Bab Enam: Strategi
Keesokan harinya, akhir pekan tiba dengan sinar matahari yang cerah dan angin musim semi yang sepoi-sepoi. Hari yang begitu langka dan indah ini—bagi sekolah, cuaca seperti ini di akhir pekan sangat cocok untuk mengadakan kelas tambahan.
Wang Chong pagi itu sudah tiba di sekolah lebih awal dari biasanya. Anehnya, sebelum ia sempat masuk ke kelasnya, sudah ada sekelompok siswa dari kelas sebelah yang berkumpul di sekitarnya sambil menunjuk-nunjuk dan berbisik.
“Itu dia, pemeran utamanya datang!”
“Ck ck ck, kurus dan hitam begitu, kenapa Lin Muxue bisa suka sama dia ya?”
“Pasti cuma gosip!”
Wang Chong menaikkan ranselnya, mengerutkan kening dan menatap siswa-siswa dari kelas lain yang membicarakannya itu. Kenapa semua orang membahas aku dan Lin Muxue? Apa aku sekarang terkenal?
“Kalian lagi ngomongin apa?” tanya Wang Chong dengan raut bingung.
Begitu mereka sadar gosipnya didengar Wang Chong, anak-anak itu buru-buru menjulurkan lidah, tak berkata apa-apa lagi, lalu masuk ke kelas mereka masing-masing.
Wang Chong menggaruk-garuk kepala, memandang mereka dengan heran, lalu melangkah masuk ke kelasnya sendiri. Begitu masuk, ia mendapati Lin Muxue sedang menunduk di atas meja dan menangis keras, dikelilingi banyak teman sekelas yang berusaha menenangkannya.
Wang Chong meletakkan ransel di atas mejanya, lalu cepat-cepat melangkah ke samping meja Lin Muxue dan bertanya pada seorang siswi, “Kak Liu, ada apa ini?”
Gadis yang dipanggil Kak Liu itu menghela napas berat, lalu berkata, “Kemarin kita pergi berkemah, entah siapa di antara kita yang iseng merekam video waktu Muxue menyedot racun ular dari kakimu, lalu mengunggahnya ke forum sekolah. Sekarang hampir seluruh sekolah sudah tahu!”
“Eh…”
Wang Chong tertegun. Kemarin di grup kelas, Huang Bo bahkan sudah mengingatkan agar jangan ada yang membocorkan peristiwa berkemah itu, takut didengar orang tua atau guru. Tak disangka, ternyata ada penghianat di antara mereka.
“Jadi… sekarang semua orang tahu kalau ketua kelas menolongku dengan… menyedot racun ular itu?” Wang Chong bertanya hati-hati.
“Ya, begitulah,” jawab Kak Liu dengan nada prihatin.
Mendengar itu, Wang Chong bukannya marah, malah dalam hatinya ia diam-diam merasa senang. Berarti sekarang seluruh sekolah tahu tentang hubunganku yang ambigu dengan ketua kelas? Siapa sih yang tidak ingin terlibat gosip dengan gadis sesempurna dia? Tak disangka, pemeran utamanya kali ini justru aku.
Wang Chong pun memasang wajah penuh kemarahan, pura-pura berkata, “Orang itu benar-benar keterlaluan! Bagaimana bisa mengambil video seenaknya dan menggunting-gunting isinya? Ini jelas mencemarkan nama baikku dan ketua kelas! Ngomong-ngomong, di videonya mukaku kelihatan ganteng tidak?”
“Hahaha! Sudahlah, Wang Chong, wajahmu mau direkam seperti apa juga tetap begitu, mana ada namamu yang tercemar?”
“Eh, hari ini kok tidak pakai seragam sekolah? Malah pakai Nike segala?”
“Jangan-jangan itu cuma barang KW, ya?”
Wang Chong yang sedang gembira pun menepuk-nepuk bajunya, dengan bangga berkata, “Kalau aku mau pakai, pasti yang asli. Memangnya aku cuma bisa pakai barang palsu?”
