Urutan Ilahi
Di hamparan jagat raya yang tak bertepi, milyaran bintang berkelap-kelip menebarkan cahaya dingin mereka. Di tengah kehampaan nan dalam dan misterius, tampak seorang duduk bersila. Sepasang matanya bersinar tajam seperti bintang, penuh perhatian menatap ke arah sebuah planet biru muda sebesar telur ayam di bawahnya.
Andaikan planet sebesar telur itu diperbesar jutaan kali, akan tampak bahwa di langit permukaannya tengah berlangsung sebuah pertempuran luar biasa yang mengguncang dunia. Kedua pihak yang bertarung jumlahnya sangat timpang.
Salah satunya berjumlah ratusan orang. Pakaian mereka sangat beragam, sehingga sekilas membuat orang merasa mereka berasal dari zaman yang berbeda-beda. Namun, setiap baju zirah yang mereka kenakan memancarkan cahaya aneh dan tampak sangat gagah, sementara senjata yang mereka genggam bermacam-macam, memantulkan kilatan dingin yang tak habis-habisnya. Ratusan orang ini semuanya adalah dewa dan makhluk abadi dengan kekuatan luar biasa.
Sementara di pihak satunya, hanya ada enam orang. Mereka semua mengenakan zirah hitam, dan tangan mereka kosong tanpa senjata. Wajah dan kepala mereka tertutup kabut hitam, membuat siapa pun tak bisa melihat wajah asli mereka. Dari balik kabut yang melayang-layang itu, terkadang hanya tampak sepasang mata dingin dan kejam, penuh ejekan dan penghinaan yang tiada habisnya.
Saat ini, keenam orang itu terkepung di tengah, hanya dilindungi oleh satu lapisan tipis perisai hitam yang beriak. Ratusan senjata abadi dan harta sihir bertubi-tubi menghantam perisai itu seperti hujan, menciptakan pemandangan langit yang berwarna-warni dan menakjubkan, tetapi tak satu pun sanggup menggoyahkan perisai itu walau sedikit.
“Anak-anak bodoh, kalau bukan karena menghormati Leluhur, sudah lama kalian kuhancurkan jadi debu! Kalau masih tak mau mundur, jangan salahkan kami bertindak kejam!”
Tiba-tiba, seorang dari ratusan orang itu melesat ke depan. Ia mengenakan zirah emas, menggenggam pedang yang memancarkan cahaya suci, lalu menunjuk ke arah keenam orang itu seraya berseru,
“Kalian toh dianggap sebagai senior, mengapa berlaku sewenang-wenang? Hanya demi nafsu pribadi, kalian rela mengorbankan milyaran makhluk di planet leluhur ini? Di sini aku bersumpah, jika kalian ingin memasuki tanah leluhur, haruslah melewati pedang Xuanyuan di tanganku, harus melangkahi jasad Xuanyuan, baru bisa lewat! Kalau tidak, mustahil!”
Begitu ucapan orang yang mengaku Xuanyuan itu selesai, seluruh ratusan orang serentak bersumpah, bertekad tak akan mundur walau harus mati.
Melihat hal itu, keenam orang berzirah hitam mendengus marah serempak.
“Kalau kalian memang ingin mati, jangan salahkan kami tak memberi kesempatan! Kekuatan kalian kalau mati pun hanya mubazir, lebih baik kami manfaatkan saja!”
Bersamaan dengan kata-kata itu, tubuh mereka tiba-tiba berubah menjadi monster setinggi tiga puluh meter. Keenam monster itu meraung ke udara, dan seketika, kekuatan dahsyat yang dapat menghancurkan langit dan bumi mengamuk dari tubuh mereka ke segala penjuru.
Dalam terjangan kekuatan itu, ratusan dewa dan makhluk abadi yang mengepung mereka terpelanting seperti kertas, baju zirah mereka hancur berkeping-keping, tubuh mereka meledak dengan suara menggelegar, dan ratusan gumpal kabut darah mewarnai langit menjadi merah. Yang tersisa hanyalah jiwa-jiwa abadi yang gemetar di udara.
