Bab Satu: Si Miskin vs Sang Putri Kaya
“Sayang, aku berangkat dinas ya. Selama aku tak di rumah beberapa hari ini, kamu harus jadi anak manis!”
Istriku menyeret koper, berpamitan padaku dengan sebuah kecupan perpisahan. Ia begitu memesona dan penuh daya tarik; setiap gerak-geriknya saja mampu mengusik syarafku.
Memiliki seorang istri yang cantik, bijak, piawai di ruang tamu maupun dapur—barangkali itulah impian setiap lelaki.
Aku dan istriku menikah secara kilat, benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama.
Belum genap dua minggu kami saling mengenal, kami telah melangkah ke gerbang pernikahan. Sampai sekarang pun aku masih merasa tak percaya, seolah tengah bermimpi.
Aku seorang yatim piatu, tak punya mobil, tak punya rumah, pun tanpa tabungan—pria dengan tiga kekosongan dalam hidupnya.
Namun, aku menikah dengan seorang wanita muda, cantik, kaya, dan terhormat. Bahkan setelah menikah, istriku mengalihkan dua unit properti dan sebuah mobil mewah atas namaku.
Bisa dibilang, dalam semalam saja, nilai diriku melonjak berkali lipat.
Kisahku membuat banyak orang iri.
Pun, tak dapat kupungkiri, hal itu memuaskan egoku sebagai seorang lelaki.
Diam-diam, ada pula yang mencibirku sebagai lelaki yang hidup menumpang pada harta istri. Namun aku tahu, itu hanya buah hati yang tak sampai pada anggur, lalu berkata anggur itu asam.
Beberapa bulan pernikahan kami terasa begitu ideal dan harmonis.
Namun kini, hatiku dipenuhi rasa sangsi dan gelisah.
Sebab kemarin, aku menemukan sebuah rahasia.
Dan semuanya, bermula dari hari pernikahan kami.
Sebagai yatim piatu, aku tak punya keluarga. Saat menikah, aku hanya mengundang beberapa kawan lama dan sahabat.
Namun istriku berbeda. Ia seorang wanita terhormat, lahir di keluarga berkecukupan.
Pernikahan semestinya tak boleh kehilangan kemegahan.
Pada hari itu, kami menggelar pesta besar di hotel.
Beberapa kerabat istriku turut hadir, semuanya orang-orang terpandang. Hanya dari uang hadiah pernikahan, kami sudah mengumpulkan lebih dari satu juta.
Dan seluruh uang itu, dipercayakan istriku padaku untuk disimpan.
Namun kemarin, di jalanan, aku bertemu ‘paman’ istriku.
Aku ingat betul, istriku pernah memperkenalkan pamannya sebagai pejabat tinggi perusahaan. Pada hari pernikahan, pamanku memberi hadiah uang sebesar tiga puluh ribu—semua tercatat rapi.
Sebenarnya, tak ada yang aneh jika aku bertemu pamannya. Namun, yang membuatku tertegun, paman itu kini memungut barang bekas di jalanan.
Seorang eksekutif perusahaan, tapi jadi pemulung?
Perbedaan status ini sungguh janggal.
Awalnya, kukira aku hanya salah lihat. Tapi semakin kupikir, semakin aku merasa ada yang tak beres.
Aku bahkan membandingkan video hari pernikahan dengan penampilan pria itu.
Aku yakin, itu orang yang sama, bukan sekadar mirip.
Tapi, kenapa paman istriku bisa jatuh sedemikian rupa?
Kalaupun tertimpa musibah, masakan sampai sejatuh itu? Mengapa pula kerabat istriku yang lain tak menolongnya?
Rahasia ini terpendam lama dalam hatiku.
Aku sempat menyinggungnya pada istriku, mengatakan, “Sebentar lagi festival pertengahan musim gugur, bagaimana kalau kita membelikan hadiah dan menjenguk pamanmu?”
Namun istriku menjawab santai, tak perlu, pamannya sedang berlibur ke luar kota bersama keluarga.
Jawaban itu justru menambah kecurigaanku.
Aku tak tahu, apakah istriku memang tak tahu, atau sengaja menyembunyikan sesuatu dariku.
Mumpung istriku pergi dinas, aku memutuskan mencari tahu kebenarannya.
Aku menunggu di jalan tempat terakhir aku bertemu ‘paman’, lebih dari satu jam, sampai akhirnya ia muncul.
Aku segera menghampirinya dan menghadangnya.
“Anak muda, kenapa kau menghalangi jalanku?”
Paman itu mengenakan pakaian lusuh, di pundaknya tergantung karung plastik, menatapku dengan curiga.
“Bapak tak ingat aku?”
Aku bertanya dengan suara berat, “Aku Chen Yang—Xiaoyangzi!”
“Apa-apaan ini, aku tak kenal kau.”
