Bab 69: Kau Memang Beruntung Bisa Selamat
He An memandang vila di depannya, lalu menjentikkan jarinya dengan nyaring. Dua makhluk kecil yang baru saja disimpan dalam ‘Ruby’ langsung melompat keluar.
“Di dalam vila ini pasti ada barang-barang berharga, kan? Keluarkan semuanya.”
Dua makhluk kecil itu memang sebelumnya tinggal di sini, tentu tahu di mana barang-barang bagus disembunyikan.
Setelah membongkar ke sana-sini, tidak lama kemudian mereka membawa keluar beberapa emas dan mata uang Baht. Melihat itu, He An mengibaskan tangannya, bayangan gelap menyebar dan dalam sekejap menelan semuanya.
Setelah tidak menemukan barang lain, kedua makhluk kecil itu pun kembali dengan patuh ke dalam permata. He An melambaikan tangan pada Tuan Baj dan berkata, “Tuan Baj, ayo pergi.”
Mendengar panggilan itu, Tuan Baj yang semula berdiri tegap berubah menjadi sebongkah bayangan, mengalir di sepanjang dinding seperti air dan perlahan menyatu ke dalam bayangan He An.
...
Keesokan paginya pukul enam, Chen Binghui tak sabar mengetuk pintu kantor.
“Tuan He? Tuan He, Anda ada di dalam?”
“Masuk saja.”
Mendengar suara He An, Chen Binghui langsung gembira dan buru-buru membuka pintu kantor.
“Tuan He, saya tidak tahu sarapan apa yang Anda sukai, jadi saya sudah menyiapkan sedikit dari semuanya. Anda ingin saya antarkan kapan?”
He An yang ada di dalam ruangan menguap dan melambaikan tangan. “Sarapan tidak usah buru-buru. Ini.”
Sambil berbicara, He An menyerahkan sebuah lampu minyak pada Chen Binghui.
“Ini lampu jiwa itu?”
Chen Binghui sedikit bergetar karena kegirangan. He An mengangguk sambil menguap, lalu menyerahkan pemantik dari sakunya dan berkata, “Coba nyalakan.”
Tanpa sungkan, Chen Binghui mengambilnya. Di usianya, ia tentu tahu cara menyalakan lampu seperti itu.
Begitu lampu dinyalakan, suara ratapan terdengar di telinganya. Ketika ia melirik, di dalam nyala api tampak bayangan kecil seseorang yang sedang meronta kesakitan—itu adalah Saipan Azan!
Meski Saipan Azan kini terlihat jauh lebih tua, wajah itu tetap ia kenali, meski berubah jadi abu sekalipun!
“Hahaha! Saipan!”
“Hahaha!”
Chen Binghui tertawa terbahak-bahak, ekspresinya liar dan penuh dendam.
Saipan yang ada di dalam sumbu lampu terbakar oleh api, wajahnya penuh penderitaan dan keputusasaan.
“Bunuh aku!”
“Bunuh saja aku!”
Mendengar rintihan memilukan itu, Chen Binghui semakin tergelak, tawa gilanya makin keras.
“Kau akhirnya jatuh ke tanganku juga!”
“Kau membunuh istri dan anak-anakku, sekarang mau mati? Tidak semudah itu!”
Chen Binghui tertawa hingga matanya memerah, air mata sebesar biji jagung mengalir di sudut matanya.
He An tak berminat melihat drama emosional itu, ia menepuk bahu Chen Binghui.
“Sebelum besok malam, siapkan uangnya untukku. Aku ingin dolar AS yang jelas asal-usulnya. Saat aku datang untuk memperbaiki formasi, aku akan bawa uangnya pergi.”
“Siap, Tuan!” jawab Chen Binghui tanpa ragu. Ini kasino, hal yang paling banyak di sini adalah uang tunai!
Soal asal-usul uang, tak masalah. Bahkan kalau aslinya uang kotor, mereka bisa membersihkannya.
Urusan menunda pembayaran atau menipu, tak pernah terlintas di benaknya. Kalau berani, bisa-bisa ia juga harus masuk ke dalam lampu bersama Saipan.
He An cukup puas melihat sikap kerja samanya. Ia menepuk punggung Chen Binghui.
“Kantor seperti ini, kenapa tidak disediakan ruang sekretaris? Kemarin aku bahkan tak menemukan ranjang, tidurnya tidak nyaman.”
Chen Binghui sempat tertegun, lalu segera menjawab, “Nanti pasti disiapkan, pasti!”
He An menatapnya dengan rasa puas. Tak heran ia bisa jadi bos.
“Sudah, silakan lanjutkan. Aku pergi dulu.”