Ia mendengus puas. Berkat bantuan Chu Chenxi, akhirnya hari ini ia tak lagi jadi bahan lelucon dengan julukan ‘Bocah Sekolahan’. Lalu, ia menoleh ke arah Lin Muxue dan berkata dengan serius, “Ketua kelas, jangan menangis lagi. Selama kita benar, tidak perlu takut apapun. Aku tidak akan peduli dengan omongan orang lain. Biar saja mereka berkata apa pun.”
Semakin aneh gosipnya, semakin bagus, pikir Wang Chong dalam hati.
Lin Muxue mendongak, matanya memerah dan basah oleh air mata. Ia berkata dengan suara lirih, “Aku juga tidak takut omongan mereka! Masalahnya, video itu sudah sampai ke tangan guru. Kemarin Guru Zhou meneleponku, katanya hari ini aku dipanggil untuk bicara secara pribadi. Katanya kita melanggar aturan sekolah berat, bukan cuma diumumkan ke seluruh sekolah, bahkan bisa-bisa kita berdua dikeluarkan!”
Wang Chong terperangah, baru sadar betapa seriusnya masalah ini. Ia membelalakkan mata, “Sebegitu parahnya? Tapi… kita tinggal jujur saja, bilang waktu itu kita berkemah, dan kamu menolongku dengan menyedot racun ular.”
Ucapan Wang Chong membuat teman-teman yang lain tertawa terbahak-bahak.
“Wang Chong, kamu sendiri percaya dengan alasan itu? Mana ada orang menyedot racun ular dengan cara ciuman? Bilang saja kamu punya penyakit turunan keluarga, tiba-tiba pingsan, lalu ketua kelas menolongmu dengan napas buatan!”
Seorang siswa lelaki menimpali sambil tertawa terbahak-bahak.
Wang Chong membalas, “Tapi kalian semua kan lihat sendiri? Kalian bisa jadi saksi!”
“Nanti guru pasti bilang kita semua kompak bikin alibi! Kamu sendiri sudah lihat videonya? Itu bukan kelihatan seperti menyedot racun, malah mirip banget sama ciuman sungguhan!”
Begitu ucapan itu keluar, Lin Muxue malah menangis lebih keras lagi.
Wang Chong merasa canggung, teringat lagi pada sensasi lembut yang mengisi mulutnya waktu itu, jantungnya kembali berdebar kencang. Ia kembali menggaruk-garuk kepala dan bertanya, “Jadi, kita harus bagaimana sekarang?”
Saat itu, Huang Bo datang mendekat, mengenakan rompi jas abu-abu dan kemeja putih, tampil seperti anak bangsawan. Dengan lembut ia berkata pada Lin Muxue, “Muxue, jangan khawatir. Apa pun yang terjadi, aku tidak akan membiarkan kamu dikeluarkan dari sekolah.”
Huang Bo adalah anak kepala sekolah. Ucapannya itu membuat Lin Muxue sedikit tenang, seolah-olah menemukan harapan hidup.
Lin Muxue mengangkat kepala, menatap Huang Bo dengan mata berkaca-kaca, “Benarkah?”
Huang Bo mengangguk dan tersenyum, “Tentu saja.”
“Terima kasih!” kata Lin Muxue penuh syukur.
Huang Bo balas tersenyum, lalu dengan lembut mengusap rambut Lin Muxue. Biasanya, gerakan ini pasti dianggap kelewat akrab, tapi saat itu perhatian semua orang sedang teralih, hanya Wang Chong yang benar-benar memperhatikan.
Huang Bo kembali berkata lembut, “Sama-sama, kita ini teman sekelas, saling membantu itu sudah seharusnya. Masalah guru, biar aku yang urus. Soal gosip di antara teman-teman, supaya tidak ada salah paham, siang ini kita belajar bersama saja di perpustakaan. Kalau kamu bersama aku, tidak akan ada yang mengaitkanmu dengan Wang Chong lagi.”
Mendengar itu, hati Wang Chong agak kesal. Kenapa kalau digosipkan denganmu dianggap keberuntungan, tapi kalau denganku malah jadi bahan omongan buruk?