Ia mengibaskan tangan dengan jengkel. Dari ekspresi dan nada suaranya, sepertinya ia betul-betul tak mengenaliku.
Jangan-jangan, aku memang salah orang?
Tapi aku tak mau menyerah, “Coba Bapak ingat-ingat, tiga bulan lalu, di pesta pernikahan Hotel Four Seasons…”
“Waduh!”
Mendadak matanya membelalak, ia mengumpat pelan, lalu bergegas lari.
Aku terpaku beberapa detik, lalu mengejar.
Akhirnya, di sebuah gang buntu, ia terpojok.
Dengan wajah getir ia berkata, “Nak, kenapa kau terus mengejarku?”
“Menurutmu, kenapa?”
Aku terengah-engah, tak bisa menahan emosi.
Jelas sekali, ia pasti ingat, kalau tidak, untuk apa ia lari?
Setelah aku desak berkali-kali, akhirnya ia mengaku.
“Itu istrimu yang membayarku untuk hadir di pesta pernikahan, semua ucapan yang kusampaikan juga sudah disiapkan sebelumnya.”
Kepalaku seolah meledak.
Dibayar!
Ini sungguh sulit dipercaya.
Tapi, kenapa?
Mengapa istriku membayar seorang pemulung untuk berpura-pura menjadi pamannya?
“Lalu, tante yang bersamamu saat itu…”
“Itu juga sama, pemulung. Ia biasa memungut barang di jalan sebelah. Begitu pula dengan Lao Wang, Lao Xu…”
Satu per satu nama keluar dari mulut ‘paman’, membuat duniaku seolah runtuh.
Di hari pernikahan itu, berapa banyak tamu dari pihak istri yang sebenarnya hanyalah orang bayaran?
Aku pulang tanpa sadar bagaimana langkah kakiku menuntunku.
Hanya satu pertanyaan yang terus bergema di benakku: kenapa istriku menipuku? Untuk apa semua sandiwara ini?
Satu dusta akan melahirkan ribuan dusta lain untuk menutupi.
Paman, tante, semuanya palsu; bahkan paman besar dan bibi besar juga palsu…
Lalu, siapa dari para kerabat yang hadir di hari pernikahan itu yang benar-benar kerabat?
Ataukah, semuanya hanya aktor bayaran, pesanan dari istriku?
Bagaimana dengan orang tua istriku?
Ayah dan ibu mertuaku—jangan-jangan mereka pun palsu?
Jika sampai itu benar, sungguh keterlaluan.
Istriku selalu berkata, orang tuanya telah pindah ke luar negeri dan tak tinggal di tanah air.
Bahkan jika aku ingin menyelidiki, aku harus ke luar negeri.
Namun, andai semuanya hanya sandiwara, pasti ada jejak yang tertinggal.
Aku mencari rekaman video pernikahan, berniat menyalin foto kedua orang tua itu.
Tanpa sengaja, aku menemukan sebuah kartu identitas di dalam lemari.
Foto di kartu itu jelas milik istriku.
Tapi namanya bukan Lin Xinyu, melainkan Zhang Xiaomeng.
Kali ini, aku benar-benar terperangah.
Bagaimana mungkin? Mengapa istriku memiliki dua KTP?
Jadi, siapakah dia sebenarnya—Lin Xinyu atau Zhang Xiaomeng?
Aku simpan kartu identitas itu, lalu menghubungi detektif swasta, mengirimkan foto ‘orang tua’ mertuaku, dan memintanya untuk menyelidiki.
Tak butuh waktu lama, keesokan sore detektif itu meneleponku, mengajakku bertemu di Starbucks.
Aku datang seperti janji, membayar sisa biaya, lalu menerima satu map dari tangannya.
Di dalam map itu, semua data yang kubutuhkan tersedia.
Detektif itu berkata, “Dua orang yang Anda minta selidiki adalah figuran kawakan dari Hengdian. Di sini ada alamat dan nomor telepon mereka. Kalau Anda kurang yakin, silakan cek sendiri.”
“Tidak, tak perlu…”
“Kalau begitu, bila tak ada lagi yang perlu dibicarakan, saya permisi. Bila nanti Anda butuh jasa saya lagi, silakan hubungi.”
“Baik.”
Aku mengangguk. Setelah detektif itu pergi, aku buru-buru meneguk kopi, berusaha menenangkan diri.
Palsu, semuanya palsu.
Di hari pernikahan itu, semua kerabat istri, bahkan orang tuanya sekalipun, hanyalah sandiwara belaka.
Kenapa?
Mengapa perlu sedemikian repotnya, menyusun rencana sebesar ini?
Apakah semata-mata demi menikah denganku?
Aku rasa, segalanya tak sesederhana itu.
Juga soal kartu identitas itu.
Segala sesuatu kini menjadi buram dan penuh misteri.
Aku serasa telah jatuh dalam perangkap yang dibuat oleh istriku sendiri.