Bab 001: Tuan Usia Mengalahkan Umur dengan Ekor Panjang

Keluarga Wewangian Jenazah Kelopak mata terasa berat, seolah-olah ingin terpejam. 3048kata 2026-02-07 19:37:13

Sejak aku bisa mengingat, hal yang paling aku takuti adalah “memanjangkan ekor”! Zaman dulu, pengobatan belum maju, anak-anak sulit dirawat dan mudah meninggal, jadi para orang tua biasanya memberi nama kecil pada anak-anak mereka dengan nama-nama yang buruk seperti kucing atau anjing, agar saat Malaikat Maut memanggil nama, mereka bisa terhindar dari kematian.

Itulah sebabnya, di tempat asalku, ulang tahun anak-anak disebut sebagai “memanjangkan ekor”! Ini melambangkan ekor kucing atau anjing yang semakin panjang, tanda bahwa si anak bertambah usia setahun lagi.

Pada umumnya, anak-anak pasti senang merayakan ulang tahun, karena di hari itu mereka bisa makan enak, dan walaupun berbuat salah sedikit, orang dewasa di rumah tidak akan mempermasalahkan.

Namun, ketika giliran ulang tahunku, keberuntungan itu tidak pernah berpihak padaku.

Sejak aku mengingat, setiap tahun saat ulang tahun, aku seperti seorang tahanan yang harus dikurung di kamar sendiri dan tidak boleh melangkah keluar. Kakek berkata, nasibku adalah “umur dipotong oleh dewa tahun”, setiap kali ulang tahun adalah bencana besar yang harus aku lewati.

Saat kecil, aku percaya sepenuhnya pada omongan kakek, namun seiring bertambahnya usia, aku mulai sadar bahwa istilah umur dipotong dewa tahun itu hanya dipakai untuk menakut-nakutiku saja.

Namun, aturan harus tetap tinggal di rumah saat ulang tahun seperti hukum besi yang tak pernah berani kulanggar.

Hingga usiaku dua belas tahun, aku meninggalkan desa, pergi ke kota kabupaten yang jaraknya puluhan kilometer untuk bersekolah di SMP. Karena jaraknya jauh, aku harus tinggal di asrama dan jarang pulang.

Awalnya aku kira, akhirnya aku bisa lepas dari kutukan tahanan ulang tahun itu. Tapi ternyata, kakek sudah menegaskan satu aturan keras padaku: setiap tahun saat ulang tahun, apapun yang terjadi, aku harus pulang dan merayakannya di rumah.

Meskipun aku merasa aturan itu konyol, aku tetap tak berani melawan.

Saat kelas dua SMP, tepat di hari ulang tahunku turun hujan deras, sampai lapangan sekolah tergenang, jadi aku tidak pulang. Saat itu di sekolah tidak ada telepon, jadi aku juga tidak memberi kabar ke rumah, berpikir mereka pasti akan mengerti.

Tak disangka, malam itu terjadi hal aneh!

Malam itu, aku sedang tidur di asrama, tengah malam tiba-tiba aku merasakan sakit luar biasa di punggung, langsung terbangun. Dengan mata yang masih mengantuk, aku membuka mata, dan seketika seluruh tubuhku merinding, bulu kuduk berdiri.

Di samping tempat tidurku, entah sejak kapan ada beberapa sosok hitam pekat mendekat ke arahku, sebentar lagi mereka akan menerkamku!

Jarak mereka denganku tak sampai satu lengan. Cahaya di asrama temaram, namun aku samar-samar bisa melihat wajah mereka.

Kulit wajah mereka membusuk, tulang wajah pucat terlihat jelas, kulit yang membusuk dipenuhi lubang-lubang sebesar kacang hijau, dari lubang itu keluar nanah busuk dan belatung yang menjulur keluar, benar-benar menjijikkan.

Ekspresi wajah mereka semua penuh kebuasan dan kebencian, seperti ingin langsung memakanku!

Melihat pemandangan semengerikan itu, aku tak bisa menahan diri untuk berteriak.

Teriakanku membangunkan semua teman sekamarku.

Saat itu pula, dari luar terdengar suara ketukan pintu, dan sosok-sosok asing itu tampak terkejut, buru-buru melompat turun dari balkon.

Melihat kejadian barusan, jantungku berdetak kencang, nyaris meloncat keluar dari dada, aku terengah-engah menahan takut.

Saat itu, suara ketukan pintu masih berlanjut, teman sekamarku yang ketakutan buru-buru membuka pintu.

Begitu pintu dibuka, terdengar suara orang di luar berteriak marah ke dalam kamar, "Di mana Li Han! Mana Li Han!"

Aku melihat, yang masuk ternyata kakek, di belakangnya ayah, serta paman kedua dan ketiga. Tubuh mereka basah kuyup oleh hujan, di tangan mereka memegang tongkat, raut wajah mereka gelap, seolah siap bertarung dengan siapa pun.

Kakek sangat galak, sejak kecil aku memang takut padanya, sekarang aku semakin ketakutan.

"Kakek," panggilku dengan suara gemetar.

Belum selesai ucapanku, kakek langsung menghampiri dan tanpa basa-basi menamparku dengan keras.

Tamparan itu membuatku terjatuh ke lantai, kepalaku berputar-putar, telingaku berdengung, hampir saja aku pingsan.