Dalam satu serangan, ratusan makhluk abadi itu—tanpa terkecuali—tubuh mereka hancur lebur.
Di tengah kehampaan jagat raya, sosok raksasa yang sejak tadi mengamati pertempuran itu tak kuasa menahan desah, seberkas kekecewaan bersinar di matanya. Ia bergumam perlahan,
“Kalian berenam masih juga tak mau menyerah? Dengan kerakusan seperti itu mengisap kekuatan asal planet leluhur, cepat atau lambat semesta ini akan hancur di tangan kalian. Kini, kalian bahkan berani memusnahkan keturunanku sendiri. Sepertinya aku tak bisa lagi menahan diri karena hubungan darah saja!”
Selesai berkata, ia mengangkat tangan kiri, mengirim pancaran cahaya ke arah planet biru muda itu, lalu tangan kanan menepuk dahinya. Terdengar suara ledakan, dan dari tubuhnya, sebuah bayangan samar terpental keluar. Bayangan itu, yang semula buram, segera menjadi nyata begitu terlepas dari tubuhnya.
Ledakan demi ledakan terdengar, hingga sembilan bayangan telah terpisah dari tubuh aslinya. Kini, kedua matanya yang semula bersinar seperti bintang, tampak agak suram.
Ia menatap kesembilan bayangan itu, lalu mengarahkan tangan ke planet biru muda di bawahnya dan berseru, “Pergilah!”
Seketika, sembilan bayangan itu melesat bersamaan dari sembilan arah berbeda menuju planet biru muda itu. Tubuh-tubuh besar itu kian mengecil selama terbang, hingga menjelang tiba di planet biru, mereka sekecil ujung jarum lalu lenyap masuk ke dalam planet itu.
Di langit planet biru itu, setelah berhasil dalam serangan, keenam monster hendak mengisap jiwa-jiwa abadi yang tubuhnya telah hancur. Namun tiba-tiba, cahaya terang menyilaukan datang dari luar angkasa dan dalam sekejap telah tiba di atas medan pertempuran. Dalam keterkejutan keenam monster, cahaya itu menyedot semua jiwa abadi ke dalam dirinya lalu segera melesat pergi ke luar angkasa.
Dalam kemarahan, keenam monster hendak mengejar, namun tiba-tiba mereka menoleh ke arah permukaan planet dengan teror. Energi aneh yang tak terdeteksi sebelumnya kini telah membungkus planet di bawah mereka, dan kini energi itu menanjak ke atas tanpa bisa dibendung.
Di tengah kehampaan, sosok raksasa itu menggerakkan tangan kirinya, dan cahaya yang menyedot jiwa-jiwa abadi itu mendarat di telapaknya. Ternyata, benda itu adalah kristal pipih berbentuk lonjong, bening seperti air. Ia mengelus kristal itu dengan perasaan sayang yang mendalam.
Sementara itu, planet biru kecil itu tampak bergetar tipis. Dalam sekejap, dari permukaannya muncul lapisan penghalang berpendar cahaya tujuh warna.
Serentak terdengar suara raungan marah. Enam titik cahaya sekecil jarum mental dari penghalang itu, sambil memaki-maki terbang ke arah sosok raksasa tadi. Namun, sebelum mencapai jarak miliaran mil, tubuh mereka membesar hingga setinggi sosok itu.
Keenam monster yang telah kembali ke wujud aslinya itu memiliki bentuk aneh tanpa sedikit pun menyerupai manusia: ada yang bertangan seratus, berkaki banyak, bertubuh bermata seribu, atau berkepala sembilan dalam satu tubuh—benar-benar mengerikan.
