Bab Kedua Nyanyikanlah sebuah lagu tentang Jembatan Anhe!
Chen Fang di masa mudanya adalah seorang artis; ia menguasai beberapa jenis alat musik. Namun, di tengah gemerlap dunia hiburan yang dipenuhi pria tampan dan wanita jelita, penampilannya sungguh tak menonjol, sehingga ia pun tak pernah mampu mencapai puncak. Karenanya, ia beralih ke dunia investasi, dan pada usia empat puluh tahun saja, ia telah menjadi pemilik perusahaan hiburan.
Lama-kelamaan, Chen Fang pun melupakan semua keterampilan yang pernah ia pelajari sewaktu menjadi artis. Namun, ia tak merasa menyesal. Selama para artis di bawah naungannya bertalenta dan serba bisa, sebagai seorang bos, tak ada gunanya ia menguasai segalanya.
Akan tetapi, kini setelah datang ke dunia ini, bila ingin menorehkan nama, jelas tak mungkin jika tak pandai bermain alat musik. Untunglah, dari peti harta karun, ia memperoleh kemampuan [Mahakarya Semua Alat Musik], menambal kekurangan terbesarnya saat ini.
Adapun lagu, di benaknya masih tersimpan banyak lagu legendaris dari Bumi, untuk sementara belum perlu mengandalkan keberuntungan dari peti.
Berwajah tampan.
Bersuara merdu.
Mahir segala alat musik.
Tak kekurangan lagu.
Ini benar-benar kekuatan yang melampaui zaman!
Jika dengan bekal ini ia masih tak mampu menjadi bintang terbesar, Chen Fang sendiri pun tak akan memaafkan dirinya.
Chen Fang menepuk bahu Pang Tong, suaranya dalam dan penuh makna, “Gendut, nanti waktu aku tampil, ingat rekam videonya. Aku punya firasat, penampilanku bakal sangat keren.”
Pang Tong tak lagi mengedip-ngedipkan mata, hanya perlahan mengacungkan jari tengah.
Dulu kenapa aku tak menyadari kalau Chen Fang ternyata punya sisi centil begini?
Setengah jam kemudian.
Taksi berhenti.
Lokasi audisi penuh sesak. Bulan Mei mulai membawa panas yang menyengat, lautan kepala manusia dan gelombang suara yang riuh membuat hati siapa saja mudah kusut.
Chen Fang menyipitkan mata, menembus kerumunan, pandangan matanya sampai pada panggung di pusat audisi. Panggungnya tak besar, namun penontonnya lebih dari seribu orang.
Ditambah lagi penonton yang menyaksikan siaran langsung di internet, sekali audisi saja bisa menarik perhatian belasan hingga puluhan ribu orang.
Menyusup menembus kerumunan, Chen Fang akhirnya tiba di belakang panggung dan menerima nomor tampil: 232.
Saat itu, peserta yang tengah bernyanyi di panggung adalah nomor 35.
Perkiraan, giliran Chen Fang tampil baru tiba malam nanti.
Chen Fang memilih-milih lagu di benaknya cukup lama, akhirnya ia menetapkan satu lagu legendaris yang sangat cocok dibawakan di panggung dan mampu membangun suasana.
“Lagu ini pasti meledak!”
Lagu yang tersisa di benaknya, nyaris semuanya merupakan mahakarya fenomenal.
Namun lagu ini membutuhkan sebuah alat musik khusus.
Pihak acara tak menyiapkan alat musik semacam itu, ia harus mencarinya sendiri.
Menurut peraturan, peserta yang sudah masuk ke belakang panggung tak diperbolehkan keluar kecuali mengundurkan diri.
Tak ada jalan lain.
Chen Fang pun menoleh pada Pang Tong.
“Gendut.”
“Tolong aku sekali ini.”
Chen Fang merangkul bahu Pang Tong.
“Katakan saja.”
Pang Tong menyeka keringat di dahinya, cuaca panas dan hiruk-pikuk kerumunan benar-benar siksaan bagi pria sebesar dia.
“Pergilah ke toko alat musik di luar sana, cari satu alat yang disebut Matouqin. Aku membutuhkannya untuk tampil nanti.”
