Konon, di mana pun Kaisar Hijau melangkah, rerumputan tumbuh hijau membentang, dan bunga-bunga bermekaran dengan semarak. Konon, dengan satu ayunan tangan Kaisar Hijau, pohon kering kembali bersemi, d
"Gila! Ini benar-benar gila!" Zhulihau mengamuk seperti seekor singa yang marah, meraung tanpa memedulikan citranya.
"Diam!" Zhushizhao menatap putranya dengan wajah kelam. "Dia adalah kakekmu, kamu tidak punya hak, dan seharusnya tidak mengatakan hal seperti itu. Jangan sampai ada yang kedua kali!"
"Ayah, itu warisan senilai satu miliar! Masa kita harus menyerahkan begitu saja pada gadis kecil yang bahkan belum pernah kita temui?" Zhulihau berteriak.
"Benar, Ayah, kalau kakek ingin beramal, menyumbang ke masyarakat, itu lain cerita. Tapi tiba-tiba muncul murid yang tidak jelas asalnya, ini bagaimana? Dalam keadaan apa kakek menulis surat wasiat itu?" Zhuliyan pun bersungut-sungut.
"Liyan, kakek paling sayang sama kamu semasa hidupnya, bagaimana kamu bisa berkata begitu?" Zhushizhao menatap putrinya dengan kesal.
"Kakak, jangan salahkan Lihau dan Liyan, memang dari awal ada yang aneh dengan hal ini. Bukan cuma anak-anak yang heran, kami pun sebagai putra dan putri merasa janggal," ujar seorang pria setengah baya yang duduk di sofa lain. Di sampingnya ada seorang wanita setengah baya yang wajahnya mirip dengannya... Pria itu bernama Zhushichang, wanita itu Zhushiying, saudara laki-laki dan perempuan Zhushizhao. Wajah mereka juga tak senang, tapi tidak seburuk Zhushizhao dan Zhulihau, karena mereka jelas tidak akan mendapat bagian dari warisan itu.
Di generasi kedua, hanya putra sulung dan putri kedua dari keluarga utama yang hadir; yang lainnya tidak, tapi itu bukan h