01 Tersesat ke dalam dunia permainan yang dahulu pernah kurancang
“Kakak, mau beli pisang?”
Di depan lapak buah di pasar, wajah pegawai robot itu berpendar dengan senyuman, menyapa ramah dengan aksen bionik yang hangat.
Di hadapan robot penjaga toko itu berdiri seorang remaja laki-laki berusia sekitar lima belas atau enam belas tahun. Rambutnya pendek dan berantakan, mengenakan seragam SMA yang biasa saja, serta memiliki wajah umum bak protagonis pria dalam Galgame.
Namun, meski disapa demikian, pemuda itu hanya berdiri terpaku di tempat, ekspresinya kosong tanpa jawaban.
Setelah lama terdiam, barulah ia bersuara:
“Astaga, aku benar-benar masuk ke dalam game yang aku rancang sendiri?”
Sebagai seorang penulis naskah sekaligus perancang game, kehidupan Chen Shang di dunia sebelumnya terbilang makmur.
Di tahun 2077 tempat ia berasal, industri game telah berkembang ke tingkat yang belum pernah terbayangkan; bahkan VR game pun kini hanya dianggap barang kuno.
Game dengan sistem penyelaman kesadaran telah menjadi standar, bahkan para raksasa industri mulai mengembangkan “game lintas dimensi berbasis mekanika kuantum”—yakni, membuyarkan kesadaran dan tubuh pemain, lalu menyusunnya kembali di dunia lain guna memberikan pengalaman bermain yang sangat nyata.
Namun, itu semua tak ada sangkut-pautnya dengan Chen Shang, sebab ia bekerja di sebuah perusahaan pengembang Galgame.
Perusahaan tersebut berambisi meraup keuntungan sebesar-besarnya dari para otaku, lewat biaya produksi murah, model karakter yang menggoda, serta alur cerita percintaan klise yang membakar gairah.
Di kehidupan sebelumnya, Chen Shang telah bertahun-tahun menjadi penulis naskah di perusahaan itu, terlibat dalam pengembangan lima hingga enam game simulasi percintaan—semuanya mendapat sambutan baik di pasaran.
Tepat saat karier Chen Shang sedang menanjak, sang bos memberinya sebuah proyek besar dan menugaskannya sebagai kepala perancang.
Proyek itu sejatinya adalah Galgame berbasis penyelaman kesadaran yang akan segera diluncurkan perusahaan. Berbeda dari Galgame berbasis teks yang biasa mereka buat, game ini berlatar dunia cyberpunk, memadukan elemen “pertarungan dan petualangan”, “peta terbuka”, dan “eksplorasi dengan kebebasan tinggi”.
Chen Shang pun mengerahkan seluruh tenaga demi menyelesaikan pengembangan game tersebut; tahap pengujian internal sudah di depan mata, dan ia berharap game itu bisa rilis sebelum ajal menjemput akibat kelelahan.
Namun, tiba-tiba tim produksi mereka kedatangan seorang magang, konon putra dari investor terbesar proyek itu.
Begitu masuk tim, si anak konglomerat itu langsung membanggakan diri sebagai penulis webnovel kawakan lima tahun, lalu bersikeras hendak melakukan perubahan besar-besaran pada game.
Chen Shang berusaha menentang, namun bosnya justru demi menyenangkan pihak investor, memecatnya dari posisi kepala perancang dan menyerahkan jabatan itu kepada si anak konglomerat.
Akhirnya, Chen Shang pun hanya bisa pasrah, menyaksikan karya yang telah ia curahkan darah dan air mata dipermak habis-habisan oleh tangan si anak konglomerat itu.
Toh, ia hanyalah seorang perancang dengan gaji tetap; untuk apa mempertaruhkan nasib melawan sang bos?
Sayangnya, setelah game itu rilis, malah muncul masalah besar.
Game percintaan yang awalnya memiliki alur utama yang wajar, diubah oleh si anak konglomerat menjadi sesuatu yang karikatural dan absurd; banyak adegan romantis ringan dipaksa berubah menjadi drama murahan penuh adegan memuakkan ala sinetron kelas tiga.
Yang lebih keterlaluan lagi, si anak konglomerat menghadirkan karakter pria kedua dalam game dengan wajah, kepribadian, dan kemampuan yang diambil dari dirinya sendiri. Pria kedua ini, dalam segala aspek—karakter, kemampuan, hingga penampilan—selalu satu tingkat di atas tokoh utama, merebut seluruh sorotan.
Para tokoh wanita yang semula dirancang untuk terlibat kisah cinta dengan sang protagonis, kini justru akrab dengan si pria kedua, bahkan menyambutnya dengan simpati bawaan sejak awal.
Dalam game itu, untuk menaklukkan satu karakter wanita saja, tokoh utama harus menyelesaikan misi-misi rumit nan melelahkan, memantau setiap peristiwa harian dan fluktuasi tingkat ketertarikan.
Sebaliknya, si pria kedua dengan mudah merebut gadis yang tengah didekati tokoh utama—cukup dengan untaian rayuan menjijikkan, maka hati sang gadis pun berpaling di tengah jalan.
