Bab 21: Sebab dan Akibat
Dia bahkan belum sempat berlari dua langkah, ketika dua anak serigala hitam yang tadinya terkapar tak bergerak seolah tak bernyawa tiba-tiba bangkit dan masing-masing menggigit satu kaki Mudan.
"Aduh!"
Mudan berteriak keras. Karena kedua kakinya digigit dan dipeluk oleh anak-anak serigala itu, ia langsung tersungkur ke tanah dengan wajah mencium lumpur. Saat menoleh dan melihat pelakunya adalah kedua anak serigala tersebut, ia berseru kaget.
"Bagaimana mungkin kalian masih hidup?! Padahal kalian sudah kubunuh dengan tanganku sendiri!"
Begitu Mudan mengakui perbuatan jahatnya, para beastman sontak menjadi murka.
"Mudan! Mengapa kau melakukan hal sekeji ini! Dua anak serigala ini begitu penurut dan lucu. Sekalipun mereka bukan anak dari klan ular kita, mereka adalah anak dari sang kepala suku! Bagaimana bisa kau tega menyakiti dua makhluk yang baru lahir beberapa hari!"
"Lagipula, kau berani memfitnah kepala suku! Kau bahkan mencoba mengadu domba kepala suku dengan pasangannya! Mudan, kepala suku memperlakukanmu dengan sangat baik, bagaimana bisa hatimu sekejam itu?!"
"Untung saja ular hijau kecil dan kedua anak serigala itu tidak mati, jika tidak, hari ini kami pasti akan menghabisimu!"
Para beastman terus mencaci maki Mudan, dan para jantan yang memiliki kemampuan khusus segera menyerangnya. Berbagai kekuatan seperti elemen air dan petir dihujamkan ke tubuh Mudan hingga ia gemetar tersengat listrik.
Mudan menggeretakkan giginya, "Bian Qi memperlakukanku dengan baik? Omong kosong! Kalian semua telah ditipu olehnya! Kalian benar-benar mengira dia adalah beast yang baik dan kepala suku yang hebat? Sama sekali tidak! Pasanganku, Yue Hu, mati karena ulahnya! Dialah yang membunuh Yue Hu, tapi dia malah memfitnah makhluk buas sebagai pelakunya! Bian Qi! Klan Macan Putih tidak akan melepaskanmu! Cepat atau lambat mereka akan datang menuntut balas atas kematian Yue Hu!"
"Yue Hu? Aku ingat, dia adalah pasangan Mudan. Tapi Yue Hu memang dibunuh oleh makhluk buas, apa hubungannya dengan kepala suku? Mudan, siapa yang memberitahumu bahwa Yue Hu dibunuh oleh kepala suku?"
"Benar, saat itu aku melihat sendiri makhluk buas membunuh Yue Hu. Kepala suku bahkan mencoba menyelamatkannya, tapi gagal dan hampir terluka oleh makhluk buas itu."
Perkataan para beastman sempat membuat Mudan terkejut, namun ia tetap teguh pada pendiriannya.
"Tidak mungkin! Kalian membohongiku! Kalian semua memihak Bian Qi, tentu saja kalian akan membelanya! Bian Qi-lah yang membunuh Yue Hu! Saat itu Yue Hu menggenggam erat sisik milik Bian Qi, itulah buktinya!"
Bian Qi mengerutkan kening mendengar hal itu, "Jadi begitu cara sisikku sampai ke tanganmu. Saat itu aku pergi menyelamatkan Yue Hu, lehernya sudah digigit oleh makhluk buas. Saat ia meronta, ia tidak sengaja mencabut sisikku. Aku tidak menyadarinya saat itu, baru belakangan aku tahu ada satu sisik yang hilang, tapi aku tidak ingat ke mana perginya. Sekarang kau mengatakannya, semuanya jadi masuk akal. Lagi pula, meskipun Yue Hu memegang sisikku, bagaimana kau bisa begitu yakin bahwa akulah yang membunuhnya? Atau, apakah ada seseorang yang mengatakan sesuatu padamu?!"
Suara Bian Qi berangsur dingin dan tajam. Tatapan matanya yang menusuk mengunci Mudan, membuatnya tak mampu menghindar dari tekanan yang terpancar darinya.
"Mudan, sebenarnya siapa yang memberitahumu bahwa kepala suku yang membunuh Yue Hu? Katakan sekarang!"
"Benar, Mudan. Beast itu pasti ingin mengadu domba kau dengan kepala suku agar kau mengkhianatinya! Lihat apa yang kau lakukan sekarang, bukankah itu pengkhianatan? Lebih parahnya lagi, beast itu ingin memicu permusuhan antara klan ular kita dengan klan Macan Putih!"
