Bab 21: Jika Dia Baik, Aku Juga Akan Baik
"Itu belum tentu!"
Tangan Xiaoxiao berhenti mencatat, "Tak peduli bagaimana hubungan kalian, kalian berdua sudah berkeluarga. Hal semacam ini tidak akan pernah mendapat pengakuan."
"Aku tidak pernah berharap diakui. Bisa bersama dengannya seperti ini, berada di sisinya, aku sudah sangat puas. Aku tidak meminta apa-apa lagi. Aku hanya ingin dia baik-baik saja, karena jika dia bahagia, aku juga akan bahagia."
Awalnya Xiaoxiao selalu mengira orang ketiga dalam sebuah hubungan pasti mengincar uang. Namun, hari ini, wanita ketiga ini menghancurkan pandangannya tentang orang ketiga.
"Kami sudah saling mengenal lebih dari dua puluh tahun. Istilah ‘bertemu terlalu terlambat’ itu seperti kami.
Saat aku mengenalnya, putrinya baru berumur dua tahun, dan aku masih gadis lugu. Sejak pertama kali melihatnya, aku tahu, dia adalah orang yang selama ini kucari.
Aku tidak peduli dia punya keluarga, bahkan tak pernah terpikir untuk menghancurkan keluarganya. Aku tak masalah menjadi yang kedua, menjadi istri muda, asalkan bisa bersamanya.
Hari-hari kami bersama sangat bahagia, sangat menyenangkan! Tak lama setelah itu aku hamil, itu buah cinta kami. Meskipun keluarga kami berdua menentang, aku tetap ingin melahirkan anak itu. Karena dia pemberian darinya.
Demi memberikan anak itu keluarga yang utuh, agar dia bisa tumbuh seperti anak-anak lain, aku tidak memaksa dia bercerai, tidak juga datang ke rumahnya dan bertahan di sana. Aku mencari suamiku yang sekarang. Dia berasal dari keluarga tak mampu, wajahnya pun biasa saja, seumur hidupnya mustahil mendapatkan istri. Bisa kuizinkan dia menjadi ayah anakku, tentu dia sangat senang..."
Xiaoxiao dan Shen Junhao terdiam mendengar semua itu.
Jelas sekali, dia benar-benar mencintai pria itu. Di mana pria itu bekerja, dia pun akan mengikuti. Di mana pria itu membeli rumah, dia pun membeli rumah di sana. Semuanya dia usahakan dengan kedua tangannya, berjuang sendiri, hanya demi selalu dekat dengan pria itu.
"Itulah sebabnya, aku pasti ingin yang terbaik untuknya. Aku bekerja di sini sepenuh hati, menganggap pabrik ini seperti milikku sendiri, semua pekerjaan kulakukan dengan sungguh-sungguh. Aku ingin pabrik ini maju, bisa menghasilkan uang. Walaupun uang itu semuanya diserahkan kepada istrinya, setidaknya dengan begitu, hubungan mereka tidak akan rusak karena keberadaanku.
Keluarganya bahagia, suasana hatinya pun baik. Dia bahagia, aku pun bahagia."
Ternyata, saat dia mengatakan kebahagiaan pria itu adalah kebahagiaannya, bukan soal uang, melainkan tentang kehidupan pria itu sendiri.
Xiaoxiao tidak tahu harus menyebut wanita itu hebat atau tidak. Seorang wanita yang berbuat sampai sejauh ini, di satu sisi tampak sia-sia, di sisi lain sangat berat, namun semuanya dia jalani dengan rela.
"Apakah istri pria itu tahu tentang hubungan kalian?"
"Tahu," jawabnya tanpa ragu. "Awalnya dia sangat marah, bahkan sempat minta cerai. Tapi setelah waktu berlalu, dia tahu aku sama seperti dirinya, sama-sama ingin yang terbaik untuknya, dan aku tidak mengincar uang, akhirnya dia menerima aku dan anakku."
"Menerima kalian?"
Dia mengangguk. "Kedengarannya memang sulit dipercaya, tapi itu kenyataannya. Rumah kami berada di lantai yang sama, dan biasanya dua keluarga kami sering makan bersama, kadang pergi liburan bersama juga."
"Jadi, kamu juga sudah mengenal Dai Qing sejak lama?"
"Jujur saja, aku menyaksikan dia tumbuh besar. Dia anak yang malang, ayahnya meninggal karena sakit saat dia masih kecil. Setelah itu, ibunya menikah lagi, tapi sayang, ayah tirinya tidak berhati. Waktu nenek Dai Qing sakit, ayah tirinya itu tak mengizinkan ibunya pulang menjenguk. Padahal hanya dipisahkan sungai, tapi mereka tidak sempat bertemu untuk terakhir kalinya.
Setelah itu, ibunya Dai Qing tidak pernah menikah lagi. Dia menghabiskan seluruh waktu dan tenaganya bermain mahyong. Melihat dia kasihan, bibinya dan paman membawanya ke rumah mereka.
