahun: di mana-mana terlihat hijau segar, rerumputan tumbuh, burung-burung kecil beterbangan, di tepi danau dedaunan willow yang terjulur tampak lembut, sementara di pinggir jalan bunga-bunga persik sedang bermekaran dengan semaraknya. Angin musim semi bertiup lembut, membawa kelopak-kelopak bunga persik menari-nari di udara. Tak lama kemudian, permukaan jalan batu telah dipenuhi dengan warna merah muda yang indah; serpihan-serpihan warna yang masih menyimpan pesonanya, membuat orang enggan untuk melangkah di atasnya.
Jika berjalan terus di sepanjang jalan setapak berbatu hijau, melewati sebidang hutan bambu dan belok ke kiri, akan terlihat sebuah bangunan dua lantai bergaya Tiongkok dengan atap hitam, dinding merah, dan pagar berpola ukir. Di tengah-tengah bangunan itu tergantung papan nama besar bertuliskan: "Kehidupan Lalu dan Kini".
Kehidupan Lalu dan Kini adalah nama sebuah kedai teh, sekaligus tempatku bekerja—aku, seorang gadis bernama Daun Tersembunyi, berusia sembilan belas tahun. Di kota ini, yang budaya minum tehnya sangat kental, kedai teh semacam itu jumlahnya tak terhitung. Kedai teh tentunya adalah tempat berbisnis, namun selain menjual teh, kami juga menjalankan bisnis lain; sebuah bisnis yang sangat khusus—bisnis yang berkaitan dengan kehidupan lalu dan kehidupan sekarang.
Entah kau pernah mendengar atau tidak, ada sebuah ungkapan: Jika ingin