Bab 1: Kesialan Bertubi-tubi
Sejak zaman dahulu, dunia manusia dan dunia arwah saling terhubung erat. Ketika seseorang dari dunia manusia berhasil menapaki jalan menuju keabadian, di dunia arwah pun perlahan-lahan berkembang pula ilmu-ilmu khusus yang sesuai untuk tubuh hantu berlatih. Walau bagaimanapun, arwah tidak dapat menjadi dewa, tapi siapa yang akan menolak jika kekuatan dirinya bertambah?
Arwah-arwah yang telah mencapai tingkat tinggi dalam berlatih, bahkan dapat, melalui cara-cara yang tidak diketahui orang, kembali ke dunia manusia dengan membawa seluruh kekuatannya, atau terlahir kembali dengan bakat luar biasa, sehingga sejak lahir telah menjadi manusia pilihan.
Di antara mereka, ada yang enggan kembali ke dunia manusia, maka perlahan-lahan lahirlah suatu jenis tubuh baru—tubuh arwah. Tubuh arwah ini ibarat “manusia hidup” di dunia arwah, memiliki wujud jasmani, dapat berkembang biak, dan lantaran jumlah mereka yang sangat sedikit namun kekuatan arwahnya begitu tinggi, tak heran bila keluarga kerajaan dunia arwah jatuh pada tangan mereka.
Dahulu, dunia arwah dikenal sebagai dunia hantu, dipimpin oleh seorang penguasa agung bernama Raja Yama. Namun, kemudian... Raja Yama kalah telak dari Kaisar Arwah.
(Raja Yama: Diamlah kau!)
Lambat laun, dunia hantu pun berada di bawah kekuasaan Kaisar Arwah. Sejak tahun ketika Raja Yama... mengalami kehinaan luar biasa dan terpaksa tunduk, bergabung di bawah naungan Istana Raja Arwah, dunia hantu pun resmi berganti nama menjadi dunia arwah.
Bicara tentang dunia arwah, tak bisa tidak, mesti menyebut sang Kaisar Arwah yang namanya menggema di enam alam. Kaisar Arwah itu sendiri baru berusia beberapa ratus tahun, dan konon wajahnya amat memikat.
(Hmm... Dia segarang itu, siapa berani menatapnya lekat-lekat.)
Nama Kaisar Arwah adalah Ming Fengji. Kisah tentangnya biarlah disimpan dulu. Setiap kali menyebut keluarga kerajaan dunia arwah, setiap arwah tua yang telah makan garam bertahun-tahun pasti bergidik tiga kali. Bukan karena Kaisar Arwah menakutkan, melainkan karena adik bungsunya—adalah seorang yang tabiatnya tak menentu.
Di sudut terpencil Jalan Yin Si, seorang arwah tua berusia ratusan tahun, dengan hati penuh ketulusan, menasihati para arwah muda yang baru datang, “Jangan pernah cari gara-gara dengan Tuan Yan dari dunia arwah itu. Kalau kau bertemu, larilah sejauh mungkin! Konon dia itu berjiwa ganda, tabiatnya berubah-ubah, sangat kejam dan tak terduga. Tahu kenapa dia dipanggil Tuan Yan? Begini, di dunia manusia, yang mengatur hidup mati adalah Raja Yama, di dunia arwah ini, Tuan Yan itu ibarat Raja Yama kita! Tak perlu kujelaskan lagi, kalian ingat baik-baik, jangan pernah menyinggung dia...”
Seorang arwah perempuan muda yang lewat tertawa, “Kakek Sun, jangan menakut-nakuti para pendatang baru itu,” bisiknya lagi, “Tuan Yan itu sudah menghilang sejak enam puluh sembilan tahun lalu, mana mungkin tiba-tiba muncul dan membuat para arwah cilik ini celaka?” Selesai berkata, ia pun melenggang pergi.
Kakek Sun membatin, enam puluh sembilan tahun bukan waktu yang lama. Namun, melihat para arwah baru yang masih membawa ketakutan terhadap arwah, lalu menghela napas lega mendengar ucapan si perempuan, Kakek Sun pun tak berkata apa-apa lagi.
Enam puluh sembilan tahun lalu, entah apa yang menimpa adik sang Kaisar Arwah, hingga ia berubah total dari sifatnya yang biasanya bengis dan semena-mena, kini menjadi pendiam. Perubahan ini membuat para penghuni dunia arwah, tua-muda, ketakutan. Apa maksud Tuan Yan kali ini?
Siapa pula yang telah menyinggung marah Tuan Yan kita, biar si kecil ini membalaskan dendam untuk Anda!
Begitu kata-kata itu terucap, sorot mata Tuan Yan seketika berubah menjadi buas dan haus darah. Si arwah kecil yang melihatnya langsung sadar, oh, Tuan Yan yang dulu telah kembali, pasti ada yang menyinggung perasaannya!
