Bab 64: Berbicara Terbuka dan Jujur
Sudah jelas bahwa Shen Junhao melakukannya dengan sengaja.
Xia Xiaoxiao sedang asyik membaca dokumen ketika tiba-tiba Shen Junhao muncul bersama wanita itu, bahkan menaruh tangan di pundaknya, lalu berkata dengan santai, “Semua, hari ini aku ada urusan mendadak yang harus diselesaikan. Kalau ada hal penting, hubungi aku saja.”
Sebagai ketua tim, kalau dia bilang ada urusan, siapa pun tak bisa menahannya, bahkan bertanya pun tak berani.
Begitu dia pergi, semua orang menahan diri karena ada Xia Xiaoxiao, tak berani berbicara keras, hanya berbisik-bisik, “Kenapa sekarang ketua tim juga mulai bolos kerja?”
Meski suara Li, salah satu rekan, dikecilkan, tetap saja terdengar oleh Xia Xiaoxiao yang sedang bekerja serius di mejanya.
“Biasanya dia selalu mengutamakan pekerjaan. Sepertinya gadis itu memang cinta sejatinya!”
“Benar juga. Kapan ketua tim pernah seperti ini? Kudengar gadis itu dokter di rumah sakit, lulusan terbaik pula.”
“Hei, menurut kalian, kenapa dulu ketua tim menolak begitu banyak gadis? Mungkin karena dia?”
“Aku rasa begitu.”
“Aku juga setuju.”
“Kalau tidak, memang apa alasannya? Ambil aku sendiri misal, dulu waktu sekolah juga ingin punya pacar.”
“Siapa sih yang tidak? Waktu SMA tidak pacaran bisa dibilang demi ujian masuk universitas, tapi kalau di universitas juga tidak pacaran, pasti ada masalah. Bukan cuma itu, tiap hari juga harus melihat orang lain pamer kemesraan, hidup jadi tak nyaman!”
Semua tampak setuju dan saling mengangguk.
Akhirnya alasan kenapa Shen Junhao selama ini tidak berpacaran pun terungkap.
“Tapi harus diakui, Shen memang jago menyimpan rahasia. Begitu ketahuan, langsung pamer kemesraan, cepat sekali.”
“Halah, kalau kamu punya pacar secantik itu, pasti juga akan pamer! Lihat saja betapa cantiknya gadis itu! Semua pria pasti suka!”
Sepanjang sore, mereka terus membicarakan hal itu, suara mereka makin keras, sampai-sampai melupakan kehadiran Xia Xiaoxiao. Hanya Gu Minzhi yang menepuk pelan tangan Xia Xiaoxiao.
Tapi Xia Xiaoxiao tetap tampak tak peduli, sepenuhnya menenggelamkan diri dalam pekerjaannya.
“Xiaoxiao, kamu benar-benar tidak apa-apa?”
Xia Xiaoxiao berbaring di sofa, memainkan ponsel. Seharian dia terus-menerus dihantui pertanyaan itu. Dia kira malam nanti bisa menikmati waktu untuk dirinya sendiri, tak lagi bersedih, namun Gu Minzhi kembali menyinggungnya.
Kali ini, ia tak sanggup menahan diri, langsung terisak di pelukan Gu Minzhi.
“Minzhi, hari ini aku benar-benar sedih. Selama ini aku kira perasaanku padanya hanya seperti adik ke kakak, kupikir hubungan kami masih seperti masa kecil dulu.
Sebelumnya aku benar-benar berpikir seperti itu. Tapi akhir-akhir ini, setiap kali melihat dia bersama gadis itu, hatiku terasa sangat sakit.
Awalnya aku masih mencoba menghibur diri, bahwa aku hanya belum terbiasa hidup tanpa kehadirannya, hanya butuh waktu untuk menerima kalau dia kini peduli pada orang lain. Tapi sekarang aku sadar, ternyata bukan itu masalahnya, Minzhi.”
Xiaoxiao berkata sambil menegakkan kepala, kedua tangannya menggenggam lengan Gu Minzhi erat-erat, “Minzhi, aku merasa aku tak bisa lagi hidup tanpanya. Aku tak tahu sejak kapan perasaan ini muncul. Yang kutahu, sekarang hatiku sangat sakit, sangat sakit, rasanya seperti waktu kecil boneka kesayanganku direbut orang.”
Siapa pun yang melihat Xiaoxiao pasti akan merasa iba melihatnya begitu muram.
“Minzhi, menurutmu ini yang disebut jatuh cinta?”
Gu Minzhi mengangguk berat.
“Ya, Xiaoxiao, tak apa. Nanti seiring waktu, semuanya akan berlalu.”
“Benarkah?” Xiaoxiao menatapnya ragu.
Gu Minzhi melepaskan tangan Xiaoxiao, bangkit lalu berjalan beberapa langkah, membelakanginya, suaranya serak, “Bohong pun lama-lama bisa jadi kenyataan. Tak ada yang bisa dilakukan. Bagaimanapun usaha kita, dia takkan berubah karena kita, tak ada jalan lain.”
