Ayah dan Anak
“Bos Huang?”
Murong Qianqian melihat jelas siapa yang datang, ternyata itu adalah Bos Huang yang ditemuinya di pasar hewan peliharaan. Ular piton emas dan anjing serigala yang ia beli berasal darinya.
“Aduh, aku bukan bos apa-apa di sini,”
Ia mengedikkan dagu ke arah pria tua di sampingnya, “Ayahku satu-satunya Bos Huang. Hehe, namaku Huang Zixiong, semua orang memanggilku Beruang Emas...”
“Jangan banyak omong,”
Ayahnya melotot padanya, “Kamu kenal dengan Nona Murong?”
Huang Zixiong langsung menciut, “Tentu saja kenal, Nona Murong pernah beli satu ular piton emas dan seekor anjing serigala di tempatku. Oh iya, Nona Murong, dua anak anjing salju itu masih hidup nggak?”
“Memangnya itu anjing salju? Masih hidup kok, malah makin sehat sekarang.”
Murong Qianqian tahu mereka adalah mastiff Tibet, tapi tidak terlalu memperhatikan jenisnya.
“Ini sungguh...”
Huang Zixiong menggeleng-geleng sambil menunjukkan raut menyesal... Memang tak bisa disalahkan, dalam kondisi waktu itu, siapa yang menyangka dua anak kecil itu bisa bertahan hidup?
Lalu matanya berputar, “Nona Murong, eh... kalau dua anjing salju itu saya beli lagi, boleh nggak?”
Murong Qianqian tersenyum, “Bos Huang, memang benar dua anjing salju itu kamu kasih gratis ke saya, tapi waktu itu kondisinya sudah hampir mati, sekarang saya sudah bersusah payah merawat sampai sembuh, tapi kamu malah mau beli lagi. Ini namanya menarik kembali pemberian, atau justru menghina saya?”
Ayah Huang memang orang cerdas, ia langsung menangkap maksud ucapan itu, lalu memelototi anaknya, “Kamu memang keren, ya. Kita orang Shandong kalau sudah janji, nggak boleh asal. Mana ada bisnis kayak begini?!”
Huang Zixiong merasa tak adil, “Ayah, aku kan cuma tanya baik-baik, bukannya nggak mau bayar.”
“Ini bukan soal uang!”
Ayahnya menjitak kepala anaknya dengan suara nyaring, “Bisnis nggak boleh seperti itu. Bahkan pertanyaanmu saja nggak pantas diajukan!”
Kemudian ia berpaling ke Murong Qianqian, “Nona Murong, panggil saja namanya atau julukannya, dia bukan ‘bos’ apa-apa. Dia ini cuma main-main saja!”
Ayah Huang memarahi anaknya, dan si anak tidak berani melawan, membuktikan pendidikan keluarganya cukup baik. Kalau pemuda lain, mungkin sudah melawan atau minimal langsung pergi dengan marah.
“Tidak apa-apa, Beruang Emas, bagaimana dengan urusan yang aku titipkan padamu?” tanya Murong Qianqian.
“Oh, maksudmu itu... barang ya, aku sudah minta teman ke selatan untuk mencari. Tapi karena jumlahnya lumayan, mungkin akan terlambat beberapa hari baru sampai.” jawab Huang Zixiong.
Sebenarnya Huang Zixiong sudah hampir lupa soal itu. Toko hewannya jarang sekali memasukkan ular berbisa, pembelinya pun sedikit. Kalau sampai stok banyak tapi tidak laku, bisa-bisa rugi besar. Tapi anak ini memang cerdik, bicaranya terdengar meyakinkan sehingga Murong Qianqian tidak curiga sedikit pun.
“Baiklah, Beruang Emas, kalau barangnya sudah datang, tolong antarkan ke tempatku. Kalau kamu tidak sempat, telepon saja, aku akan ambil sendiri,” kata Murong Qianqian.
“Siap, saya sendiri yang antar ke rumahmu,” Huang Zixiong menepuk dadanya.
“Terima kasih, ya. Bos Huang, kalau ada bahan baru, tolong kabari aku juga.”
Murong Qianqian berpamitan setelah berbincang sebentar dengan ayah Huang. Sopir yang disewanya di luar sudah tampak mulai tidak sabar.
“Ayah, siapa sebenarnya dia?”
“Kamu sendiri main apa sih?”
Begitu Murong Qianqian naik mobil pergi, ayah dan anak itu langsung bertanya bersamaan.
