Bab 80 Kursi Karang Laut Biru
“Semua sudah paham?” tanya Wakil Ketua.
“Sudah paham!” jawab semua orang serempak.
“Semua, ulurkan tangan kalian...”
Semua mengulurkan tangan, besar kecil, tebal tipis, semuanya bertumpuk jadi satu.
Ketua menaruh tangan besarnya yang gemuk di paling atas, lalu dengan sangat serius berkata, “Slo...ga...n kita... adalah—”
“Elang Hitam, Elang Hitam, elang perkasa mengembangkan sayap!”
“Elang Hitam, Elang Hitam, rumput tumbuh, elang terbang!”
“Elang Hitam, Elang Hitam, elang menembus langit!”
Plak!
Tangan besar yang penuh kapalan menepuk keras kepala Si Kecil, langsung muncul benjolan merah besar di kepalanya.
Si Kecil menatap penuh derita dan keluhan, seolah berkata, kali ini aku tidak bilang apa-apa, kenapa aku lagi yang kena pukul...
Tampak Wakil Ketua berbisik mengumpat, “Teriak sekencang itu buat apa! Mau seluruh kota dengar, hah?!”
“Aku, aku tidak...”
“Apa tidak, pencuri harus punya sikap pencuri, paham tidak...”
Si Kecil mengangguk-angguk cepat, tidak berani membantah.
“Ela... Elang... Hi... Hitam... ru... rumput... tumbuh... e... elang... terbang...”
“Ela... Elang... Hitam... el... elang... me... nembus...”
Wakil Ketua menggeleng, menghela napas, lalu berkata pada semua orang, “Bodoh semua, slogan Ketua belum selesai, kalian malah tidak bisa kompak?”
Semua saling memandang, sungguh tidak habis pikir.
Ketua sendiri yang gagap, salahkan kami?
“Sialan, tidak ada gunanya, baiklah, sekarang ikuti irama Ketua, satu, dua, tiga...”
“El... Elang... Hi... Hitam... Ela... Elang...”
Di dalam toko selain Chen Mingjie, hanya ada dua anak, yaitu kakak beradik Yu Wen.
Chen Mingjie menahan perut dan mulutnya, hampir tidak bisa menahan tawa.
Dua anak itu sudah terguling-guling di lantai, tertawa sampai tidak bisa mengendalikan diri.
“Hahaha... hahaha...”
Suara tawa anak-anak terdengar dari dalam penginapan, ada suara anak laki-laki dan suara anak perempuan, bersahutan di malam gelap berangin itu, terasa sangat aneh.
“Sialan, siapa yang berani menertawakan aku!”
Geng Elang Hitam yang disegani malah ditertawakan anak-anak, mana tahan Wakil Ketua. Dia langsung mencabut kain hitam di wajahnya, melemparkannya ke tanah, lalu menginjaknya dengan sepatu kulit harimau.
Baru itu gaya dan wibawa Geng Elang Hitam yang sebenarnya!
Melihat itu semua orang bersorak gembira, ikut-ikutan melepas kain hitam di wajah mereka, hanya saja hari ini rencananya memang hendak mencuri, jadi saat berniat mengeluarkan senjata, mereka baru sadar tidak membawa apa-apa.
Wakil Ketua menendang pintu utama Penginapan Xianlai, melihat di dalam hanya ada dua anak dan satu pemuda, ia langsung tertawa lebar, “Hahaha... kukira siapa yang hebat, ternyata cuma tiga bocah!”
“Aku kasih tahu ya, semua meja kursi di sini milik Geng Elang Hitam, jadi hari ini kami mau bawa pergi semuanya. Lebih baik kalian menjauh, kalau nanti kena timpuk, jangan salahkan kami, hehehe...”
Semua orang melangkah masuk ke dalam penginapan, berdiri di belakang kedua ketua, memasang wajah garang.
Ketua menunjuk ke depan dengan tangan gemuknya, “Si... siapa... yang... berani... menghalang... pasti... aku... hajar... sampai... babak belur...”
Chen Mingjie menyilangkan kaki, berkata, “Tenang saja, aku tidak akan menghalangi...”
Wakil Ketua mengira mereka bertiga ketakutan, makin jumawa, “Ayo, saudara-saudara, angkat barangnya!”
“Ka... Kakak...” Si Kecil meneguk ludah, menunjuk ke arah meja kursi di penginapan, “Me... me... meja... kursi...”
Baru semua orang menoleh ke arah meja kursi yang sebelumnya dibeli Manajer Wang.