Lalu... tiga roh dan tujuh jiwa si arwah kecil dilemparkan ke dalam delapan belas lapis neraka, intisari jiwanya dihancurkan, selamanya tak bisa bereinkarnasi ataupun berlatih lagi...
Kakek Sun membuka warung kecil di Jalan Yin Si, khusus untuk para arwah baru beristirahat. Ia telah tinggal di sana ratusan tahun, tak mau bereinkarnasi, sehingga ia pun menjadi saksi perubahan dunia arwah dalam beberapa dekade terakhir.
Baru saja selesai menasihati sekelompok arwah baru, ia melihat seorang pemuda berbaju hitam, dengan sebilah pedang berkarat tergantung di pinggang, melangkah santai ke arahnya.
Sebenarnya, ilmu yang dipelajari di dua dunia, dunia manusia dan dunia arwah, mempunyai banyak kesamaan. Kini pun, manusia bisa, dengan bantuan alat atau mantra tertentu, melalui formasi tertentu, masuk ke dunia arwah; demikian pula arwah bisa melakukan hal yang sama.
Pemuda itu, sejatinya adalah manusia hidup yang seharusnya berada di dunia manusia.
Jadi, bagi Kakek Sun, ini bukan hal aneh lagi. Bukan kali pertama ia melihatnya, tak ada yang istimewa.
Kalau dihitung, pertama kali ia melihat bocah itu, sudah sebelas dua belas tahun lalu.
“Kakek, aku keluar dulu,” ujar pemuda berbaju hitam dengan senyum cerah, wajahnya yang rupawan membuat Kakek Sun silau.
“Pergilah, hati-hati di jalan. Kalau pulang, mampirlah ke warung Kakek.”
Pemuda berbaju hitam itu mengangguk, lalu meninggalkan Jalan Yin Si.
Seperti biasa, ia mengeluarkan selembar jimat, menggenggam pedang di pinggang, membentuk mudra dengan tangan, dan sosoknya lenyap seketika dari hadapan.
…
Bergemuruh dan menggelegar, tak jauh dari sana, seekor makhluk raksasa tengah mengamuk, melampiaskan ketidakpuasan. Benda-benda berat roboh, menimbulkan debu tebal. Pohon purba sebesar dua pelukan tumbang, lalu menjadi santapan makhluk raksasa itu. Bahkan rumah jerami yang rapuh pun tak luput dari amukannya.
Tak jauh dari situ, seorang pemuda berwajah tampan dan bersih, wajahnya tenang, sorot matanya dalam dan sedikit waspada, namun jika diperhatikan, ada selarik gurauan di sana.
Ini kali pertama ia berhadapan dengan makhluk sebesar itu, tak pelak ia terpaku sejenak.
Dalam hati ia menggerutu: Jangan-jangan makhluk ini reinkarnasi arwah kelaparan... Rakusnya bukan main!
“Bu... buas pemakan segalanya, Taotie?! Astaga, Linchuan kecil, kali ini kita benar-benar celaka!” seru seorang pria paruh baya berjubah pendeta gelap, tak jauh dari sisi pemuda itu.
Mendengar kata “taotie pemakan segalanya”, para rekan di sekitarnya seakan ingin tumbuh sepuluh kaki agar dapat lari lebih cepat. Taotie saja sudah cukup membuat bulu kuduk merinding, apalagi ditambah dengan embel-embel “pemakan segalanya”—jelas itu makhluk mengerikan dan penuh teka-teki. Kalau bertemu binatang buas lain, mungkin masih bisa bertarung, tapi kalau dengan taotie, lebih baik jangan terlibat.
Kulitnya tebal, tak mudah dilukai, dan yang terpenting: apa pun bisa dimakan. Entah itu alat sihir kelas rendah atau artefak tingkat tinggi, di mata mereka semua tak ada bedanya—pada akhirnya semua akan masuk perut, bisa dibedakan pun percuma.
Namun, pemuda usia lima belas enam belas tahun itu, kulitnya putih bersih, mengenakan pakaian tempur hitam, kedua tangannya bersilang di dada, berkata dengan heran,
“Itu kan cuma taotie, makhluk pemakan banyak, kenapa tak pakai jimat saja, kenapa kalian penakut sekali? Kalian bodoh, ya?”
Pria paruh baya itu melototkan mata kecilnya, sambil terus melirik ke arah taotie yang buas itu, matanya juga mencari-cari jalan kabur terbaik. Mendengar pertanyaan pemuda itu, ia pun mendengus dalam hati, “Bocah bodoh.”
