Bab 15 Tidak Bisa Bangun dari Tempat Tidur? Belilah Suplemen Ginjal!
Tepat ketika suara perbincangan memenuhi ruang kelas, suara Ibu Guru Li bergema ke seluruh ruangan.
"Semuanya diam! Pelajaran dimulai!"
Seketika, suara gaduh di kelas pun langsung sunyi setelah teriakan Ibu Guru Li menggema. Melihat seluruh kelas tenang, Ibu Guru Li melangkah ke depan kelas dan berkata,
"Ada pemberitahuan dari atas, besok seluruh murid kelas delapan yang telah menjadi petarung akan bersama-sama pergi ke Abyss tingkat Perunggu untuk berlatih. Jika kalian cukup beruntung, bahkan bisa mendapatkan inti binatang yang sesuai dengan elemen kekuatan kalian!"
"Jadi, pelajaran kali ini kita akan membahas tentang lorong Abyss, atau yang juga disebut ruang dimensi!"
Begitu kata-kata Ibu Guru Li selesai, seluruh murid di kelas menunjukkan ekspresi terkejut.
Perlu diketahui, tahun-tahun sebelumnya tak pernah ada pemberitahuan seperti ini.
"Baiklah, mari kita bahas terlebih dahulu apa itu lorong Abyss..."
Setelah itu, seluruh siswa di kelas pun larut dalam penjelasan guru mereka.
Tak terasa, satu pelajaran pun berlalu.
Dalam waktu sesingkat itu, Jiang Yu pun mulai memahami apa sebenarnya Abyss itu!
Abyss, secara sederhana adalah sebutan lain untuk lorong menuju dunia lain.
Abyss juga memiliki tingkatan dan elemen, sama seperti level dan kekuatan para petarung.
Karena lorong Abyss tergolong berbahaya, maka Negeri Hua tidak menempatkannya di dalam kota.
Sebaliknya, lorong itu ditempatkan di luar kota dan dijaga oleh Pasukan Api Naga Negeri Hua!
Selain Abyss, dari penjelasan guru, Jiang Yu juga mendengar istilah lain: "Abyss Iblis!"
Menurut Ibu Guru Li, Abyss Iblis jauh lebih menakutkan daripada Abyss biasa, dan bukan sesuatu yang bisa mereka sentuh sekarang.
Sebenarnya, yang paling ingin diketahui Jiang Yu saat ini adalah, apakah di sekitar Kota Jiang ada lorong Abyss tipe ruang dimensi!
Jika ada, maka kemampuan ruang miliknya akhirnya akan berguna!
Jika tidak, maka ia hanya bisa berharap mendapatkannya di kesempatan lain.
"Baiklah, pelajaran kali ini sampai di sini. Saya ingatkan sekali lagi, besok pagi pukul delapan, kita akan berangkat tepat waktu menuju Abyss! Jangan ada yang terlambat!"
Setelah berkata demikian, Ibu Guru Li pun perlahan meninggalkan kelas.
"Bro Yu, aku dengar Abyss itu penuh bahaya. Kita perlu membentuk tim, tidak?"
"Dasar pengecut!"
"Berani sekali kamu bicara begitu!"
"Ayo, kita hadapi bersama, teman-teman! Huaaak!"
Begitu Ibu Guru Li pergi, kelas pun langsung gaduh bukan main.
Mendengar kegaduhan itu, Jiang Yu pun merasa sulit menahan diri.
"Bro Se, mau kuberi tahu diam-diam, di kelas kita cuma kamu yang warnanya hijau!"
Jiang Yu memandang ke arah Hao Se di sampingnya, dan suaranya terdengar ke seisi kelas.
[Ding! Hao Se merasa malu padamu! Serangan kritis berhasil! Poin latihan +1!]
[Ding! Yuan Xinxin merasa malu padamu! Nilai emosi +666!]
[Ding! Zhou Tongtong merasa malu padamu! Nilai emosi +444!]
Mendengar suara sistem yang nyaring di dalam benaknya, Jiang Yu pun tertawa tak tahu malu, "Hehehe!"
Di sampingnya, Jiang Xiaoyan berkata, "Kakak macam apa ini..."
Waktu berlalu cepat, masa-masa tak tahu malu pun melesat begitu saja.
Dalam sekejap, malam pun tiba.
Di jalan tol, sebuah mobil sedan hitam melaju kencang.
"Aduh, anakku... mengapa kau meninggalkanku?" Terdengar suara pilu dari Qian Zihau di kursi pengemudi.
