Bab 12: Tiga Ratus Puisi Dinasti Tang
Tokoh asli terlalu terjerat dengan Zhou Heran. Setelah menyatakan pendiriannya, Xie Shuyao menjauh dari mereka berdua seolah-olah menghindari ular berbisa.
Statusnya sebagai janda sudah cukup mengundang gunjingan. Ia tidak ingin menyediakan bahan pembicaraan bagi orang lain.
Fan Yuqi yang tertinggal di tempat itu hanya bisa melongo melihat Xie Shuyao pergi dengan santai tanpa menoleh sedikit pun.
Bersamaan dengan kepergian Xie Shuyao, lenyap pula rasa unggul karena berhasil merebut cinta seseorang.
Zhou Heran juga tidak siap menghadapi keadaan ini. Bukankah Xie Shuyao seharusnya menangis tersedu-sedu karena terluka, lalu memohon agar ia memaafkannya? Bagaimana mungkin perempuan itu malah memakinya?
Oh, benar juga. Pasti sebelumnya ia terlalu kejam dalam berbicara. Sekarang Xie Shuyao sedang mengganti strategi, berusaha menarik perhatiannya dengan cara seperti ini.
Xie Shuyao ternyata benar-benar mencintainya sedalam itu.
Namun, sepertinya ia belum pernah melihat Xie Shuyao tampil semerona ini. Mengapa selama ini ia tidak menyadari bahwa perempuan itu begitu cantik? Pinggangnya ramping, kakinya jenjang, dadanya penuh, dan bokongnya juga berisi—sekilas saja sudah tampak seperti perempuan yang mudah melahirkan anak laki-laki.
Jika dibandingkan dengannya, Fan Yuqi yang sudah membuatnya bosan di ranjang tampak begitu pucat.
Melihat tatapan Zhou Heran masih mengikuti Xie Shuyao, Fan Yuqi menghentakkan kaki dengan marah, lalu langsung menjewer telinga Zhou Heran.
“Siapa yang sedang kau lihat?”
Zhou Heran paling benci ketika Fan Yuqi menyentuhnya dengan kasar. Hatinya langsung terasa dingin, tetapi wajahnya tetap dihiasi senyum hangat. Dengan lembut, ia menjelaskan, “Aku hanya merasa dia sungguh tidak tahu sopan santun. Benar-benar kelakuan perempuan kasar dari kalangan rendahan.”
Ucapan itu berhasil menenangkan Fan Yuqi yang sedang berang. Sambil menyunggingkan senyum sinis, ia berkata, “Nah, begitu dong. Dia memang perempuan hina.”
Tak lama kemudian, jamuan ulang tahun pun dimulai. Semua orang mengambil tempat duduk, sementara nyanyian dan tarian meramaikan suasana.
Sambil makan dan minum, Xie Shuyao menikmati pemandangan para perempuan cantik. Ia pun merasakan sedikit kebahagiaan yang dahulu dinikmati para kaisar zaman kuno.
Setelah beberapa putaran minum, suasana semakin meriah. Semua orang mulai memamerkan bakat masing-masing, berlomba-lomba menjilat Ibu Suri Lü.
Dalam acara seperti ini, tentu saja sang perempuan berbakat nomor satu di ibu kota tidak mungkin absen. Xie Lanxi bangkit dengan anggun dan mempersembahkan sebuah puisi ucapan selamat ulang tahun. Ibu Suri Lü sangat menikmatinya dan memuji Xie Lanxi tanpa henti.
Xie Shuyao merasa lelah hanya dengan melihat Xie Lanxi terus mempertahankan sikap anggunnya. Lagi pula, apakah perempuan itu benar-benar secantik itu? Wajahnya jelas dibedaki terlalu tebal, dan lipatan kelopak matanya tampak seperti hasil operasi. Alisnya memang tebal, matanya besar, dan raut wajahnya memiliki kelebihan tersendiri, tetapi secara keseluruhan ia tampak agak aneh.
Saat sedang mencibir dalam hati, tiba-tiba ia mendengar seseorang memanggil namanya.
“Nona Xie sungguh berbakat. Namun, bukankah hanya satu puisi terasa terlalu sepi? Orang-orang berkata bahwa hal baik seharusnya datang berpasangan. Bagaimana kalau Nona Ketiga dari keluarga Xie melengkapi kekosongan ini?”
Tanpa perlu melihat, Xie Shuyao tahu bahwa orang yang sengaja memancing keributan itu adalah Fan Yuqi. Bukankah perempuan itu baru saja kalah dalam adu gengsi dan kini ingin mempermalukannya? Sungguh rendah cara yang digunakannya.
Semua orang tahu bahwa Xie Shuyao dibesarkan di desa. Membuat puisi saja mungkin mustahil baginya; barangkali mengenali huruf pun ia tidak mampu.
Xie Lanxi, yang baru saja duduk, mengangkat sudut bibirnya. Ia sama sekali tidak berniat membantu Xie Shuyao. Bagaimanapun juga, kebodohan perempuan itu akan membuat bakatnya sendiri tampak semakin cemerlang.
Ibu Suri Lü pun tetap diam, seolah memberikan persetujuan. Sebelumnya, ia telah menerima lingzi merah berkhasiat dari Xie Shuyao, dan kini ingin melihat apakah perempuan itu benar-benar seperti yang selama ini dikabarkan.
Di tengah keheningan seluruh ruangan, Xie Shuyao perlahan berdiri.
“Kalau begitu, izinkan rakyat jelata ini mempermalukan diri.”
Siapa pun yang pernah menjalani pendidikan wajib selama sembilan tahun tentu masih mampu menghafal ratusan puisi klasik.
Xie Shuyao mengais-ngais ingatannya dan menemukan sebuah puisi yang sesuai dengan suasana. Setelah berdeham, ia membacakannya perlahan:
“Pakaianmu dibayangkan awan, wajahmu dibayangkan bunga; angin musim semi menyentuh pagar, embun berkilau semerbak. Jika tak berjumpa di puncak Pegunungan Giok, niscaya bertemu di bawah rembulan, di istana para dewi.”
Tidak ada perempuan di dunia ini yang tidak menyukai keindahan, terlebih seorang ibu suri yang kedudukannya hanya berada di bawah satu orang, tetapi di atas jutaan orang.
Begitu suara Xie Shuyao berhenti, seluruh ruangan mendadak sunyi. Tatapan semua orang kepadanya dipenuhi rasa ingin tahu. Siapa yang mengatakan bahwa ia tidak mengenal huruf? Bagaimana mungkin puisi dengan susunan begitu rapi dan bahasa yang begitu hidup itu berasal darinya?
Di tengah keheningan, Ibu Suri Lü tertawa. Meskipun ia tahu puisi itu mengandung pujian yang berlebihan, ia tetap menyukainya. Saat itu juga, ia berkata, “Puisi yang bagus. Beri hadiah!”