Melihat ayahnya tampak ingin marah, Huang Zixiong langsung menyerah, “Ayah, begini ceritanya. Waktu itu cewek bermarga Murong ini datang ke toko, beli beberapa hewan peliharaan. Lalu dia bilang mau beli satu partai ular berbisa, bahkan mau pasokan jangka panjang. Aku khawatir kalau kebanyakan stok ular berbisa, nanti dia nggak jadi beli, aku yang rugi besar. Makanya aku nggak urus.”
“Dasar bocah, lihat tuh, makanya kamu nggak bakal bisa bisnis besar. Dia sekali dapat batu giok saja dua puluh juta, masa masih peduli uang receh begitu? Tapi, kalau main di garis abu-abu, harus hati-hati, jangan sampai rugi sendiri,” pesan ayahnya.
“Tenang, ayah, aku paham kok,” Huang Zixiong merasa lega mendengar ayahnya berkata begitu, pikirannya langsung terbuka, bisnis ini ternyata bisa dilanjutkan.
Sementara itu, Murong Qianqian juga tak menyangka perjalanannya ke jalan batu giok kali ini akan membawa hasil sebesar itu. Setelah naik mobil, ia memberikan uang seratus ribu sebagai tip pada sopir, lalu turun di tengah jalan untuk mengambil empat ribu di ATM, membeli beberapa bahan makanan mentah dan matang serta minuman, barulah kembali ke mobil dan meminta sopir mengantarkannya ke Vila Awan Kembali.
Penghargaan materi membuat produktivitas meningkat. Setelah mendapat tip seratus ribu, sopir itu tidak mengeluh lagi, sepanjang perjalanan pun sangat tenang, Murong Qianqian tidak bertanya, ia juga tidak akan bicara.
Mobil kecil itu masuk ke vila, berbelok-beok hingga tiba di depan Kedai Wangi. Murong Qianqian turun dan menekan bel pintu... Pintu terbuka otomatis, seekor anjing serigala besar berwarna hitam kebiruan berdiri di sana, menatap dingin ke arah mobil. Sopir itu langsung merinding, kakinya gemetar.
“Jangan takut, Xiao Qing tidak akan menggigit sembarangan,” hibur Murong Qianqian.
Tahu anjing itu tidak menggigit sembarangan, yang kutakutkan justru kalau dia memang sengaja menggigit!
Sopir itu terus memandangi anjing di dalam, siap-siap lari kapan saja.
Penakut sekali orang ini, padahal masih di dalam mobil, apa yang perlu ditakuti?
Murong Qianqian geli melihatnya, akhirnya meminta Xiao Qing pergi agar tidak terlihat oleh sopir.
“Qianqian sayang, kamu beli apa lagi kali ini?” suara Du Fei’er terdengar dari kejauhan, di belakangnya ada Xiao Xiao, bahkan Lei Tao juga ikut, tentu saja tak ketinggalan Kai Xin dan Huan Huan.
“Hanya beberapa batu saja.”
Murong Qianqian melambaikan tangan, “Kak Tao, kenapa kamu juga datang? Tidak bantu bibi jaga toko?”
“Ibuku khawatir kalian berdua tinggal di sini ada yang tidak kelihatan, jadi suruh aku datang menemani,” jawab Lei Tao.
“Aduh, bagaimana aku harus berterima kasih pada Bibi Lei,” Murong Qianqian menghela napas.
“Mudah saja, setelah lulus kuliah, jadi istri Lei Tao saja,” canda Du Fei’er.
“Dasar Fei’er, hati-hati nanti kubiarkan Xiao Qing gigit kamu.”
Murong Qianqian mengancam, meski di sampingnya masih ada sopir.
Ia meminta sopir membawa mobil sampai ke depan vila, lalu memindahkan semua barang turun dari mobil, membayar ongkos kemudian menyuruh sopir pergi.
“Qianqian sayang, aku tak pernah dengar kamu suka koleksi batu. Lagipula, batu-batu ini... yang aku pungut di pinggir jalan saja lebih bagus. Dan, untuk apa kamu beli gergaji batu segala?” tanya Du Fei’er kebingungan.
“Aduh, nggak punya pengetahuan itu berbahaya,”
Murong Qianqian menggeleng, “Fei’er sayang, kamu dan Xiao Xiao bawa dulu bahan makanan dan minuman itu ke dapur. Kak Tao, kita berdua angkat batu dan mesin pemotong ini ke ruang kerja.”