Salah satu yang berbentuk seperti ular raksasa menjulurkan lidah panjangnya yang ribuan meter seraya berkata,
“Leluhur, kau berulang kali menghalangi kami menyerap kekuatan asal, tak adakah sedikit pun rasa kekeluargaan? Kau sudah lama mencapai kesempurnaan, tapi kami? Lihatlah wujud kami yang aneh ini, masihkah terlihat sedikit saja seperti bentuk murni semula? Kau benar-benar terlalu menindas kami!”
Satu lagi yang paling mirip manusia, namun berwujud androgini, langsung mengamuk. Ia mengangkat sebuah planet dan melemparkannya ke arah Leluhur. Planet itu terbakar karena gesekan dengan kehampaan, menembus ruang dan melesat lurus ke arah Leluhur.
Dengan helaan napas berat, Leluhur menjepit planet terbakar itu dengan jari telunjuk dan ibu jari, memadamkan apinya dengan sedikit putaran. Menatap planet yang kini hangus, tampak kesedihan di matanya. Ia berkata,
“Awalnya karena hubungan darah, aku maklumi pencurian asal kekuatan oleh kalian. Tapi kini, kalian malah semakin menjadi-jadi. Jika diteruskan, planet leluhur tak akan selamat, dan jagat raya yang indah ini pun akan hancur. Apakah kalian ingin melihat kehancuran itu?”
“Leluhur, kau hanya menakut-nakuti saja!”
“Kau takut kami mencapai kesempurnaan dan menjadi ancaman bagimu!”
“Kami bertujuh lahir bersama semesta ini, keenam roh ini juga makhluk suci, planet leluhur milik bersama, kekuatan asal pun milik bersama!”
“Siapa kau, berani mencegah kami menyerap kekuatan? Ini belum selesai!”
Enam makhluk roh itu berteriak-teriak tak karuan, menanggapi ucapan Leluhur.
Leluhur hanya menggeleng pelan dan menghela napas,
“Di jagat raya yang luas ini masih banyak makhluk lain. Meski kita yang paling utama, kita tak boleh egois. Demi kebaikan seluruh makhluk, aku telah memasang penghalang suci di luar planet leluhur. Mulai sekarang kalian tak akan bisa lagi turun ke tanah suci planet leluhur! Sebaiknya kalian gunakan waktu untuk berlatih, agar dapat selamat dari bencana besar yang segera tiba!”
Selesai berkata, ia tak lagi mempedulikan makhluk-makhluk roh yang masih meraung marah, lalu berbalik melangkah ke kedalaman angkasa. Cahaya bintang di sekelilingnya memancar menambah aura kesucian pada tubuhnya yang besar.
Keenam makhluk roh itu sempat terpukau oleh punggung Leluhur. Begitu sosoknya benar-benar lenyap, mereka serempak meludah dan memaki,
“Sok jadi orang suci!”
Setelah itu, mereka saling berpandangan ke bawah. Di bawah sana, di luar planet biru, penghalang suci berpendar cahaya tujuh warna, membuat mereka terdiam lama. Barulah setelah lama hening, salah satu suara berkata,
“Sekarang benar-benar tak ada jalan lagi! Untungnya, waktu terpental keluar dari planet leluhur, kita masih sempat meninggalkan satu bayangan di dalamnya. Segala sesuatu ke depan, harus bergantung pada bayangan itu. Sekarang, lebih baik segera cari tempat bersembunyi.”
Begitu suara itu hilang, satu sosok berubah menjadi cahaya lima warna dan melesat pergi. Lainnya, setelah berpikir keras tanpa hasil, satu persatu menghilang ke lautan bintang yang tak berujung.
.........................................
