Tiga ratus tahun setelah kiamat, bangsa serangga mengamuk, makhluk-makhluk jahat menggelegak, dan umat manusia hanya mampu bertahan dengan sisa-sisa hidup di dalam tempat perlindungan bawah tanah. Bangkit dari kehinaan, menemukan makna di tengah kegelapan. Kita memang lemah, namun tulang kita tetap kokoh dan tegar; kita memang rapuh, namun keberanian kita tak pernah surut. Inilah era di mana darah mendidih, inilah zaman penuh kelam dan kekejaman. Saat Chu Xiaobai diangkat menjadi kepala Tempat Perlindungan Nomor 111, sejarah pun ditakdirkan untuk berubah. ps: Kisah ini murni fiksi, mohon untuk tidak ditiru. Grup pembaca: 658674890
“小 Bai, kau akhirnya sadar. Sebenarnya apa yang telah terjadi?” Suara riuh yang penuh kegaduhan membangunkan Chu Xiaobai dari tidurnya.
Di sekelilingnya, sebuah ruangan sepenuhnya terbuat dari logam; lantai dan langit-langit memancarkan kilauan dingin dan keras, saling memantul, menciptakan nuansa fiksi ilmiah yang nyaris tak nyata.
“Ayo cepat, katakan! Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa saat kami tiba di lokasi, hanya kau seorang yang masih hidup?” Suara perempuan yang merdu itu kembali terdengar, kini diselimuti kegelisahan yang tak tersembunyikan.
Seberkas memori kacau melintas di benaknya, membuat Chu Xiaobai terpaku, hingga akhirnya ia menyadari situasinya saat ini.
Ia telah tiba di dunia tiga ratus tahun setelah kiamat, dan identitasnya kini adalah salah satu penghuni Shelter 111, tetap bernama Chu Xiaobai.
Kemarin, pemimpin tertinggi Shelter 111, Zhao Ji, membawa serta sebuah tim kecil untuk ekspedisi, namun naas mereka menghadapi Lord Zombie Terbang tingkat tujuh. Hanya ia sendiri yang terjatuh ke dalam sebuah lubang tanah dan berhasil menyelamatkan nyawanya, sementara semua anggota lain menjadi santapan makhluk itu. Zhao Ji, manusia terkuat Shelter 111, seorang superhuman tingkat tujuh, menurut ingatan yang samar, tampaknya telah membinasakan sang Lord Zombie Terbang dalam pertarungan mematikan.
Mengingat kembali kenangan Zhao Ji yang menghancurkan sebuah bukit dengan satu pukulan, membelah sungai dengan satu tendangan, Chu Xiaobai dilanda rasa tidak nyata.
Manusia, dapatkah benar-benar berevolusi hingga sejauh itu?