Bagian Satu: Kedatangan Pertama di Kota Wan (Bagian Kedua)
Sayangnya, setelah Tanpa Nama masuk ke Pusat Penerimaan Pekerjaan, semua NPC pengalih profesi kehilangan semangat mereka yang biasanya berebut menarik pemain ke dalam profesinya masing-masing. Mereka semua bersikap acuh tak acuh pada Tanpa Nama. Untungnya, Tanpa Nama tak terlalu mempersoalkan hal itu. Ia pun mencoba menata ekspresi dan dengan rendah hati mendekati para NPC satu per satu, namun dengan cepat rasa marah pun muncul. Sebab, semua NPC pengalih profesi itu seolah sudah bersepakat sebelumnya, dan jawaban mereka selalu sama: “Berdasarkan titah Dewa Agung Pangu, petualang Tanpa Nama bertubuh lemah, tak cocok menekuni profesi bertarung apa pun.”
Setelah berbagai upaya negosiasi tegas yang sia-sia, akhirnya Tanpa Nama berhasil menahan keinginannya untuk memaki sistem. Ia sadar, jika kembali terkena larangan bicara dari sistem, entah berapa lama hukuman itu akan berlangsung. Jadi dengan kecewa, ia keluar dari Pusat Penerimaan Pekerjaan, berjalan diam-diam seperti tikus yang menghindari perhatian, menuju ke Pusat Keterampilan Bisnis. Sepanjang jalan memang banyak kendala, dan meski waktu yang dihabiskan lebih lama, akhirnya Tanpa Nama berhasil sampai di Pusat Keterampilan Bisnis dengan selamat, hanya saja tubuhnya kini penuh memar akibat dicubit di sana-sini.
Berhadapan dengan beragam NPC pembimbing profesi yang begitu antusias mengajaknya bergabung, perasaan Tanpa Nama sedikit terobati. Karena trauma kehilangan banyak perlengkapan di Desa Pemula dan pengalaman tak memiliki baju di Kota Wan, Tanpa Nama tanpa ragu memilih penjahit sebagai profesi bisnis pertamanya. Namun, untuk profesi bisnis kedua, ia lama dilanda kebimbangan.
Tukang besi dan ahli ramuan langsung ia coret dari daftar. Soalnya, keahlian “Karya Agung” miliknya hampir bisa menggantikan seluruh keterampilan kedua profesi itu. Begitu juga dengan penilai barang, sebab “Mata Api” miliknya adalah bentuk tertinggi dari semua keterampilan penilai. Jadi, tersisa profesi seperti tukang kayu, tukang batu, penambang, petani, penyamak kulit, dan lain-lain. Tapi, mana yang harus dipilih?
Tukang kayu bisa menebang pohon, membuat perabot, memproduksi panah dan busur, membangun dinding atau rumah kayu, pagar, membuat jembatan, hingga gerobak kuda. Profesi ini cukup bagus, bahkan bisa membantu memperbaiki akurasi tembakan busur dan panah, serta meningkatkan kemahiran senjata kapak. Biasanya profesi ini disukai oleh pendekar kapak, pemanah, prajurit panah silang, dan pencuri sekalipun. Namun, apakah semua itu berguna bagi Tanpa Nama? Ia sendiri ragu.
Tukang batu adalah pilihan para pemain yang fokus pada kehidupan damai, sebab tukang batu bisa mengumpulkan batu, membangun rumah, tembok kota, jalan, dan jembatan. Selain itu, sedikit meningkatkan kemahiran senjata palu, walaupun di kalangan pendekar dan pejuang, pengguna palu sangat sedikit. Mendapatkan markas sendiri sangat sulit bagi pemain, sehingga sebagian besar kelompok memilih mengajukan permohonan markas ke kota sistem. Tugas membangun tembok kota yang dikeluarkan oleh sistem juga sangat langka, alhasil profesi tukang batu sangat sulit berkembang. Untuk membangun rumah, jika tak punya markas, tak ada lahan untuk mendirikannya. Di kota sistem, bila kelompok ingin menambah bangunan, tinggal mengajukan ke gubernur kota, dan sistem akan membangunnya secara otomatis. Karenanya, profesi ini dianggap tak berguna.
Penambang bisa mencari tambang di alam terbuka dan menambang bijih, sangat cocok untuk tukang besi sebab hampir semua bahan baku bisa diperoleh melalui penambang. Namun, profesi ini menuntut kekuatan fisik yang tinggi. Meski Tanpa Nama ingin menjadi penambang demi mendapat bahan baku untuk keahlian “Karya Agung”-nya, kekuatan tubuhnya jelas akan menghambat perkembangan keterampilan menambang. Dengan berat hati, ia pun mengurungkan niat menjadi penambang.