“Oke, tapi kamu juga harus bantu Wang Chong, jangan sampai dia juga dikeluarkan,” kata Lin Muxue, tetap tidak lupa membela Wang Chong.
Mendengar itu, hati Wang Chong jadi lebih tenang. Ketua kelas memang benar-benar baik.
“Soal itu… tergantung sikapmu nanti,” jawab Huang Bo sambil tersenyum tipis, tangannya masih mengelus rambut Lin Muxue, dan menatapnya dengan wajah tampan.
Saat itu, suara lain terdengar di kepala Wang Chong, “Yang menyebarkan video itu adalah anak itu. Dia sedang berakting.”
Wang Chong pun mengerutkan kening, menatap sinis ke arah Huang Bo, lalu bertanya dalam hati pada Paman Xiang, “Dia juga suka Lin Muxue?”
“Bocah bodoh saja tahu. Kalau kamu tidak sadar, berarti kamu lebih bodoh dari bocah itu. Saat ini perasaan Lin Muxue padamu masih setara dengan perasaannya ke anak itu. Tapi setelah hari ini, kalau Lin Muxue masuk perangkapnya, kamu tak akan punya kesempatan lagi,” ejek Paman Xiang.
Wang Chong buru-buru bertanya, “Jadi… aku harus bagaimana?”
“Bongkar saja kedok aslinya di depan semua orang!” seru Paman Xiang.
“Tapi… Huang Bo itu sangat disukai di kelas, kemarin juga dia baik hati mengantar kita pulang naik mobil. Aku tidak enak bermusuhan langsung, lebih baik tunggu kesempatan lain.”
Paman Xiang kesal, “Kesempatan apanya! Ini justru saatnya! Kamu ini penakut sekali. Dia cuma pura-pura baik, padahal hatinya busuk. Kalau kamu diam saja, makin lama kamu malah makin rugi. Kan ada aku yang melindungi. Tak perlu takut, lawan saja dia!”
Semakin mendengar omelan Paman Xiang, Wang Chong merasa semakin masuk akal. Ia pun langsung menepuk meja kuat-kuat, membuat semua orang terkejut.
Saat itu, seluruh teman sekelas, termasuk Huang Bo dan Lin Muxue, menatap Wang Chong dengan heran, tidak mengerti apa yang ingin ia lakukan.
Dengan wajah serius, Wang Chong menunjuk Huang Bo, “Video itu, kamulah yang menyebarkannya! Mau berpura-pura apa lagi di sini?”
“Aku yang menyebarkan?” Huang Bo menunjuk dirinya sendiri dengan tatapan terkejut.
“Apa maksudmu, Wang Chong? Huang Bo jelas-jelas sudah mengingatkan kita agar tidak membocorkan soal berkemah. Mana mungkin dia sendiri yang menyebarkan?” teman yang ikut berkemah kemarin ikut membantah.
“Jangan asal bicara, Wang Chong. Huang Bo itu peduli pada kita, dia sudah membantu,” kata Lin Muxue sambil mengernyitkan dahi ke arah Wang Chong.
“Aku tidak asal bicara!” tegas Wang Chong. “Ini semua permainan licik dia. Dia yang sengaja menyebarkan video itu, lalu berpura-pura jadi pahlawan, seolah-olah bisa membantumu keluar dari masalah, agar mendapat simpati darimu.”
Huang Bo tertawa sinis, “Wang Chong, aku tak menyangka kamu seperti ini. Awalnya kukira kamu cuma suka pamer dan sombong, ternyata suka memutarbalikkan fakta juga. Kamu punya bukti apa?”
“Bukti?” Wang Chong terdiam. Dari mana dia punya bukti? Barusan ia hanya terbakar emosi karena diprovokasi Paman Xiang, sampai nekat menuduh tanpa dasar. Semua yang ia tahu, hanya karena diberitahu oleh Paman Xiang.
Dalam hati, Wang Chong bertanya, “Paman Xiang, mana buktiku?”