Kakek menarikku bangun dan membentak, "Sudah berapa kali kakek bilang, kenapa hari ini tidak pulang!"

Aku menjawab dengan kepala pusing, "Ka-karena... hari ini hujan..."

"Hujan!" Kakek membentak garang, "Sekalipun hujan deras, hari ini kamu harus pulang, mengerti tidak!"

"Me-mengerti..." ujarku sambil menangis.

Barulah kakek melepaskanku. Selama itu, ayahku diam saja, ekspresi wajahnya sangat rumit.

Malam itu, kakek, ayah, dan para paman menginap di asrama, bahkan tidak tidur, hanya duduk berjaga semalaman.

Aku berbaring di ranjang, tak bisa menahan rasa sedih. Hanya karena ulang tahun tidak pulang, aku diperlakukan seperti itu oleh kakek, benar-benar tidak masuk akal. Walaupun biasanya kakek baik padaku, saat itu aku benar-benar membencinya!

Kemudian aku teringat bayangan hitam yang tadi berdiri di samping tempat tidurku.

Sampai sekarang, wajah mereka yang mengerikan dan hawa dingin yang mereka pancarkan masih terpatri di ingatanku, menimbulkan ketakutan yang sangat dalam di hati.

Sebuah pikiran mengejutkan melintas di benakku.

Jangan-jangan, mereka yang masuk tadi adalah hantu!

Begitu pikiran itu muncul, aku langsung merinding, tak berani memikirkannya lagi.

Dalam gelap, aku meraba punggungku, di sana ada gambar bunga teratai!

Ini adalah rahasiaku. Sejak kecil aku tahu di punggungku ada gambar teratai merah sebesar kepalan tangan, sangat nyata dan hidup.

Ibu bilang, bunga teratai itu diminta dari seorang pertapa. Aura teratai itu kuat, bisa menolak roh jahat dan melindungiku panjang umur.

Awalnya aku tak percaya, tetapi kalau tadi bukan karena sakit yang terasa dari teratai di punggungku, aku pasti tidak akan sempat terbangun. Dalam situasi tadi, jika aku terlambat bangun satu detik saja, mungkin akibatnya tak bisa kubayangkan.

Tampaknya, bunga teratai itu memang benar-benar berguna.

Keesokan paginya, saat aku bangun, kakek dan ayah beserta paman sudah pergi entah sejak kapan, di samping bantalku tertinggal uang lima puluh yuan untuk biaya hidup.

Itulah satu-satunya pengalaman ulang tahun yang tidak kuhabiskan di rumah. Sejak itu, aku tak pernah berani melanggar perintah kakek. Setiap ulang tahun, aku pasti pulang.

Seiring bertambahnya usia, rasa penasaranku terhadap hal ini semakin besar. Aku merasa pasti ada alasan khusus di balik permintaan kakek yang tidak masuk akal itu.

Namun, setiap kali aku menanyakan hal ini, baik kakek maupun ayah langsung memasang wajah serius dan melarangku bertanya lebih lanjut.

Hingga ulang tahunku yang ke delapan belas, akhirnya terjadi sebuah peristiwa besar, dan peristiwa inilah yang benar-benar mengubah jalan hidupku!

Seminggu sebelum ulang tahun ke-18, kakek sudah datang ke sekolah menemuiku, menegaskan bahwa hari ulang tahun nanti aku harus pulang apapun yang terjadi.

Hari itu, hujan deras kembali turun, namun kali ini aku tidak berani melanggar perintah kakek, jadi sehari sebelumnya aku sudah pulang ke rumah meski harus menerobos hujan lebat.

Hujan turun sepanjang malam, dan keesokan harinya, hari ulang tahunku, hujan masih belum reda.

Seharian penuh aku hanya berdiam di kamar membaca buku, tidak berani keluar.

Begitulah aturan yang ditetapkan kakek, setiap ulang tahun aku harus mengurung diri di kamar selama sehari semalam, dilarang melangkah keluar sedetik pun.

Dulu waktu masih kecil aku tidak terlalu merasakannya, tapi semakin besar, setiap kali ulang tahun aku merasa seperti tahanan, batinku benar-benar tertekan.

Menjelang senja, hujan akhirnya berhenti.

Namun, tak lama setelah hujan reda, aku tiba-tiba merasakan sakit luar biasa di punggung.

Awalnya, rasa sakit itu masih bisa kutahan, tapi lama-lama semakin parah, seperti ada yang menusuk punggungku dengan pisau lalu menguliti tulangku dari dalam.

Aku nyaris pingsan karena sakit, akhirnya aku tak tahan lagi dan menjerit kesakitan.

Teriakanku langsung mengundang kakek dan ayah.

Melihat keadaanku, kakek langsung terkejut, "Celaka! Benda itu akan pecah! Jing Hong, cepat panggil Guru Besar Liu!"

Ayah tanpa berani membantah, langsung mengendarai motor keluar dari halaman rumah.

Saat itu, aku merasa seluruh punggungku seperti robek dari tengah, aku melepas bajuku dan bercermin.

Betapa terkejutnya aku saat melihat bunga teratai yang tadinya hanya sebesar kepalan tangan di punggungku, kini telah berubah sebesar kipas, hampir menutupi seluruh punggungku.

Bukan hanya itu, kelopak teratai itu tampak seperti terbakar, merah menyala.

Saat kupegang, aku terkejut, karena yang kudapatkan adalah segenggam darah merah segar!...