Bab Dua: Hujan Ungu
"Xiao Jia, tidak ada penyusup, kan?"
Chen Mu kembali ke kediamannya, sebuah rumah kecil, lalu bertanya kepada sesosok mayat hidup yang berjaga di ambang pintu. Xiao Jia tetap diam di posisinya, lalu menyingkir untuk memberi jalan setelah melihat Chen Mu kembali. Chen Mu mengeluarkan kunci, membuka pintu, dan melangkah masuk ke dalam rumah.
Area sekitar sudah dibersihkan dari mayat hidup biasa. Jika pun masih ada yang berkeliaran, kemungkinan besar itu hanyalah mayat hidup pendatang dari wilayah lain. Dengan kekuatan Xiao Jia, menghadapi ancaman semacam itu seharusnya bukan masalah besar. Tiga mayat hidup mengikuti langkah Chen Mu masuk ke dalam rumah.
"Mulai hari ini, kau adalah anggota baru kami. Aku akan memanggilmu Xiao Yi," ucap Chen Mu kepada mayat hidup muda itu sambil bersandar di sofa.
Mayat hidup muda tersebut terpaksa menerima nama barunya. Lagipula, ia kini berada di bawah kendali Chen Mu dan telah menjadi salah satu peliharaannya. Bagi Chen Mu, nama hanyalah label yang penting mudah diingat.
"Sudah dua bulan, sepertinya sudah waktunya untuk pindah tempat," gumam Chen Mu sembari mengeluarkan sepotong roti dari tasnya dan mulai memakannya.
Sudah sekitar dua bulan sejak ia tiba di dunia ini. Chen Mu bukanlah penduduk asli dunia ini; ia tiba di sini karena sebuah kecelakaan. Awalnya, ia mengira dirinya telah sampai di alam baka, sampai akhirnya ia menerima ingatan pemilik tubuh yang memiliki nama sama dengannya. Saat itulah ia sadar bahwa hal mustahil seperti berpindah dimensi benar-benar terjadi padanya. Lebih buruk lagi, ia terdampar tepat di tengah kiamat.
Setengah tahun lalu, hujan ungu yang tiba-tiba melanda seluruh dunia. Setelah hujan itu reda, segalanya berubah. Pertama-tama, manusia yang tersentuh hujan tersebut mengalami mutasi. Energi yang terkandung dalam hujan ungu itu mengubah mereka menjadi mayat hidup. Sementara itu, pemilik asli tubuh "Chen Mu" saat itu sedang berada di dalam ruangan sehingga terhindar dari paparan hujan.
Tentu saja, tidak semua manusia berubah menjadi mayat hidup. Sebagian kecil manusia mampu bertahan dari pengaruh hujan tersebut, yang justru memicu perubahan dalam diri mereka dan memberikan kekuatan di luar batas normal. Pemilik asli tubuh ini tewas karena diserang oleh salah satu manusia berkekuatan tersebut, dan itulah saat Chen Mu mengambil alih tubuh ini.
Tidak hanya manusia, hewan, tumbuhan, dan segala makhluk hidup lainnya pun ikut berubah akibat hujan ungu tersebut, yang pada akhirnya meruntuhkan tatanan masyarakat manusia.
Mengenai tiga mayat hidup di depannya, setelah Chen Mu mengambil alih tubuh ini, ia menemukan bahwa dirinya memiliki kemampuan luar biasa: Pengendali Mayat. Ia mampu mengendalikan tubuh mayat hidup. Penemuan ini membuatnya langsung mencoba menjebak seekor mayat hidup untuk menguji kemampuannya. Percobaan itu berhasil, dan mayat hidup pertama itulah yang kini disebutnya sebagai "A-Da".
Setelah menangkap mayat hidup pertamanya, Chen Mu menyadari bahwa kemampuan "Pengendali Mayat" jauh lebih kompleks daripada sekadar mengendalikan. Setiap kali ia berhasil menangkap mayat hidup, sebagian kekuatan mereka akan disalurkan ke tubuh Chen Mu, sehingga memperkuat dirinya sendiri. Penemuan ini membuat Chen Mu gembira; bagaimanapun, ia sangat mengutamakan kekuatan pribadi. Dengan kemampuan ini, ia memiliki modal untuk bertahan hidup.