Dan sekalipun sang protagonis berhasil mengisi penuh tingkat ketertarikan gadis utama, yang didapatinya hanyalah ending pengkhianatan berdarah tanpa kecuali.
“Maaf, tapi aku tetap lebih menyukai [pria kedua].”
Dalam hampir semua akhir cerita, gadis utama tega membunuh tokoh utama, lalu berlari ke pelukan pria kedua.
Bahkan para penggemar NTR pun tak akan tahan dengan alur semacam ini!
Chen Shang yang telah membaca naskah baru itu, berkali-kali melapor pada bosnya dan mendiskusikan dengan si anak konglomerat.
Namun, jawabannya selalu sama: “Ini bukan urusanmu.”
Benar saja, belum genap tiga hari setelah peluncuran, game itu sudah menyabet gelar “keajaiban dunia game”.
Di seluruh situs ulasan, skor gabungan tak pernah tembus 1.0, dalam tiga hari rilis sudah ada lebih dari lima puluh ribu permintaan pengembalian dana, bahkan jasa buzzer bayaran pun tak mampu menyelamatkan; forum dan situs terkait dibanjiri kritik tanpa henti, konten parodi di situs video bermunculan bak jamur di musim hujan; para streamer yang semula bekerja sama dalam promosi pun dibombardir pesan pribadi dari penonton, hingga terpaksa memutus kontrak.
“Simulator Sengsara,” “Pameran Celana Dalam Elektronik Terbusuk,” “Karya Agung yang Menyatukan Pecinta NTR dan Pejuang Cinta Suci”…—berbagai julukan sarkastik disematkan pada game ini, bahkan game lain produksi perusahaan itu turut dihujani ulasan buruk oleh para pemain yang murka.
Sejak saat itu, reputasi perusahaan runtuh, nyaris bangkrut. Sementara sang investor beserta biang kerok utamanya, si anak konglomerat, kabur tanpa jejak.
Di tengah krisis hidup-mati perusahaan, bos Chen Shang mengambil keputusan tolol:
Seluruh tanggung jawab dilemparkan ke pundak Chen Shang, ia langsung dipecat. Tak hanya itu, bosnya bahkan menuntut Chen Shang menggelar konferensi “permintaan maaf” demi menanggung semua dosa perusahaan.
Tentu saja Chen Shang menolak mentah-mentah. Bila ia menerima tuduhan itu, namanya akan hancur, dan mustahil bisa bertahan di dunia game.
Setelah berulang kali bersitegang, bahkan diancam nyawa oleh bosnya, akhirnya Chen Shang pun mengambil keputusan nekat:
Ia membawa sebatang kayu bakar, naik ke atap gedung, dan berduel dengan bosnya yang memiliki tangan bionik.
Ketika keduanya tinggal sekarat dan hendak berdamai, robot penegak hukum datang dan menembak mati keduanya, sukses menghentikan duel brutal itu.
Setelah mengingat semua itu, Chen Shang kini hanya merasa kepalanya kembali berdenyut keras.
—Kenapa aku harus bereinkarnasi ke dunia game buruk ini? Dan kenapa aku jadi tokoh utamanya pula?!
Chen Shang sangat hafal dengan awal cerita game ini, tak mungkin salah ingat.
Ia ingat, awalnya ia ingin mengatur prolog game dengan adegan sang protagonis dibangunkan adiknya dari tempat tidur, lalu berangkat sekolah bersama.
Namun si anak konglomerat, entah terinspirasi anime gelap yang baru saja ia tonton, malah mengubahnya menjadi adegan protagonis berdiri di depan kios buah, ditanya penjaga toko apakah ingin membeli pisang.
Chen Shang pernah berdebat sengit tentang ini, tapi si anak konglomerat hanya menanggapinya dengan congkak:
“Kau tahu apa soal nilai emas pembuka cerita? Prolog seperti punyamu sudah basi, mana mungkin menarik pemain? Hanya pembukaan seunik ini yang bisa menggugah minat pemain!”
—Kalau begitu, kenapa lima tahun menulis webnovel kau tetap penulis LV1?! Satu-satunya pemasukan di akun penulismu hanyalah donasi dari dirimu sendiri, dasar gagal total!
Chen Shang nyaris melontarkan kata-kata itu, namun akhirnya menahan diri.
Tapi sekarang, setelah benar-benar terlempar ke dunia game ini, ia justru merasa pembukaan ini lumayan juga…?
Mengabaikan tatapan heran penjaga toko robot, ia segera menggenggam tas sekolah dan berlari ke tengah jalan, lalu berteriak lantang:
“Mana truk besar? Truk besar, sini dong! Cepat tabrak aku, ayo cepat!”
Sungguh, pembukaan “beli pisang” ini sangat baik, karena dekat dengan jalan raya—jadi mudah baginya untuk langsung mati dilindas truk dan mengulang semuanya.
Namun, harapan Chen Shang tak kunjung tercapai. Tak satu pun kendaraan bersedia menabraknya, semua memilih menghindar, bahkan sempat terjadi kemacetan.
Beberapa menit kemudian, robot polisi beroda satu dengan tongkat lampu berkedip merah-biru segera menangkap Chen Shang dan membawanya ke kantor polisi terdekat.