Dunia ini memiliki ilmu pengetahuan, seni bela diri, latihan spiritual, serta kekuatan magis dan makhluk gaib. Di dunia ini, keagungan sastra menjadi yang paling dihormati; puisi, lirik, dan karya sas
Di bagian timur Kerajaan Daqian, pegunungan membentang luas, air jernih mengalir ke timur. Di puncak tertinggi dari ribuan gunung berdiri Sekte Yunxi, dengan paviliun-paviliun megah menjulang, burung-burung biru berterbangan, menghadirkan pemandangan yang menakjubkan.
Di balik alun-alun besar sekte itu, ada sebuah lereng kecil. Di atas lereng berdiri sebuah paviliun tua, yang kontras dengan kemeriahan dan kemegahan sekte, sunyi dan tenang bagai malam. Paviliun itu bernama “Paviliun Penanya Jalan”. Setiap murid sekte yang menghadapi kesulitan dalam berlatih dapat naik ke paviliun untuk bertanya tentang jalan kebenaran. Setiap penjaga paviliun selama generasi selalu merupakan tetua terhebat di sekte, yang paling memahami beragam kitab. Satu petunjuk darinya, nilainya setara dengan sepuluh tahun berlatih keras.
Saat itu tengah hari, seorang murid utama berdiri dengan hormat di dalam paviliun, mendengarkan suara tua dan lembut dari balik tirai bambu yang tengah menjelaskan ajaran: “Tiga tahun kau pelajari ‘Jurus Pedang Terputus’ tak juga berhasil, sebab arahmu sungguh keliru. Jurus pedang ini bukan untuk mematahkan pedang lawan, melainkan untuk memupuk ‘jiwa pedang’. Esensi delapan katanya: memperluas meridian, menambah tenaga, melenturkan alat, memahami momen. Semua ini harus kau renungkan baik-baik.”
Sang murid terkejut, “Tetua Ketiga, yang aku ingat dari ‘Jurus Pedang Terputus’ hanya enam kata: memperluas meridian, menambah tenaga, melenturkan alat. Tidak ada ‘memahami momen’. Mengapa bisa begitu?”
“Sembarangan!” Tetua itu menegur, “Esensi delapan