"Ini bagian kalian."
Setelah menghabiskan rotinya, Chen Mu mengeluarkan sepuluh kristal mayat berwarna putih dan membaginya menjadi tiga bagian: empat untuk A-Da, empat untuk Xiao Jia, dan tiga untuk Xiao Yi.
Ia mengetahui pentingnya kristal ini dari rasa lapar yang ditunjukkan A-Da saat mereka bekerja sama membunuh mayat hidup di depan sebuah toko kecil. Kristal ini dapat meningkatkan kekuatan mayat hidup, dan meningkatnya kekuatan mereka berarti meningkat pula kekuatan Chen Mu. Di dunia yang tatanannya telah runtuh ini, kekuatan adalah kunci untuk bertahan hidup.
Selama dua bulan, Chen Mu dan A-Da telah berburu banyak mayat hidup. Dengan asupan kristal yang terus-menerus, kekuatan A-Da akhirnya menembus batas dan mencapai tahap kedua. Kekuatan Chen Mu pun turut meningkat seiring dengan kemajuan A-Da. Ia menamai tingkatan ini sebagai "tahap kedua" karena ia tidak memiliki referensi lain atas perubahan drastis yang dialami A-Da. Xiao Jia, yang didapat selama perburuan dua bulan terakhir, kini juga telah mencapai kekuatan tahap kedua.
Karena kapasitas kendalinya terbatas, Chen Mu sering menggunakan mayat hidup lain sebagai umpan atau tameng sebelum akhirnya menyisakan A-Da dan Xiao Jia.
Xiao Yi adalah mayat hidup ketiga yang dipilih Chen Mu secara khusus karena karakteristik uniknya. Chen Mu menyimpulkan bahwa mayat hidup terbagi menjadi dua jenis: mayat hidup biasa dan mayat hidup berkemampuan khusus. Seperti Xiao Yi, meskipun baru berada di tahap pertama, kecepatannya jauh melampaui mayat hidup biasa. Hal ini terbukti benar dalam perjalanan mereka kembali tadi.
Ketiga mayat hidup itu langsung menelan kristal yang diberikan tanpa ragu. Namun, bagi A-Da dan Xiao Jia, kristal putih biasa ini dampaknya sudah jauh berkurang. Untuk naik ke tingkat berikutnya, mereka harus mencari dan memakan kristal dari mayat hidup yang setara atau lebih kuat. Jika hanya mengandalkan kristal biasa, entah sampai kapan mereka harus menunggu.
Tentu saja, itu bukan hal yang diinginkan Chen Mu. Selain itu, ia sudah bosan dengan roti dan mi instan; ia ingin mencari makanan yang lebih layak.
"Pusat kota."
Tatapan Chen Mu tertuju ke arah pusat kota. Saat ini, ia berada di pinggiran Kota H, wilayah yang cukup terpencil dan sebagian besar hanya dihuni mayat hidup biasa. Satu setengah bulan lalu, tak lama setelah mendapatkan A-Da, Chen Mu sempat mencoba mendekat ke pusat kota, namun ia terpaksa melarikan diri.
Ia melihat dua mayat hidup setinggi dua meter sedang bertarung melawan sekelompok manusia berkekuatan khusus. Para manusia itu tampak kewalahan dan kocar-kacir menghadapi kekuatan monster setinggi dua meter tersebut. Kejadian itu membuat Chen Mu memutuskan untuk kembali dan mengumpulkan kekuatan terlebih dahulu di wilayah ini.
Kini, setelah A-Da dan Xiao Jia berhasil mencapai tahap kedua, keinginan yang sempat terkubur itu pun bangkit kembali. Terlebih lagi, persediaan sumber dayanya pun semakin menipis.