25 Binatang Roh
Setelah memberi tahu sopir arah menuju Vila Kembalinya Awan, Murong Qianqian pun mulai meneliti dua anak anjing di dalam kotak kardus itu. Secara umum, anak anjing yang lahir lemah dan belum membuka mata seperti ini sangat sulit untuk bertahan hidup, namun ia ingin mencoba peruntungannya. Jika bisa menyembuhkan mereka… itu berarti menyelamatkan dua nyawa.
Dua anak anjing itu terbaring diam seakan tanpa kehidupan. Saat Murong Qianqian meletakkan kedua tangannya di atas tubuh mereka, kedua makhluk kecil itu merengek pelan, lalu secara naluriah menjulurkan lidah berwarna merah muda dan menjilati tangannya. Hangat dan lembap, sebuah sensasi yang aneh.
“Kita lihat saja nasib kalian akan seperti apa.”
Ia bergumam pelan, dan dari kedua telapak tangannya muncul sinar hijau yang lembut. Begitu sinar itu menyentuh kulit anak anjing, ia langsung meresap seperti air membasahi tanah berdebu. Tubuh kedua anak anjing itu sedikit bergerak, mengeluarkan suara lirih penuh kenikmatan dan kenyamanan. Mata mereka terbuka, menatap Murong Qianqian dengan rasa ingin tahu. Mereka berusaha berdiri dengan goyah, namun begitu mobil berguncang, keduanya jatuh lagi, lalu coba berdiri, lalu jatuh lagi… akhirnya setelah lelah mencoba, kedua makhluk kecil itu mengangkat kepala menatap Murong Qianqian dengan ekspresi memelas, seperti anak kecil yang merasa tersakiti, merengek pelan.
“Jangan khawatir, nanti di rumah kalian akan banyak bermain.”
Melihat kedua anak anjing itu kembali bersemangat, Murong Qianqian pun ikut senang. Ia tiba-tiba teringat sesuatu. Ketika melintasi sebuah pusat perbelanjaan, ia meminta sopir berhenti, lalu menggandeng Murong Xiaoxiao masuk untuk membeli dua botol susu dan sekantong besar susu bubuk bayi, serta kalsium dan lainnya. Xiaoxiao sangat menyukai kedua anak anjing itu. Mereka juga enggan berpisah dari Murong Qianqian, namun protes mereka diabaikan begitu saja.
“Qianqian, kamu di mana?”
Saat hampir sampai di Vila Kembalinya Awan, ia menerima telepon dari Lei Tao, suara kerasnya menggelegar sampai Murong Qianqian harus menjauhkan telepon dari telinga.
“Aku hampir sampai. Keluarlah bantu aku bongkar barang.”
“Siap. Eh… ibuku datang.”
“Ibu Lei datang? Lalu supermarket siapa yang jaga?” tanya Murong Qianqian cemas.
“Sudah minta tolong tetangga. Dia khawatir kamu kerepotan, katanya mau menghangatkan rumah untukmu dan Xiaoxiao.”
“Aduh, repot-repot saja. Kak Tao, jangan biarkan Ibu Lei terlalu lelah. Aku segera sampai. Kututup dulu, ya.”
Tak lama setelah menutup telepon, mobil sudah mendekati gerbang vila. Melihat kandang anjing di belakang mobil, para satpam tidak terlalu heran, namun melihat penghuni vila ikut menjaga kandang anjing, mereka jadi penasaran dan mulai berbisik-bisik setelah mobil masuk.
Begitu mobil berhenti di depan vila, Murong Qianqian sudah melompat turun.
“Hati-hati, Nak!”
Ibu Lei segera berjalan mendekat untuk menahan tubuhnya. “Kalau sampai keseleo bagaimana?”
“Tak masalah.” Murong Qianqian melonjak sambil tersenyum, “Lihat, aku masih lincah. Jatuh dari lantai dua pun aku bisa.”
“Jangan bicara sembarangan, makin besar makin tak tahu sopan!” Ibu Lei meliriknya tajam, lalu membantu Xiaoxiao turun dari mobil.
“Wah! Anjingnya lucu sekali! Xiaoxiao, boleh kakak lihat sebentar? Sebentar saja…”
Du Fei’er yang melihat dua anak anjing di pelukan Murong Xiaoxiao langsung berbinar-binar, berusaha membujuk Xiaoxiao agar mau memberikannya.
“Kak Tao, bantu aku turunkan anjing-anjing itu. Dan juga kantung kulit itu.”