Orang tua yang duduk di belakang sedikit terkejut, "Ada apa?"
Qian Zihau terisak, "Tuan Feng, a- anak saya sudah tiada!"
Jelas, Qian Zihau adalah ayah dari Qian Shao.
"Oh? Di Kota Jiang, masih ada yang berani membunuh anakmu? Nanti setelah kembali, urus sendiri."
"Siap, Tuan!"
Saat itu, tatapan Qian Zihau dipenuhi hasrat membunuh!
Ia ingin orang yang membunuh anaknya membayar harga darah!
Tidak, bukan hanya membayar darah, tapi harus tercabik-cabik!
Tak ada yang menyangka, Qian Zihau, yang begitu terkenal di Kota Jiang, ternyata hanya menjadi sopir untuk satu orang.
Jika orang Kota Jiang tahu, pasti akan terkejut luar biasa.
Seorang petarung tingkat Platinum, hanya menjadi supir?
Keesokan harinya...
Di SMA No.1 Kota Jiang.
Semua murid kelas delapan dua menatap bus besar di depan mereka.
Di mata mereka, ada yang tampak bersemangat.
Tentu saja, ada juga yang terlihat cemas.
"Saya ingatkan sekali lagi, setelah masuk ke dalam Abyss, jangan terpisah dari kelompok! Jangan sampai ada yang tertinggal!"
"Walaupun kita hanya menuju Abyss tingkat Perunggu, tetap ada kemungkinan bertemu dengan binatang buas tingkat Perunggu puncak. Saya tidak ingin ada satu pun dari kalian yang celaka!"
Suara Ibu Guru Li terdengar jelas di telinga semua orang.
"Siap!"
Mendengar jawaban kompak itu, Ibu Guru Li mengangguk puas.
Di barisan paling belakang,
Hao Se menatap Jiang Yu di depannya sambil tertawa pelan, "Bro Yu, aku penasaran warna baju yang dipakai guru kita!"
Jiang Yu melirik malas, "Guru itu petarung tingkat Perak. Kalau aku berani lihat, beliau pasti langsung tahu. Apa kau mau mampus?"
"Katanya warna itu semu, semu itu warna. Tapi kau sih, tiap ada waktu langsung ingin tahu warna!"
Hao Se pun memerah, "Mana ada, aku cuma penasaran saja. Eh, lihat itu Li Guanghui, kenapa dia menatapmu seperti orang sembelit?"
Jiang Yu sempat tertegun, tapi saat melihat Li Guanghui yang tak jauh dari situ, ia menyipitkan mata.
Jelas, Li Guanghui sudah menyimpan dendam setelah dua kejadian sebelumnya!
"Emmm... mungkin dia memang sembelit." Jiang Yu pun tiba-tiba paham.
Meski ia tahu apa yang terjadi, tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk bicara pada Hao Se.
Ia menoleh ke Jiang Xiaoyan, dan mendapati adiknya juga sedang menatapnya...
Lalu, keduanya saling berpandangan.
Tiga detik kemudian, Jiang Xiaoyan lebih dulu memalingkan wajah.
Pipi gadis itu memerah, bahkan sorot matanya tampak sedikit gugup.
Melihat itu, Jiang Yu pun terkesima, "Kenapa aku malah terpukau ya? Lelaki sejati, benar! Lelaki sejati!"
Ia menggelengkan kepala dan bergumam dalam hati.
"Baiklah, waktunya sudah tiba, silakan naik ke bus dengan tertib!" suara Ibu Guru Li terdengar.
Mendengar itu, para siswa pun naik ke bus sesuai urutan.
Di dalam bus.
Jiang Xiaoyan menatap tajam ke arah Hao Se yang duduk di samping Yuan Xin, matanya langsung berubah dingin.
"Kamu! Pergi!"
Hao Se terkejut, "Hah? Maksudnya apa?"
"Kamu suruh aku pergi? Benar-benar suruh aku pergi? Hah!"
"Pergi ya pergi!"
Setelah berkata demikian, Hao Se langsung bangkit dan duduk di samping Jiang Yu di bangku belakang!
Jiang Yu mengacungkan jempol, "Soal keberanian, kau memang jagonya! Kalau aku bicara begitu ke dia, besok pasti aku tak bisa bangun dari ranjang."
Hao Se pun tertawa, "Beli saja suplemen ginjal!"
Jiang Yu: Tanda tanya besar...
()