Bab Satu: Kehidupan Lalu dan Sekarang

Perjalanan Mencari Kehidupan Masa Lalu Maaf, saya memerlukan teks sumber untuk dapat menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Silakan berikan bagian novel yang ingin diterjemahkan. 1178kata 2026-02-09 23:48:36

Pada bulan ketiga ketika kembang api bermekaran, aku pergi ke Selatan. Saat ini, kota yang terkenal di seluruh negeri karena keindahannya itu sedang berada dalam musim terindah sepanjang tahun: di mana-mana terlihat hijau segar, rerumputan tumbuh, burung-burung kecil beterbangan, di tepi danau dedaunan willow yang terjulur tampak lembut, sementara di pinggir jalan bunga-bunga persik sedang bermekaran dengan semaraknya. Angin musim semi bertiup lembut, membawa kelopak-kelopak bunga persik menari-nari di udara. Tak lama kemudian, permukaan jalan batu telah dipenuhi dengan warna merah muda yang indah; serpihan-serpihan warna yang masih menyimpan pesonanya, membuat orang enggan untuk melangkah di atasnya.

Jika berjalan terus di sepanjang jalan setapak berbatu hijau, melewati sebidang hutan bambu dan belok ke kiri, akan terlihat sebuah bangunan dua lantai bergaya Tiongkok dengan atap hitam, dinding merah, dan pagar berpola ukir. Di tengah-tengah bangunan itu tergantung papan nama besar bertuliskan: "Kehidupan Lalu dan Kini".

Kehidupan Lalu dan Kini adalah nama sebuah kedai teh, sekaligus tempatku bekerja—aku, seorang gadis bernama Daun Tersembunyi, berusia sembilan belas tahun. Di kota ini, yang budaya minum tehnya sangat kental, kedai teh semacam itu jumlahnya tak terhitung. Kedai teh tentunya adalah tempat berbisnis, namun selain menjual teh, kami juga menjalankan bisnis lain; sebuah bisnis yang sangat khusus—bisnis yang berkaitan dengan kehidupan lalu dan kehidupan sekarang.

Entah kau pernah mendengar atau tidak, ada sebuah ungkapan: Jika ingin mengetahui urusan kehidupan sebelumnya, lihatlah apa yang kau alami di kehidupan ini; sebab penderitaan yang kau alami sekarang adalah akibat benih yang kau tanam di kehidupan sebelumnya, dan hasilnya akan kau tuai di kehidupan selanjutnya. Jika benih itu telah tertanam, berapa pun banyaknya kelahiran dan reinkarnasi, kau tidak akan bisa menghindari hasilnya. Lalu, bagaimana cara mengatasinya? Mungkin ini adalah takdir yang tak terhindarkan dan sulit diubah, tetapi justru bisnis kami adalah kembali ke kehidupan di mana kau menanam benih itu, mencari akar takdirmu, lalu mengubahnya.

Bisnis ini tidak memungut bayaran, yang kami minta hanyalah setetes air matamu.

Mungkin ada yang akan bertanya, bukankah itu berarti harus menembus ruang dan waktu? Bagaimana mungkin? Ya, melintasi ruang dan waktu memang bukan perkara mudah bagi orang biasa, namun bagi dia, itu bukanlah masalah. Dia—adalah guruku, pemilik kedai teh ini.

Guruku memiliki nama yang sangat indah—Pengatur Nada, dan orangnya memang seindah namanya.

Sejak kecil aku diasuh oleh Pengatur Nada, maka secara alami aku menganggapnya sebagai orang terdekat dalam hidupku. Sejak aku mulai mengerti, aku jarang sekali melihat Pengatur Nada tersenyum, juga tidak pernah melihatnya marah atau kesal; ia selalu tampak tenang, seolah-olah tidak ada satu pun hal di dunia ini yang bisa membuatnya terguncang. Dalam ingatanku, hanya saat mengajariku ilmu komunikasi roh dan pengusiran arwah, kadang terlihat senyuman lembut di wajahnya. Selain nama Pengatur Nada dan ilmu komunikasi roh, aku tidak tahu apa pun tentang dirinya, termasuk umur maupun kebangsaannya.

Di kedai teh, biasanya hanya ada tiga orang: Pengatur Nada, aku, dan kakak seperguruanku, Burung Terbang. Walaupun namanya sangat bernuansa Timur, dia justru memiliki rambut pirang yang menyala dan mata biru seluas lautan. Aku tidak tahu dari mana asalnya; ketika aku diadopsi oleh Pengatur Nada, dia sudah lebih dulu berada di sana. Usianya empat tahun lebih tua dariku, dan dia adalah pemuda yang ceria dan hangat. Mungkin karena kepribadiannya itu, ia kerap berganti-ganti kekasih. Namun, sejak kecil tumbuh bersama, hubungan kami sangat erat, bahkan melebihi saudara kandung. Ia sangat berbakat, jauh lebih dahulu lulus dari bimbingan guru dibanding aku, dan selama ini dia yang selalu menembus ruang dan waktu untuk mencari akar kehidupan lampau para klien.

Kehidupan lampau para klien sangat beragam, tidak terbatas pada sejarah Tiongkok kuno; terkadang juga meliputi Eropa kuno atau Afrika kuno. Masalah bahasa bukan soal besar, setiap kali hendak berangkat, Pengatur Nada akan memberinya sebutir pil penerjemah. Dengan begitu, ke mana pun ia pergi—ruang mana pun, negara mana pun—tak akan terkendala bahasa. Namun, pil penerjemah itu hanya dapat bekerja di ruang dan waktu lain; di dunia sekarang sama sekali tidak berguna. Menyadari hal itu, aku pun terpaksa kembali rajin belajar bahasa Inggris, padahal semula aku kira, dengan satu pil penerjemah, aku bisa bebas berkelana di dunia nyata.

Tapi hari ini adalah hari istimewa bagiku, karena aku akhirnya resmi lulus. Mulai hari ini, aku juga bisa seperti kakak seperguruanku, menjelajahi lima ribu tahun sejarah. Dulu, setiap kali mendengarkan kisah-kisahnya tentang petualangan di ruang dan waktu lain, hatiku selalu merasa gatal ingin mencoba. Kini aku akhirnya bisa berdiri sendiri. Membayangkan itu saja sudah membuatku tak tahan untuk tersenyum bahagia. Aku sangat berharap kehidupan lampau klien pertamaku berasal dari masa yang menarik bagiku. Tidak, tidak boleh berpikir seperti itu; ini adalah pekerjaan, bukan perjalanan wisata—meski, kalau tugasnya sudah selesai, bermain sebentar tidak apa-apa, kan?