Tiba-tiba, lingkaran gelombang muncul di kehampaan, dan satu sosok muncul diam-diam menembus ruang, ternyata Leluhur yang tadi sudah pergi. Ia menatap ke arah enam roh yang telah pergi, dan bergumam,
“Ternyata mereka masih meninggalkan bayangan, sebaiknya aku pun membuat persiapan. Tapi, para keturunan planet leluhur yang masih punya kekuatan, barusan semuanya tubuhnya hancur dalam perang. Sejak membuka langit terakhir kali, kekuatanku belum pulih, dan setelah sembilan bayangan terpisah barusan, kekuatanku tinggal sepersepuluh, bahkan jiwaku pun terluka parah. Barusan aku hanya pura-pura kuat. Kalau mereka benar-benar menyerang habis-habisan, aku pasti kewalahan. Apa yang bisa kulakukan agar mereka tak lagi berbuat jahat?”
Saat itu, Leluhur tampak mengerutkan kening, tangan kanannya mengusap perlahan ke arah planet biru. Begitu diusap, muncul layar cahaya di atas planet itu menampakkan permukaannya yang telah diperbesar jutaan kali.
Diiringi mantra misterius, layar cahaya itu memperlihatkan gambaran planet yang berputar cepat—Leluhur rupanya menggunakan ilmu rahasia waktu, menembus batas ruang dan waktu, mendorong waktu ke masa depan, berharap menemukan secercah harapan yang selama ini membuatnya cemas.
Tampak planet itu awalnya sepi, tanah tandus, penduduk jarang. Kemudian waktu bergulir cepat, populasi melonjak, desa dan kota bermunculan, silih berganti kerajaan. Sebentar satu kerajaan berdiri, sekejap kemudian sudah digantikan yang baru. Rumah-rumah rendah berubah menjadi gedung-gedung tinggi, dan di udara mulai tampak alat-alat terbang.
Segala pemandangan, manusia, dan kejadian melintas sekilas di layar itu.
Tiba-tiba, terdengar seruan pelan, “Eh!” Leluhur tampak menemukan sesuatu, menatap layar yang kini berhenti di satu adegan.
Di sebuah aula megah, seorang lelaki tergeletak di lantai, lengan kirinya putus. Dengan susah payah ia bangkit, menyangga tubuh yang nyaris roboh dengan tangan kanan. Dari matanya mengalir air mata darah. Namun segera, matanya memancarkan kebuasan luar biasa, penuh dendam dan niat membunuh yang membara, membuat belasan lelaki gagah yang mengelilinginya mundur ketakutan.
Dari luka di lengan yang terputus itu, darah segar menetes di lantai marmer putih, menguarkan aura ungu yang aneh dan memesona! Dalam darah yang baru saja membeku, terpancar cahaya ungu kemerahan yang luar biasa.
“Darah murni surya? Haha, sungguh anugerah! Tampaknya, di antara milyaran kehidupan di dunia fana ini, kaulah yang paling berjodoh denganku! Kaulah orangnya!”
Selesai berkata, Leluhur melambaikan tangan dan layar cahaya itu lenyap. Ia pun melangkah ke kehampaan, dan dengan satu langkah tubuhnya telah berada ribuan mil jauhnya. Tubuh raksasanya yang menjulang semakin mengecil, hingga akhirnya berubah menjadi seorang pertapa tua berambut acak-acakan, mengenakan jubah biru pudar yang lusuh, namun di lehernya tergantung liontin kristal pipih berisi ratusan jiwa abadi, membuat penampilannya agak aneh.
Leluhur yang kini menjelma menjadi pendeta tua itu mengelus rambutnya yang miring, lalu melirik pakaian compangnya, tertawa kecil. Saat ia menggeleng, sanggul miring di kepalanya pun bergoyang seperti ayam mematuk beras—benar-benar lucu dan canggung. Tubuhnya perlahan menghilang dari kehampaan di samping planet biru muda itu.
Begitu Leluhur lenyap, jagat raya kembali pada keheningan dan kedalaman aslinya. Hanya saja, di atas planet biru itu, kini berpendar cahaya tujuh warna yang berbeda dari sebelumnya—berkilauan lembut, membawa makna baru bagi dunia.