Xiaoxiao menangis makin sedih, “Aku tahu memang begitu. Apa yang mereka katakan tadi juga benar, gadis itu memang sangat cantik, pekerjaannya bagus, pendidikannya tinggi, orangnya juga lembut. Kakak ketiga memang sangat melindunginya, bahkan aku sendiri belum pernah melihatnya sebelum ini.”
“Mungkin mereka baru saja saling kenal.”
Xiaoxiao menggeleng, “Itu tidak mungkin, dia bukan tipe orang yang baru kenal sehari langsung mesra-mesraan. Bukankah kamu juga bilang, waktu sekolah dulu dia menolak banyak orang? Selain alasan ini, aku rasa tak ada alasan lain yang masuk akal.”
Gu Minzhi pun sebenarnya sangat memahami hal ini.
Shen Junhao kalau menolak orang, benar-benar tanpa basa-basi, sangat tegas. Kalau bukan karena cinta sejati, mana mungkin dia bersikap sekeras itu hanya untuk main-main.
Mengingat pengalaman sendiri, Xiaoxiao pun merasa tak heran.
Gu Minzhi menoleh menatap Xiaoxiao, “Jangan dipikirkan lagi, tidurlah lebih awal. Setelah bangun, semuanya akan berlalu.”
“Benarkah semuanya bisa berlalu? Menurutmu, besok gadis itu masih akan datang ke kantor polisi mencari dia? Menurutmu, besok mereka masih akan makan siang bersama? Masih akan nonton film bersama? Masih akan berduaan di depan orang lain?”
Gu Minzhi terdiam. Dari kejadian beberapa hari ini, semua pertanyaan Xiaoxiao pasti akan menjadi kenyataan. Dan melihat itu semua, hatinya pun tak lebih baik dari Xiaoxiao.
Dulu, Shen Junhao memperlakukan Xiaoxiao dengan baik hanya sebatas perhatian sehari-hari, tidak pernah seintens sekarang, selalu pamer kemesraan. Dia ingin sekali mendoakan hubungan mereka cepat berakhir.
Tapi dipikir-pikir, itu mustahil. Siapa Shen Junhao? Kalau tak jatuh cinta, ya benar-benar tak peduli. Kalau sudah jatuh cinta, pasti tulus sepenuh hati. Gu Minzhi pun lesu duduk di sofa.
Lama sekali baru berkata, “Xiaoxiao, sebenarnya waktu kuliah aku pernah menulis surat cinta untuknya.”
Xiaoxiao menatapnya kaget, “Kamu? Kapan itu? Kenapa aku tak tahu?”
“Hal seperti itu memalukan, aku tak berani bilang. Awalnya kupikir kalau dia mau menerimaku, baru akan kuceritakan ke semua orang. Tak disangka aku terlalu naif, dia begitu luar biasa, mana mungkin dia suka padaku?”
Gu Minzhi terdiam sejenak, lalu tertawa kecil sambil melirik Xiaoxiao, “Bukan cuma itu, dia menolakku sangat dingin.”
Sepanjang cerita, Xiaoxiao hanya bisa tercengang.
“Dia bilang dia tak suka perempuan jurusan psikologi, katanya bergaul dengan mereka bikin tertekan, tak ada privasi. Waktu itu aku masih polos, bilang tak apa, jurusan kan bisa diganti, kalau dia tak suka psikologi, aku bisa pindah ke jurusan lain.”
Gu Minzhi meneguk air, menghela napas, “Coba tebak, apa yang dia katakan setelah itu?”
Xiaoxiao mengikuti, “Apa katanya?”
“Dia bilang itu hanya alasan halus, kalau aku memang mau percaya silakan, tapi dia takkan bertanggung jawab, juga tak akan tersentuh karenanya. Huh! Xiaoxiao, sebenarnya kamu benar, dia memang selalu sangat sombong. Tapi aku tak bisa menyerah.
Dengan susah payah aku tahu dia ikut lomba debat, aku ingin coba lagi. Hari itu aku berpisah denganmu di tengah jalan, sebenarnya untuk mencarinya. Kupikir kalau niatku tulus, besi pun bisa luluh, ternyata aku tetap saja terlalu polos.
Waktu pulang, aku bertemu dia. Dia bilang sudah tak ingat aku. Meski begitu, aku tetap tak kecewa, malah terus mendekatinya, bahkan memperkenalkan diri lagi dengan muka tebal.
Dia hanya berkata, ‘Oh, aku ingat, kamu yang dulu salah paham dengan ucapanku. Maaf, IQ-ku terlalu tinggi, aku tak mau bicara dengan orang yang IQ-nya rendah.’”
Xiaoxiao tahu dia suka berkata blak-blakan, tapi tak menyangka bisa sepedas itu.
“Dia menghindariku lalu pergi. Saat aku melihatmu mengenakan jaketnya, aku sangat iri, sekaligus hatiku sangat sakit, aku ingin menangis, tapi aku tak boleh, aku tak mau kalian tahu aku pernah berusaha mendekatinya tapi tak mendapat balasan baik, aku hanya bisa pura-pura bahagia dan memberi restu padamu.”
Xiaoxiao terdiam.