“Sial, kamu juga jadi gagap sekarang? Kenapa dengan meja kursi itu?” maki Wakil Ketua.
Chen Mingjie berdiri, berjalan ke sebuah meja kayu pear emas, mengelus sudut meja, lalu berkata, “Yang ini meja bundar dari kayu pear emas, nilainya seratus lima puluh delapan tael perak.”
“Apa?!” Ketua terkejut, tergagap, “Seratus lima puluh delapan tael perak!”
“Kaya... kita kaya!”
Orang-orang di belakang hampir meneteskan air liur.
Chen Mingjie tersenyum tipis, lalu menuju meja lain, mengelus permukaan halusnya, “Meja ini terbuat dari batu giok salju dari Pegunungan Selatan, nilainya lima ratus dua puluh tael perak.”
“Lima ratus dua puluh tael!” Wakil Ketua berseru.
Baru kali ini ia mendengar ada satu meja seharga lima ratus dua puluh tael.
Ia merasa semua yang dilihat sekarang sudah di luar logikanya.
Dan bukan hanya dia, semua orang di belakangnya juga begitu.
Mereka semua ikut geng demi sesuap nasi, tak pernah melihat uang sebanyak itu.
Sepuluh tael saja cukup untuk makan setahun.
Di sini ada begitu banyak meja kursi, kalau dibawa pulang, seumur hidup tidak perlu khawatir lagi.
Tatapan semua orang langsung berubah panas membara.
Awalnya disuruh mencuri meja kursi saja mereka malas, siapa sangka malah dapat keberuntungan sebesar ini.
Saat itu, semua orang sudah siap beraksi!
Chen Mingjie tak peduli tatapan mereka, duduk di sebuah kursi di sampingnya, “Kalian tahu kursi apa yang aku duduki ini?”
Semua menggeleng.
“Ini adalah Kursi Karang Laut Biru, nilainya seribu seratus sebelas tael perak putih.”
Chen Mingjie dalam hati mengumpat, ini kursi khusus buat jomblo saja...
“Apa katamu? 1111 tael perak!” Ketua Geng Elang Hitam benar-benar tak percaya telinganya.
Satu kursi 1111 tael perak, belum pernah terdengar sebelumnya.
“Hahaha, kita kaya! Semuanya aku bawa!” Ketua tertawa terbahak-bahak.
Chen Mingjie tersenyum tipis, ekspresinya aneh, “Wah, tidak gagap lagi rupanya...”
“Jangan banyak omong!” Ketua berteriak, “Cepat angkat semua!”
Sekarang, meskipun meja kursi itu seberat seratus kati, mereka pasti bisa mengangkutnya.
Bagi mereka, semua meja kursi itu sudah seperti tumpukan emas dan perak.
Walaupun Kursi Karang Laut Biru cuma ada satu, meja bundar giok salju ada dua, meja kayu pear emas ada belasan, ditambah kursi-kursinya, total nilainya sekitar empat sampai lima ribu tael perak. Chen Mingjie dalam hati menangis darah, meski sudah menyuruh beli yang paling mahal, Manajer Wang ini benar-benar tak peduli uangku...
Dua ribu empat ratus tael yang dulu sudah lama habis, untung di Lelangan Lintian sempat menjual tiga batang Rumput Fuling, dapat tujuh atau delapan ribu tael, sekarang juga hampir ludes.
Manajer Wang, kamu benar-benar anggap aku juragan kaya...
Saat Ketua Geng Elang Hitam memberi aba-aba, Chen Mingjie mengangkat tangan, “Tunggu dulu!”
Semua orang tertegun, lalu tertawa keras-keras.
Wakil Ketua berkata, “Cuma kamu, mau menghalangi kami? Konyol!”
Chen Mingjie nyengir sambil menunjuk kakak beradik Yu Wen, “Aku tadi bilang tidak akan menghalangi, tapi mereka belum tentu...”
Semua menoleh, melihat dua anak kecil yang tingginya saja belum sampai pinggang mereka, lalu tertawa terbahak-bahak.
“Hanya dua bocah bau kencur, mau menghadang kita, lucu sekali!”
“Benar, sama sekali tidak lucu, sebentar lagi kalian pasti tidak bisa tertawa lagi.”
Chen Mingjie berkata pada kakak beradik Yu Wen yang sedang pemanasan, “Yang ini serahkan pada kalian, bisa kan?”
Keduanya menjawab serempak, “Siap, Kak Aji!”