Empat Ratus Ribu Kata yang Terlambat—Sebuah Renungan

Nyanyian Perang Sang Dewa Naga Tanpa sela, mempermainkan insan dunia 476kata 2026-03-10 14:42:46

Buku ini telah kutulis selama tiga bulan hingga saat ini. Saat menulis, adalah masa yang paling membahagiakan bagi Wu Jian; terkadang, di tengah-tengah penulisan, aku bisa tertawa terbahak-bahak, dan tentu saja, ada pula saat-saat ketika aku begitu tersentuh oleh kata-kata sendiri hingga terhanyut dalam emosi. Tulisan yang dahulu hanyalah rangkaian kata-kata tak beraturan, kini setidaknya sudah bisa disebut sebagai kalimat yang berkesinambungan. Segala pengalaman di dalamnya tak mudah untuk diungkapkan satu per satu.

Aku masih ingat, pada awalnya, seorang teman berkata bahwa buku yang kutulis sangat sederhana. Hal itu memang benar; hingga kini pun, Wu Jian merasa bahwa tulisannya masih sederhana. Mungkin, dan hanya mungkin, ketika menulis buku berikutnya, aku akan lebih banyak mencurahkan usaha pada pengolahan alur cerita.

Menulis buku sebenarnya seperti memotret. Orang biasa hanya akan mengambil gambar sesuai keinginan, dan soal hasilnya, walaupun ingin mengejar kualitas, tekniknya tidak memadai. Sementara mereka yang sedikit memahami teknik, akan mengambil gambar dengan fokus tertentu, lalu memolesnya dengan Photoshop; hasilnya memang tak sebanding karya para maestro, namun tetap patut diapresiasi. Adapun para maestro sejati, kebanyakan memandang rendah proses editing; karya yang mereka hasilkan dengan tangan sendiri sudah merupakan seni dengan standar tinggi, dan proses penyuntingan hanyalah pemanis belaka. Saat ini, Wu Jian masih memotret hal-hal yang ingin dipotret, dengan kendali yang kurang sempurna, dan ritme yang belum begitu padat.

Begitu banyak yang telah kukatakan, bukan untuk menyampaikan sesuatu secara khusus, hanya sekadar merenung. Awalnya ingin menulis ketika jumlah kata mencapai empat ratus ribu, sayangnya, beberapa waktu lalu pekerjaan begitu menyita waktu hingga tak sempat menulis. Beberapa hari ini hujan petir terus mengguyur, tiba-tiba saja aku tergerak untuk menulis, sekadar mengoceh tanpa tujuan. Mohon maklum, wahai para pembaca.