Song Chi atravessou para dentro do livro. A boa notícia é que virou filho de um milionário. A má notícia: é um vilão arrogante, dramático e suicida, um figurante descartável enviado pelos próprios pai
“Ya ampun, langit! Kenapa nasibku sebegini malang! Hanya karena membaca buku saja bisa masuk ke dalamnya. Masih adakah keadilan di dunia ini?” Song Chi memeluk kepalanya dan menangis tersedu-sedu.
Benar, Song Chi benar-benar masuk ke dalam buku.
Kabar baiknya, dia menjadi putra seorang taipan di ibu kota.
Kabar buruknya, dia adalah bocah sombong yang suka cari masalah dan hanya menjadi pion kecil yang mudah mati.
Karena kesalahannya sendiri, orang tua kandungnya memaksanya turun ke desa untuk menjadi tenaga muda sukarela, dan hidupnya pun pendek—di dalam cerita, ia bahkan belum menjalani setengah jalan sudah meninggal.
Sebelum masuk ke dalam buku, Song Chi sendiri adalah seorang anak muda lemah yang tidak bisa mengangkat atau menggendong apa pun, mana sanggup menahan kerasnya hidup di desa pada tahun 80-an.
Pemilik tubuh aslinya pun, selain paras yang cantik, tak punya kelebihan lain.
Betapa getirnya hati Song Chi saat itu! Ia berharap bisa menghajar dirinya sendiri agar bisa kembali ke dunia asalnya.
“Aku rindu ponselku, konsol gameku, camilanku, dan anjing kesayanganku di rumah.”
Song Chi meringkuk di pojok gerobak sapi, terisak-isak dengan hidung meler. Ia mengenakan celana pendek selutut dan kaus putih, kulitnya putih mulus, tubuhnya kecil dan rapuh, benar-benar seperti bangsawan kecil yang halus. Pemandangan ini begitu bertolak belakang dengan gerobak sapi tua yang berderit dan reyot.
Tak heran, para ibu-ibu di atas gerobak menatapnya tanpa berkedip, memandang dengan rasa heran seolah menonton monyet di keb