“Oke.”
Tanpa banyak bicara, Pang Tong pun bergegas meninggalkan belakang panggung.
Chen Fang memandang punggung Pang Tong, tiba-tiba ia merasa seolah-olah sedang berkata, “Tunggulah di sini, aku akan membelikanmu jeruk, lalu kembali.”
Hubungan mereka, jika harus berterima kasih, justru terasa asing.
Memiliki sahabat seperti ini, sungguh membahagiakan!
Pukul enam sore.
Pang Tong belum juga kembali.
Matouqin memang tergolong alat musik langka, tapi masa sesulit itu mencarinya? Jangan-jangan, di dunia ini memang tak ada Matouqin?
Di atas panggung.
Peserta nomor 230 menunduk lalu turun.
Sebentar lagi giliran Chen Fang.
Waktu bergulir, detik demi detik.
“Peserta 232, bersiaplah untuk naik panggung.”
Petugas memeriksa daftar peserta dan memanggil.
Chen Fang melirik lorong belakang panggung—tak tampak sosok Pang Tong, tak ada alat musik. Jika harus bernyanyi tanpa iringan, efeknya pasti kurang, tapi ia tak punya pilihan selain maju.
Jalan menuju panggung sangatlah pendek.
Namun Chen Fang melangkah perlahan.
Saat menginjakkan kaki di atas panggung, ia sedikit menyipitkan mata—sinar lampu begitu menyilaukan.
Tubuhnya mulai dipenuhi gairah!
Perasaan ini, begitu akrab namun asing, membuat ketagihan.
Di atas panggung.
Hanya ada sebuah kursi dan satu mikrofon.
Chen Fang berjalan ke tengah-tengah panggung, lalu menunduk hormat ke empat orang juri di bawah panggung.
“Saya ucapkan salam pada keempat juri. Saya peserta nomor 232, Chen Fang.” Senyum tipis menghiasi bibirnya, penuh rasa percaya diri, tak terlihat gentar sedikit pun.
Tampangnya menarik, mentalnya pun kuat.
“Kau akan bernyanyi tanpa iringan?”
Seorang juri, melihat tangan Chen Fang kosong, tampak sedikit terkejut.
Iringan alat musik, meski suara penyanyi kurang bagus, akan banyak membantu menutupi kekurangan. Lagi pula, bisa memainkan alat musik adalah nilai plus.
Terlebih di audisi seperti ini, para juri sebenarnya tak punya banyak kesabaran mendengar satu lagu penuh, jadi keunggulan semacam itu sangat penting.
Chen Fang baru hendak menjelaskan.
Namun seorang juri lain sudah bersuara.
“Kau ini penyanyi jalanan?” Juri pria paruh baya itu menunduk meneliti data peserta yang disediakan panitia, nadanya mengandung penghinaan.
Penyanyi jalanan di Tiongkok umumnya memang kualitasnya buruk.
Sekejap saja, nilai impresi keempat juri terhadap Chen Fang langsung menurun.
Penonton di bawah panggung pun mulai gaduh.
“Penyanyi jalanan? Udah deh, bahkan buat tampil di bar saja nggak laku, pasti suaranya jelek banget!”
“Telinga gue udah tercemar seharian, kalau lanjut denger, bisa-bisa tuli!”
“Penyanyi jalanan aja bisa lolos daftar? Pantas saja rating Starlight Road makin sepi.”
“Andai mukanya nggak cakep, udah dari tadi gue maki-maki!”
“Skip ah, nggak menarik.”
“Aduh, buang-buang waktu doang….”
……
“Penyanyi jalanan, dan bernyanyi tanpa iringan.”
Juri pria paruh baya menggelengkan kepala.
Chen Fang menjelaskan, “Saya akan bernyanyi dengan iringan alat musik.”
“Lalu alat musiknya mana?”
Sebuah suara wanita tajam menyentak telinga Chen Fang, penuh rasa kesal.
Wanita yang duduk di tengah-tengah para juri itu menggebrak meja, suaranya meledak, “Kau bilang akan bernyanyi dengan iringan, tapi alat musiknya mana? Alat peraga saja tak siap, berani-beraninya naik panggung? Kau buang-buang waktuku!”
