Bencana besar di Alam Dewa terjadi. Huo Yuhao menyeret Tang San masuk ke dalam arus waktu yang kacau, keduanya lenyap bersama. Ketika membuka matanya lagi, ia telah kembali ke masa kecilnya. “Aku har
“Kekuatan jiwa bawaan... tingkat satu.”
“Tsk.”
Suara decakan meremehkan terdengar jelas di telinga, namun sama sekali tidak mampu mengusik perhatian Huo Yuhao. Saat itu, ia hanya terpaku menatap jendela di sampingnya.
Pakaian kasar yang agak kebesaran membungkus tubuh kurusnya, bahkan kaca jendela berwarna-warni tak mampu menyembunyikan wajahnya yang pucat. Namun, sepasang mata biru lautnya justru memancarkan kedalaman yang tak seperti milik anak-anak. Setelah terdiam beberapa saat, ia tiba-tiba tersenyum.
“Martabat berubah, kekuatan jiwa bawaan tingkat satu... Dasar bocah ini, masih bisa tertawa.”
“Haha, setidaknya masih lebih baik daripada tidak punya kekuatan jiwa sama sekali, bukan?”
“Bagaimanapun juga, ia hanya anak seorang pelayan, bisa memiliki kekuatan jiwa saja sudah mendapat berkah dari Yang Mulia Adipati.”
Seiring dengan ucapan-ucapan merendahkan itu, energi tak kasat mata perlahan memancar dari tubuh mereka, terurai bagai benang halus dan meresap masuk ke dahi Huo Yuhao. Dosa asal yang disebut kesombongan pun terhimpun dalam satu gumpalan cahaya abu-abu di ruang batinnya.
Tampak jelas, rona kelabu yang suram itu perlahan terhapus layaknya debu yang tersapu, memperlihatkan dasar biru gelap yang dalam.
Asal muasal kesombongan itu mulai terbangun kembali.
Apakah ini... sesuatu yang kubawa dari kelahiran kembali?
Mengingat kembali peristiwa masa lalu saat ia dan Tang San sama-sama musnah, seberkas cahaya melintas di mata Huo Yuhao. Ia menyadari bahwa sebagian besar dosa asal kesombongan itu bukanla