Kakekku selalu berkata bahwa aku adalah "Penguasa Usia yang Menentang Umur Panjang", dan setiap ulang tahunku, beliau mewajibkanku pulang ke rumah. Namun, suatu tahun saat hujan deras mengguyur, aku t
Sejak aku bisa mengingat, hal yang paling aku takuti adalah “memanjangkan ekor”! Zaman dulu, pengobatan belum maju, anak-anak sulit dirawat dan mudah meninggal, jadi para orang tua biasanya memberi nama kecil pada anak-anak mereka dengan nama-nama yang buruk seperti kucing atau anjing, agar saat Malaikat Maut memanggil nama, mereka bisa terhindar dari kematian.
Itulah sebabnya, di tempat asalku, ulang tahun anak-anak disebut sebagai “memanjangkan ekor”! Ini melambangkan ekor kucing atau anjing yang semakin panjang, tanda bahwa si anak bertambah usia setahun lagi.
Pada umumnya, anak-anak pasti senang merayakan ulang tahun, karena di hari itu mereka bisa makan enak, dan walaupun berbuat salah sedikit, orang dewasa di rumah tidak akan mempermasalahkan.
Namun, ketika giliran ulang tahunku, keberuntungan itu tidak pernah berpihak padaku.
Sejak aku mengingat, setiap tahun saat ulang tahun, aku seperti seorang tahanan yang harus dikurung di kamar sendiri dan tidak boleh melangkah keluar. Kakek berkata, nasibku adalah “umur dipotong oleh dewa tahun”, setiap kali ulang tahun adalah bencana besar yang harus aku lewati.
Saat kecil, aku percaya sepenuhnya pada omongan kakek, namun seiring bertambahnya usia, aku mulai sadar bahwa istilah umur dipotong dewa tahun itu hanya dipakai untuk menakut-nakutiku saja.
Namun, aturan harus tetap tinggal di rumah saat ulang tahun seperti hukum besi yang tak pernah berani kulanggar.
Hingga usiaku dua belas tahun, aku meninggalkan desa, pergi ke kota kabupaten yang jaraknya puluhan kilometer untuk berseko