Begitu wanita itu bersuara, tiga juri lain langsung terdiam.
Wanita itu memang terkenal cepat naik darah di dunia hiburan.
Baru sedikit saja tak sesuai keinginannya, pasti langsung melabrak.
“Seperti kau ini, penyanyi jalanan tak berguna, aku benar-benar tak paham kenapa panitia membiarkan orang sepertimu ikut audisi.”
“Menyanyi seperti kotoran saja, masih berani naik panggung!”
“Aku tak mau buang-buang waktu untuk orang macam kau, mengerti?”
Di sampingnya.
Seorang juri lain batuk kecil, berbisik, “Bu Ke, dia belum mulai bernyanyi.”
Kalau sudah bernyanyi lalu dibilang seperti kotoran, mungkin masih bisa diterima, tapi masalahnya, Chen Fang bahkan belum mulai.
Langsung menilai begitu saja, sungguh tak masuk akal.
“Mau nyanyi?”
“Nyanyi apanya!”
“Panggil peserta berikutnya!”
Ke Min langsung mengusir.
Chen Fang yang sudah sangat geram malah tersenyum. Di kehidupan sebelumnya, ia adalah bos perusahaan hiburan; biasanya ia yang memaki orang lain, kapan pernah ia dimaki seperti ini?
“Ini adalah audisi resmi acara, dari pendaftaran hingga naik panggung aku sudah mengikuti semua prosedur yang ditetapkan panitia. Atas dasar apa kau mengusirku?”
“Modal muka tembokmu itu?”
Sialan!
Kau dipanggil ‘guru’ saja sudah besar kepala!
Ke Min sempat tertegun, lalu dengan marah berdiri hendak memaki.
Namun Chen Fang tak memberinya kesempatan, “Kau merasa hebat? Kalau kau memang sehebat itu, tak mungkin cuma jadi juri audisi. Sampai-sampai harus jadi juri di sini, masih pantas mencaci orang lain? Kau layak?”
“Justru aku yang merasa membuang-buang waktu dan tenagaku jika harus dinilai oleh orang sepertimu!”
Chen Fang sama sekali tak gentar, langsung membalas!
Kalau perlu, tak usah bernyanyi pun tak apa.
Dengan sistem di tangan, kesempatan masih banyak.
Seluruh ruangan gempar.
Rasanya baru kali ini ada peserta yang memaki juri.
“Wah, Chen Fang ini berani juga, Ke Min pun dibentak.”
“Sadis! Baru kali ini ada peserta memaki juri.”
“Ke Min sudah sering memaki orang, sekarang ketemu lawan sepadan.”
“Karma berbalik ke diri sendiri.”
“Tiada hari tanpa memaki, sekarang giliran sendiri yang kena.”
“Aku malah merasa puas banget, hahaha!”
……
Mendengar bisik-bisik penonton di sekeliling, wajah Ke Min pun memerah karena murka, “Seorang penyanyi jalanan tak berguna, berani-beraninya menguliahi aku!”
“Dari tadi kau bilang tak berguna, jadi semua dua ratusan peserta sebelumnya juga tak berguna?” Chen Fang mulai menggali jebakan.
Tiga juri lain segera menyadari ada yang tak beres, hendak membuka suara, namun Ke Min lebih dulu menggebrak meja, suaranya tajam menusuk telinga, “Kalian semua tidak berguna, tak layak naik panggung!”
Chen Fang tersenyum.
Di belakang panggung.
Para staf saling berpandangan, lalu menatap seorang wanita di sisi mereka, “Kak Ji, ini gawat.”
Sebenarnya, jika hanya memaki Chen Fang, masih bisa diatasi. Tapi kalau seluruh peserta sebelumnya ikut terseret, masalahnya jadi lain.
“Bodoh!”
Kak Ji cemberut, mengumpat pelan.
Ini pertama kalinya ia menemui peserta yang berani memaki juri, tak disangka Chen Fang seberani itu.
“Aku suruh satpam mengeluarkan Chen Fang dari panggung,” kata salah satu staf.