Para beastman menyadari keseriusan masalah ini dan mulai merasa cemas. Mudan yang sejak awal pendiriannya goyah, kini mulai ragu setelah mendengar kata-kata orang banyak. Benarkah bukan Bian Qi yang membunuh Yue Hu? Apakah Yue Hu benar-benar dibunuh oleh makhluk buas?
"Bian Qi, beranikah kau bersumpah demi Dewa Beast bahwa bukan kau yang membunuh Yue Hu?!" tanya Mudan dengan mata merah padam.
Wajah Bian Qi tampak muram, "Tentu saja aku berani, tapi tidak perlu. Sampai di titik ini, percaya atau tidaknya kau padaku sudah tidak penting lagi. Kau hanya perlu mengatakan, siapa yang memberitahumu bahwa beast yang membunuh Yue Hu adalah aku."
Melihat sikap Bian Qi yang demikian, Mudan mulai memercayainya. Seseorang yang tidak merasa perlu menjelaskan atau peduli apakah orang lain percaya atau tidak, justru adalah orang yang layak dipercaya.
Bahu Mudan merosot, "Awalnya kerabat Yue Hu memberitahuku bahwa ada kejanggalan pada kematiannya dan memintaku menyelidikinya. Tapi saat itu aku merasa Yue Hu memang dibunuh oleh makhluk buas, jadi tidak perlu diselidiki. Mengenai sisikmu di tangan Yue Hu, aku mendengar dari kerabatnya bahwa kau memang mencoba menyelamatkannya tapi gagal. Aku menduga sisik itu tercabut saat kau berusaha menolongnya. Namun, belakangan muncul seorang beast yang mengatakan bahwa kematian Yue Hu ada hubungannya denganmu dan kita semua telah ditipu. Dia mengaku melihat sendiri kau membunuh Yue Hu dan memfitnah makhluk buas. Entah mengapa, saat itu aku langsung memercayainya dan memberitahu kerabat Yue Hu. Para beast dari klan Macan Putih pun sedang mencari kesempatan untuk menuntut balas atas kematian Yue Hu."
"Seorang beast memberitahumu? Seperti apa rupa beast itu?" desak Bian Qi.
Mudan berusaha mengingat dan baru saja hendak membuka mulut, tiba-tiba sebuah bilah es entah dari mana melesat menembus pelipis Mudan!
Mudan tersentak hebat, seketika itu juga ia mengembuskan napas terakhir dan tubuhnya jatuh terjerembap ke belakang!
Melihat kejadian itu, tatapan Bian Qi menajam. Ia menitipkan ular hijau kecil itu, lalu segera mengejar ke arah datangnya bilah es tersebut!
Para beastman lain tampak ketakutan melihat kondisi Mudan.
"Mudan mati?"
"Apakah dia dibunuh oleh beast yang diceritakan Mudan tadi? Kalau tidak, tidak mungkin kebetulan seperti ini."
Bei Mo memeluk kedua anak serigala itu dengan ular hijau kecil yang melingkar di lengannya. Ia mengerutkan kening memandang bilah es yang membunuh Mudan tadi.
Bilah es...
Setelah para beastman menyingkirkan jasad Mudan, Bei Mo membawa kedua anak serigala dan ular hijau kecil itu kembali ke dalam gua. Kedua anak itu terus menempel pada ibunya dan tak mau turun, bahkan Bei Yi yang biasanya tenang dan dewasa pun ikut merengek manja.
Bei Mo mengelus kedua anaknya yang berbulu lembut itu, hatinya masih belum tenang. Sebelumnya, saat ia pergi ke gunung belakang dan melihat kedua anaknya, ia benar-benar mengira mereka sudah kehilangan napas. Untungnya, sistem muncul dan menjelaskan semuanya padanya.
Kejadiannya kurang lebih sama dengan apa yang dikatakan Mudan. Mudan menyerang kedua anak itu terlebih dahulu dengan niat mencekik mereka. Sistem melindungi kedua anak itu dengan memasang semacam ilusi, membuat Mudan mengira ia benar-benar telah membunuh mereka. Saat Mudan menyerang ular hijau kecil, sistem melakukan hal yang sama.
Mengenai bagaimana ular hijau kecil itu bisa mengeluarkan kekuatan, sistem mengatakan mungkin karena ia terstimulasi setelah melihat kedua saudara serigalanya "dibunuh" oleh Mudan. Setelah Mudan mengira telah membunuh semuanya, sistem membuat mereka pingsan sementara menunggu kedatangan Bei Mo. Namun, karena sistem salah memasukkan perintah, sistem itu sendiri mengalami gangguan koneksi, itulah sebabnya Bei Mo tidak bisa menghubunginya.