Petani juga pilihan yang baik, bisa menyediakan bahan makanan dan sayur untuk keahlian meracik minuman atau memasak. Namun, kemampuan memasak Tanpa Nama selama ini hanya diasah dengan memanggang daging, sehingga dalam benaknya, memasak identik dengan segala jenis daging. Apalagi, kebutuhan daging panggang untuk kadal tembok peliharaannya hampir tak terbatas. Dalam dilema antara memenuhi kebutuhan minuman Naga Api dan daging panggang si kadal, Tanpa Nama akhirnya mengorbankan Naga Api.
Penyamak kulit adalah profesi yang hampir sama dengan penjahit. Keduanya bisa membuat pakaian dari kulit, hanya saja penyamak kulit punya kelebihan bisa membuat tenda dan menguliti monster. Namun, fungsi menguliti monster sebenarnya sangat kecil, sebab biasanya setelah hewan dibunuh, pemain bisa mengumpulkan kulitnya dengan keahlian mengumpul biasa, hanya saja kualitas kulit yang didapat penyamak memang lebih baik. Karena itu, Tanpa Nama pun mengabaikan profesi ini.
Walaupun bisa langsung mencoret beberapa profesi bisnis, namun di Dunia Awal Kekacauan ada puluhan profesi bisnis. Mendengar penjelasan dan rayuan para pembimbing profesi, kepala Tanpa Nama pun terasa berat. Saat merasa pikirannya sudah hampir meledak, ia tiba-tiba menemukan sebuah cara. Melihat Tanpa Nama belum menentukan profesi bisnis kedua, para NPC berlomba-lomba membujuknya. Namun, tiba-tiba Tanpa Nama mengabaikan mereka semua dan mulai berputar-putar di tempat, membuat para NPC itu terpaksa menghentikan aksi mereka untuk melihat apa yang akan dilakukan Tanpa Nama.
Saat semua NPC menunggu aksi aneh Tanpa Nama, ia merasa waktunya sudah cukup, lalu berhenti berputar. Namun, karena terlalu lama berputar, keseimbangannya hilang dan “bruk!” ia menabrak seorang NPC pembimbing. Ketika NPC itu masih bingung, Tanpa Nama malah berseru gembira, “Sudah! Aku pilih profesimu!”
Para NPC serempak heboh, ternyata mereka berhadapan dengan orang aneh yang memilih profesi bisnis dengan cara berputar di tempat. NPC yang kena tabrak itu pun sebal, mendorong Tanpa Nama dan berkata, “Kamu sudah jadi penjahit, silakan putar-putar saja lagi.”
Walaupun mulai ragu, para NPC lain tetap berdiri melingkar karena tuntutan persekutuan profesi yang mengharuskan mereka mencari anggota baru. Mereka menunggu Tanpa Nama melanjutkan aksinya.
Didorong oleh NPC penjahit, Tanpa Nama langsung terjatuh, untungnya kini ia tak selemah dulu di Desa Taoyuan yang sekali jatuh bisa langsung mati. Kata orang, besi harus ditempa selagi panas, begitu pula berputar harus selagi pusing. Tanpa ragu, ia bangkit dan berputar lagi.
Benar saja, tak lama kemudian Tanpa Nama menabrak seorang NPC lagi dan langsung bergumam, “Pi...pilih profesimu?” Tak hanya kepalanya pusing, lidahnya pun mulai ikut terseret efek putaran.
NPC yang kena tabrak hanya bisa pasrah, “Selamat, kamu telah bergabung dengan tukang kayu, profesi tradisional nan kuno ini. Semua keterampilan sudah aku ajarkan padamu. Pergilah, semoga kamu rajin belajar sendiri.” Setelah berkata demikian, ia langsung mendorong Tanpa Nama keluar, dan Tanpa Nama pun jatuh tanpa perlawanan.
Setelah lama terkapar di lantai, Tanpa Nama akhirnya sedikit pulih. Ia bahkan tak sempat mengecek profesi bisnis apa yang baru saja dipilihnya, sekilas saja melirik pelatih keterampilan hidup lalu mengendap-endap keluar dari Pusat Keterampilan Bisnis, sebab di sana sudah berkumpul banyak pemain yang menonton Tanpa Nama seperti menonton pertunjukan monyet.