Namun, mengingat tadi bocah itu sempat membantunya, akhirnya ia bersedia memberi sedikit pencerahan:
“Kau belum tahu, ya? Paman ini sudah lama melalang buana di dunia persilatan, dan makhluk itu sangat berbahaya! Untuk orang selevel kita, tak ada gunanya cari gara-gara dengannya. Lagi pula, ia sangat peka pada fluktuasi energi spiritual, meski penglihatannya buruk. Sekarang ia sedang makan di sana, belum sadar akan kehadiran kita, lebih baik cepat pergi; kalau kau pakai jimat, pasti bakal menarik perhatiannya. Kami pergi dulu, besok paman traktir kau minum...”
Ia terdiam sejenak, lalu menambahkan, “Jangan bilang kami tak memperingatkanmu, mulutnya punya daya hisap besar. Begitu kepalanya menoleh, kau tak akan sempat lari!”
Ucapan itu belum selesai, tiga orang yang tadi berdiri di sekitar pemuda sudah lenyap entah ke mana.
Pemuda itu menatap tanah kosong di sampingnya—wah, larinya cepat sekali, pakai jimat kecepatan atau jimat teleportasi, ya?
Ia mendongak, memandang makhluk raksasa di seberang yang tengah asyik menyantap segalanya. Alis indahnya sedikit berkerut, sorot matanya datar, tangan kiri menyentuh pinggang, tangan kanan menopang batang pohon besar, tampak berpikir cara meloloskan diri.
Entah bisa atau tidak membunuh makhluk sebesar itu. Kenapa sebelumnya ia tak pernah mendengar tentang makhluk seperti ini? Taotie, bukankah makhluk buas kuno itu sudah lama dikurung, mengapa muncul di sini? Lagi pula, sepertinya ini peliharaan seseorang?
Pemuda yang dipanggil “Linchuan kecil” oleh pria paruh baya itu, nama aslinya adalah Fu Ze, baru berusia lima belas, tinggal di sebuah gubuk mungil di lereng gunung dunia arwah, rumah itu ia bangun sendiri. Oh, omong-omong, percaya atau tidak, ia adalah manusia hidup, benar-benar hidup, bukan arwah kelas rendah.
Mengapa manusia bisa menetap di dunia arwah, dan bertahan hidup begitu lama? Fu Ze sendiri mengaku tak tahu, dan merasa tak perlu tahu. Konon, ini sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu.
Sebagian besar manusia yang masuk ke dunia arwah hanya bisa bertahan sejenak karena berlatih ilmu khusus, seperti Fu Ze yang tinggal sesuka hati di dunia arwah, sungguh langka.
Kembali pada situasi Fu Ze saat ini, tampaknya ia tidak dalam kondisi baik.
Tunggu, bukankah tadi pria itu bilang pakai jimat akan membuat fluktuasi energi dan menarik perhatian... Tapi orang-orang itu barusan melarikan diri dengan jimat...
Hei! Tak adil betul menipu orang seperti ini!
Taotie buas itu jelas-jelas sudah merasakan keberadaan manusia hidup.
Sial, Fu Ze benar-benar celaka kali ini. Ia telah ditemukan oleh sang Taotie, dan makhluk itu tampaknya sangat “tertarik” padanya.
Sebelum otaknya sempat berpikir, tubuhnya sudah mengambil keputusan, dan saat ia sadar, dirinya telah berlari ratusan meter jauhnya.
Angin menderu di belakang, datang dari pusaran mulut Taotie, menarik-narik ujung bajunya. Karena pusaran itu, laju larinya melambat drastis.
Tak bisa begini terus. Ia tak suka lari dari masalah, maka ia mulai melemparkan alat sihir, jimat, batu roh ke arah Taotie...
Hasilnya... semua percuma, akhirnya semua masuk perut Taotie bagai makanan pencuci mulut.
Selesai makan, Taotie bahkan menjilat bibir, seakan belum kenyang...
Segala harta bendanya...
Benar juga, seperti kata pria itu, menghadapi makhluk “bandel” macam ini sungguh sulit.
Fu Ze membatin, ia tak mau lagi bertemu makhluk seperti ini, kakinya nyaris putus berlari, siapa yang mau menolongnya!
Mana janji gotong royong dan tolong-menolong?!
Mengingat “bekal” yang dilemparnya ke mulut Taotie, ia ingin menangis tanpa air mata—semua kekayaannya habis tak bersisa.
Si pemuda hanya bisa menghela napas panjang: Seandainya tahu begini, takkan sudi datang ke sini.
Namun tampaknya langit tak mendengar doanya.
Sudah jatuh tertimpa tangga pula.
Di saat genting, masalah lain yang membuat kepala Fu Ze pening pun datang. Sialnya, ia justru bertemu dengan orang yang paling tak ingin ia temui…
“Penyelundup, ikut aku!” Mendadak terdengar suara dingin tanpa emosi dari mulut petugas pemeriksa. Jantung Fu Ze langsung bergetar hebat.
Dalam keadaan seperti ini, Fu Ze benar-benar ingin menangis namun tak mampu.