Jangan kira dia pendiam, sebenarnya dia sangat peka. Siapa yang baik padanya, siapa yang tidak, dia tahu betul."
Kata-katanya terus terngiang di kepala Xiaoxiao. Jika semua itu benar, berarti yang dikatakan Dai Qing adalah kebohongan. Tapi mengapa dia berbohong?
"Kalau mau cari kebenaran, tinggal tanya saja orang lain."
"Ayo kita tanya Li Bing," usul Xiaoxiao.
"Bisa juga, dia kepala bagian, mungkin dia tahu sesuatu."
Saat itu bagian produksi sangat sibuk, Li Bing juga mondar-mandir mengurus banyak hal. Namun, melihat mereka, ia segera menyerahkan pekerjaannya dan mengajak mereka ke kantor.
"Mau teh atau air putih?" tanya Li Bing sambil memegang dua gelas kertas.
"Air putih saja, tidak usah repot-repot."
"Apa repotnya? Soal yang kemarin pun aku belum sempat berterima kasih. Bagaimana? Ada perkembangan soal Ouyang?" tanya Li Bing sambil meletakkan air di depan mereka, duduk, lalu bertanya santai.
Shen Junhao menyesap sedikit air, baru bertanya, "Selama Ouyang bekerja atau dalam kehidupan sehari-hari, pernah ada masalah atau cekcok dengan siapa pun?"
"Sepertinya tidak ada. Dia sudah hampir dua tahun di sini, selama itu dia selalu bekerja dengan baik, tidak pernah cari masalah."
"Pada hari kejadian, apakah kamu melihat ada orang luar masuk ke sini?"
"Itu tidak mungkin. Pabrik ini memang milik pribadi, tapi orang luar tidak bisa masuk. Pintu kami pakai kunci sandi, jadi tidak sembarang orang bisa masuk.
Petugas Shen, Petugas Xia, pelakunya pasti orang dalam pabrik ini. Tapi aku benar-benar tidak bisa menebak siapa."
"Apakah bos kalian sering tidak ada di pabrik?"
"Ah, dia kan bos, kami pekerja tidak berani bertanya urusan pribadinya. Tapi biasanya kalau sedang senggang, dia suka main mahyong, kadang juga keluar beli barang."
"Selalu sendirian?"
"Tidak selalu. Kadang bersama kepala gudang. Ini bukan gosip, semua orang di pabrik tahu, anak kepala gudang itu sebenarnya anak bos juga."
"Semua orang tahu? Berarti istri bos dan Dai Qing juga tahu?"
"Tentu saja tahu! Hubungan dua keluarga itu memang akrab sekali, bahkan hubungan istri bos dan kepala gudang pun sudah jadi rahasia umum."
"Apakah istri bos suka datang ke pabrik?"
Li Bing menggeleng, "Nyaris tidak pernah."
—
Setelah keluar dari kantor, mereka kembali ke TKP. Shen Junhao yakin tidak mungkin tidak ada jejak yang tertinggal.
Awalnya mereka mengira hari ini pasti bisa menemukan pembunuhnya. Namun dari hasil tanya jawab, semua dugaan mereka semalam terpatahkan.
TKP terasa sunyi dan menakutkan, mungkin karena baru saja terjadi pembunuhan. Hampir tak ada orang di sekitar situ. Mereka masuk dan kembali mengamati dengan seksama.
"Waktu itu Ouyang tergeletak di sini," kata Xiaoxiao sambil menunjuk ke dekat pintu masuk. "Kepalanya menghadap ke dalam. Artinya, pelaku ada di dalam, di belakangnya.
Apa mungkin dia melihat Ouyang melakukan sesuatu?"
Shen Junhao melangkah masuk, berkata, "Atau mungkin dia sengaja dipanggil ke sini untuk membicarakan sesuatu, lalu negosiasi gagal dan pelaku pun membunuhnya."
"Bertransaksi dengan orang biasa?"
Xiaoxiao berkata sambil berjalan keluar, Shen Junhao langsung mengerti alasannya dan segera menyusul.
Saat itu, pintu kantor Dai Qing sudah terkunci. Xiaoxiao mengetuk lama, tapi tak ada yang membukakan. Seorang karyawan yang lewat memberitahu, setelah mereka pergi tadi, Dai Qing juga pergi.
Mereka segera pergi ke rumah bibi Dai Qing.
Ternyata, Dai Qing memang di sana.
Dai Qing berdiri dengan satu tangan di gagang pintu, satu tangan lagi diletakkan santai di samping tubuhnya, tampak terkejut, "Kenapa kalian ke sini?"
"Dai Qing, ikutlah kami ke kantor polisi untuk diperiksa."
Dai Qing melirik ke dalam rumah, "Ssst, pelan-pelan, tunggu di luar, aku mau pamit pada bibi dulu."