Prioritas utama adalah mengendalikan situasi, menjaga suasana hati juri. Soal Chen Fang, nanti saja dipikirkan.
Namun saat itu juga.
Kak Ji melirik data penonton secara real-time, matanya membelalak, “Tunggu sebentar!”
Semua orang di belakang panggung menatap Kak Ji.
Tepatnya, mereka menatap data real-time yang berubah.
Jumlah penonton naik!
Dan naiknya sangat cepat—dari belasan ribu beberapa menit lalu, melonjak jadi dua puluh ribu, dan masih terus bertambah.
Mata Kak Ji berkilat, pikirannya tak terbaca, beberapa detik kemudian ia segera mengambil keputusan, “Beritahu juri, biarkan Chen Fang menyanyi sampai selesai.”
Menyanyi?
Sudah menyinggung hati juri, buat apa diteruskan?
Yang lain tak terlalu mengerti.
Kak Ji menatap Chen Fang di atas panggung, “Semakin lama ia di atas panggung, data akan terus naik. Kita bekerja untuk rating acara, bukan untuk juri.”
Toh pada akhirnya.
Chen Fang tak penting, Ke Min juga tak penting.
Membiarkan Chen Fang bertahan di panggung, semata-mata demi mendongkrak data penonton. Soal kualitas nyanyiannya, lulus atau tidak, tak ada yang peduli.
Di meja juri.
Keempat juri serempak menerima instruksi melalui earphone dari staf belakang panggung: biarkan Chen Fang menyanyi sampai selesai, baru turun.
Sekejap saja.
Tiga juri lain saling melirik dengan ekspresi rumit, menatap Ke Min.
Wajah Ke Min merah padam seperti hati ayam, nyaris meledak.
Juri pria paruh baya tadi batuk kecil, pelan berkata, “Peserta Chen Fang, ini adalah panggung, mari kita kembali ke inti lomba.”
“Silakan mulai penampilanmu.”
Chen Fang tertegun.
Ia sudah siap turun sambil memaki.
Namun segera ia tersadar, lalu mengejek diri sendiri.
Sebagai bos perusahaan hiburan, ia langsung paham lika-liku di balik ini.
Tahu begitu, tadi seharusnya ia memaki lebih banyak. Sekarang setelah ada yang menengahi, kalau diteruskan justru ia yang tampak berlebihan.
Ke Min menggenggam tinju, sekujur tubuhnya memancarkan hawa dingin yang menusuk, ia menggertakkan gigi lalu kembali duduk.
“Biar kau frustasi!”
Chen Fang merasa puas, tak lagi memperdulikan wanita tua itu. Ia pun duduk, bersiap menyanyi.
……
“Tolong, antarkan ini ke atas panggung.”
“Kumohon, tolonglah.”
“Temanku sangat membutuhkan ini untuk tampil, kumohon, kumohon.”
“Terima kasih banyak, terima kasih.”
Chen Fang baru bersiap bernyanyi, tiba-tiba mendengar suara gaduh pelan dari belakang panggung.
Ia menoleh.
Pang Tong telah kembali!
Dengan keringat bercucuran dan wajah memerah, Pang Tong menunduk penuh hormat memohon pada staf di belakang panggung, bahkan tak sempat menyeka keringatnya.
Setelah berkali-kali memohon, staf akhirnya menerima Matouqin dari tangan Pang Tong, berbicara sebentar pada earphone, lalu naik ke panggung. Ia meminta maaf pada keempat juri, menyerahkan Matouqin pada Chen Fang, lalu buru-buru turun.
Antara panggung dan belakang panggung hanya dipisahkan oleh sehelai tirai.
Pang Tong berdiri dalam bayang-bayang, satu tangan merekam dengan ponsel, satu tangan lagi mengacungkan jempol pada Chen Fang.
Chen Fang terharu, ia pun membalas acungan jempol itu.
Penonton di bawah panggung masih saja gaduh.
Namun aura Chen Fang berubah drastis—kesepian, dingin, senyum di bibirnya sirna, alis dan matanya tertunduk, suasana muram melingkupi dirinya.
“Lagu yang akan saya bawakan adalah lagu ciptaan saya sendiri, ‘Jembatan Anhe’.”
......