“Tuan He, di ruang sekretaris nanti, perlu saya siapkan sekretaris khusus untuk Anda?” Chen Binghui mengangkat alis, memberi isyarat penuh arti.
Namun He An mengibaskan tangan. “Jangan bercanda. Siapa aku? Mana mungkin aku tertarik pada perempuan biasa seperti itu?”
Sambil berbicara, He An melangkah keluar kantor, berpapasan dengan Huang Lan yang baru saja membuka pintu.
Melihat He An, Huang Lan buru-buru berkata, “Tuan He, sarapan sudah saya siapkan; ada menu Tiongkok, Barat, Jepang, dan Thailand.”
He An mengibaskan tangan. “Tak usah sarapan, siapkan saja mobil untuk antarkan aku pulang.”
“Baik, Tuan He,” jawab Huang Lan dengan penuh hormat. Setelah kejadian semalam, ia sudah melihat sendiri kemampuan He An, tentu ingin lebih dekat dengan orang seperti dia.
...
“Aku sudah pulang.”
Saat He An sampai di rumah Fan Tong, He Jianguo sedang memakai celemek dan membawakan hidangan ke meja.
“Ayah sudah tahu, kau pasti akan pulang pagi-pagi begini.”
Melihat keadaan He An, He Jianguo tahu bahwa urusan sudah beres, hatinya pun diam-diam lega.
Walaupun ia tahu betul betapa kuatnya He An, tetap saja, di negeri orang yang asing, ia tak bisa sepenuhnya tenang.
He An lalu duduk di kursi utama meja makan. Di sampingnya, Bang Gu menatap hidangan di depannya tanpa berkedip, siap untuk mulai makan kapan saja.
“Eh? Di mana Fan Tong?”
He An menoleh ke kiri dan kanan. Ia tahu Fan Tong biasanya paling semangat soal makan, tapi kali ini tidak muncul.
He Jianguo tampak sedikit canggung. “Bukankah kemarin menang sedikit di kasino? Fan Tong lalu mengajak kami beli mobil.”
“Hanya saja, meski dia punya SIM, kemampuan menyetirnya payah sekali. Baru keluar kurang dari seratus meter sudah tabrakan. Airbag pun tak keluar, dua tulang rusuknya patah, sekarang lagi dirawat di rumah sakit.”
Sudut mata He An berkedut. Dalam hati ia mengakui, Fan Tong memang sial sejak lahir.
Biarpun sudah diberi cincin keberuntungan, hasilnya tetap tak seberapa.
Fan Tong memang terlalu lemah untuk menanggung keberuntungan besar.
Karena itu, begitu dapat rejeki besar, pasti akan hilang lagi karena berbagai sebab, bahkan kadang malah tekor.
Itu sudah nasibnya, sangat sulit diubah. Kalau tidak, tak akan ada istilah mengubah takdir.
Dalam sejarah, orang yang benar-benar bisa mengubah takdir bisa dihitung dengan jari.
Yang bisa dilakukan He An hanya sedikit memperbaiki nasibnya.
Alasan kenapa ia meminta Fan Tong untuk menghabiskan semua uang kemenangan sebelum tengah malam, karena uang itu jika tidak lewat malam, masih dianggap sebagai uang tak tetap, tidak memengaruhi keberuntungan.
Ternyata tetap saja tak berhasil. Sepertinya memang nasib sial Fan Tong lebih kuat.
Untungnya, ia punya keberuntungan hidup yang sangat kuat, jadi tidak akan gampang mati. Soal cedera, sepertinya sejak kecil ia juga sudah terbiasa.
“Kalau begitu, kita makan dulu saja. Setelah itu, kita jenguk dia di rumah sakit.”
“Baiklah.”
Bang Gu langsung mengambil sumpit, menatap He An dengan mata berbinar.
He An tersenyum, mengambilkan sejumput asinan untuknya, dan Bang Gu langsung makan dengan lahap.
...
Rumah Sakit Bangkok.
Baru saja tiga orang itu mendekati ruang rawat, terdengar suara Fan Tong yang genit dari dalam.
“Untuk apa aku bohong? Aku benar-benar jutawan! Lihat rantai emasku, tebal kan?”
“Sayang sekali gadis secantikmu jadi perawat, tiap hari harus hadapi banyak lelaki genit.”
“Di luar sana, yang ingin jadi asistanku bisa antre dari Bangkok sampai Prancis! Tapi aku merasa cocok sama kamu, jadi cuma kamu yang aku beri kesempatan. Hanya kamu!”
He An mendengarnya dan tahu, Fan Tong memang beruntung soal hidup, meski rusuknya patah dua, masih sempat merayu suster.