“Apa isinya? Bergerak-gerak pula.” Lei Tao mencubit kantung itu, lalu tiba-tiba tersadar. “Ular?!”
Ia berseru kaget, hampir saja menjatuhkan kantung itu.
“Bukan ular biasa, itu piton emas,” jelas Murong Qianqian cepat-cepat meraih kantung itu.
“Apa bedanya? Kenapa kamu, perempuan, pelihara hewan begituan?” Meski bertubuh besar, Lei Tao memang takut binatang semacam itu. Waktu kecil pernah ketakutan setengah mati gara-gara bertemu ular rumput di gunung, masih untung Murong Qianqian berani memegangnya.
“Karena cantik,” jawab Murong Qianqian tegas.
Setelah membayar sopir dan mempersilahkannya pergi, ia mengeluarkan anjing wolfdog dari kandang. Anjing itu sangat galak, terhadap Murong Qianqian tidak bermasalah, tapi saat menatap yang lain, matanya seperti pemangsa melihat mangsa.
Murong Qianqian mengelus kepalanya seraya berkata, “Mulai sekarang namamu ‘Xiao Qing’. Sudah ditetapkan, tidak boleh protes. Tapi sikapmu tak baik, mereka semua keluargaku, kau harus bersikap ramah.”
Tak peduli anjing itu paham atau tidak, Murong Qianqian menariknya ke hadapan Murong Xiaoxiao, Ibu Lei, Lei Tao, serta Fei’er agar ia bisa mengenali bau mereka satu per satu. Lalu, ia mendekatkan Xiao Qing pada dua anak anjing dan piton emas agar mereka saling mengenal, supaya nanti tidak menimbulkan kekacauan di vila.
“Anak ini sungguh…” Ibu Lei hanya bisa menggelengkan kepala saat melihat Murong Qianqian mengeluarkan ular besar berwarna emas dari kantung kulit. Namun Xiaoxiao dan Du Fei’er tampak sama sekali tidak takut.
Murong Qianqian memang tidak berniat mengurung hewan-hewan itu. Setelah mengenalkan mereka pada rumah dan halaman, ia mengajak Xiao Qing dan Ah Huang (piton emas) ke kolam agar mengenal ikan-ikan di sana, supaya mereka tidak membuat keributan.
Dalam naskah kuno peninggalan Jumenang, ada cara para dukun agung memelihara hewan spiritual, salah satunya dengan menggunakan kekuatan perdukunan untuk memperkuat tubuh hewan tersebut dan meningkatkan kedekatan dengan tuannya. Setelah berhasil menyelamatkan dua anak anjing tadi, Murong Qianqian jadi lebih percaya diri. Saat tak ada yang melihat, ia menerapkan ilmu perdukunan itu pada Xiao Qing dan Ah Huang. Begitu cahaya hijau meresap ke tubuh mereka, dari mata mereka terpancar rasa nyaman luar biasa, dan mereka menjadi makin dekat dengan Murong Qianqian.
Masuk ke ruang tamu, Lei Tao melongok ke belakang Murong Qianqian. “Mana dua hewan peliharaan barumu?”
“Xiao Qing sedang berjaga di pintu, Ah Huang lebih suka di rumah kaca bunga. Kak Tao, mau lihat Ah Huang?”
“Tidak, terima kasih!” Lei Tao bergidik, “Makhluk itu biar jadi temanmu saja. Aku ke dapur bantu-bantu.”
Sambil mengelap peluh, ia melesat pergi.
“Sungguh, semakin besar makin penakut saja,” gumam Murong Qianqian sambil menggeleng, lalu mendekati Du Fei’er dan Murong Xiaoxiao untuk melihat dua anak anjing itu.
“Bau sekali,” Du Fei’er menutup hidung dengan satu tangan dan mendorong Murong Qianqian dengan tangan lain. “Cepat mandi, setelah itu langsung makan.”
“Bau, ya?” Murong Qianqian mengangkat lengan dan mencium… Benar saja, ada bau aneh yang menyengat. Ia memang harus mandi bersih.
Baru saja ia masuk kamar mandi membawa baju, Du Fei’er mengetuk pintu dan menyerahkan dua anak anjing itu. “Sekalian mandikan Kai Xin dan Huan Huan, ya.”
Kai Xin dan Huan Huan?
Siapa pula yang memberi nama seperti itu?
Murong Qianqian hanya bisa tersenyum kecut, malas membantah… toh itu hanya sebutan agar mudah membedakan. Tidak perlu dipermasalahkan.
…