Bab 11 Sahabat Masa Kecil di Masa Lalu
Halaman 1/3
Setelah Xie Lanxi selesai berbicara, Xie Shuyao tiba-tiba mundur setengah langkah sambil mencubit hidungnya. “Sungguh besar omonganmu. Baunya terlalu menyengat. Kalau tidak tahu, orang bisa mengira setiap perkataanmu adalah titah Kaisar.”
Wajah Xie Lanxi memerah, lalu seketika memucat. Ia membentak marah, “Kau gila? Bicara omong kosong apa kau!”
Berani-beraninya membawa-bawa titah Kaisar. Apa dia tidak takut nyawanya masih terlalu panjang?
“Cih! Rupanya kau tahu juga apa artinya bicara omong kosong. Pulanglah dan bercermin.”
Setelah berkata demikian, Xie Shuyao menoleh kepada Fan Yuqi.
“Orang bilang mengenakan pakaian yang sama tidak menakutkan; yang buruk rupanya, dialah yang akan merasa malu. Aku tahu paras dan bentuk tubuh Nona Fan memang tidak sebanding denganku, tetapi kau tidak perlu sampai serendah ini rasa percaya dirimu. Kaisar saja menganjurkan kebebasan dan keterbukaan, tetapi kau masih hendak membatasi kebebasan orang dalam berpakaian.”
Bukankah orang-orang ini paling takut kepada Kaisar? Kalau begitu, ia akan memakai nama Kaisar untuk menghantam mereka.
Ucapannya ternyata sangat manjur. Wajah Fan Yuqi membiru karena tersedak, tetapi ia sama sekali tidak berani membantah.
Perhatian orang-orang di sekitar pun berhasil dialihkan oleh Xie Shuyao.
Dahulu, setiap kali nama Xie Shuyao disebut, yang terbayang hanyalah seorang gadis malang dengan pakaian compang-camping dan lusuh, selalu menundukkan kepala serta membungkukkan tubuh.
Namun sekarang, ia berdiri dengan kepala tegak dan dada membusung, penuh percaya diri. Barulah semua orang menyadari bahwa kecantikannya sama sekali tidak kalah dari Xie Lanxi, sementara tubuhnya bahkan memiliki lekuk yang sangat menawan.
Halaman 1/3
Halaman 2/3
Fan Yuqi sebenarnya tidak bisa dibilang buruk rupa. Namun jika dibandingkan dengan Xie Shuyao, ia seolah berubah menjadi seorang pelayan bertubuh pendek dan kekar.
Di tengah ketegangan antara kedua pihak, semakin banyak orang memasuki tempat jamuan.
Dari sudut matanya, Fan Yuqi menangkap sosok yang sudah dikenalnya. Sikap angkuhnya seketika kembali menghiasi wajahnya. Dengan suara manja, ia berseru, “Suamiku!”
Zhou Heran tampak anggun dan menawan. Mendengar panggilan itu, ia menoleh, senyum tipis tersungging di wajahnya yang lembut. Namun saat mendekat dan hendak berbicara, pandangannya melintas di wajah Xie Shuyao, lalu langkahnya mendadak terhenti.
Dalam sekejap ketika ia terpaku, Fan Yuqi sudah lebih dulu menerjang ke dalam pelukannya. Dengan wajah penuh keluhan, ia berkata, “Suamiku, Xie Shuyao baru saja menindasku dan memakiku. Kau harus membelaku!”
“Shu... Nona Xie.”
Zhou Heran menatap Xie Shuyao, seakan hendak mengatakan sesuatu tetapi urung. Setelah ragu selama dua detik, ia akhirnya memasang raut tegas.
“Untuk apa kau menindas Yuqi? Kau masih belum bisa melupakan kejadian masa lalu? Tempat ini bukan tempat yang pantas kau datangi!”
Setelah melihat Zhou Heran, Xie Lanxi tidak berniat ikut campur lagi. Saat melewati Xie Shuyao, ia sama sekali meninggalkan sikap lembut dan tenangnya, lalu berkata dengan suara dingin dan penuh maksud jahat, “Tadi aku sudah memberimu kesempatan, tetapi kau sendiri yang tidak tahu diri. Nanti, ketika kau menangis, ingatlah untuk menutup mulut agar tidak ada yang mendengarnya.”
Xie Lanxi tidak sedang menggertak. Ia memang pernah melakukan hal semacam itu. Xie Shuyao sama sekali tidak ingin mengakui masa lalu kelam tersebut, terlebih mengakui bahwa Zhou Heran adalah cinta pertamanya.
Halaman 2/3
Halaman 3/3
Pada masa itu, tokoh asli Xie Shuyao tinggal di sebuah kediaman keluarga di pedesaan, sementara Zhou Heran masih seorang pemuda biasa tanpa kedudukan. Mereka tumbuh bersama sejak kecil, polos dan akrab, hingga perasaan cinta tumbuh seiring berjalannya waktu.
Sayangnya, kemudian Zhou Heran dijadikan menantu oleh keluarga kaya setelah lulus ujian. Di antara Xie Shuyao yang tidak memiliki apa-apa dan Fan Yuqi yang sejak awal telah memiliki uang serta kedudukan, ia tanpa ragu memilih yang terakhir.
Pada hari kepergiannya, hujan turun dengan sangat deras—bahkan lebih deras daripada hujan ketika Yiping meminta uang kepada ayahnya.
Xie Shuyao tidak mau menyerah. Ia mengejar kereta kudanya sejauh dua kilometer penuh. Baru setelah yakin bahwa Zhou Heran benar-benar tidak akan kembali, ia mengusap air mata dan pulang ke rumah.
Bukan hanya itu, setelah tiba di ibu kota, Xie Shuyao juga pernah diprovokasi Fan Yuqi hingga kehilangan kendali dan mempermalukan diri sendiri.
Hanya saja, mereka tidak tahu bahwa yang telah menanamkan cinta begitu dalam kepada Zhou Heran adalah tokoh asli Xie Shuyao, bukan Xie Shuyao yang sekarang.
Menghadapi tingkah Fan Yuqi yang nyaris provokatif dan ucapan Zhou Heran yang begitu tak tahu malu, Xie Shuyao mengangkat alisnya dan berkata dengan nada meremehkan, “Ke mana aku pergi, memangnya harus mendapat persetujuanmu? Kau ini siapa? Kalau sakit, berobatlah. Jangan mencari perhatian di hadapanku.”
Halaman 3/3