Bab 98: Meminjam Raga untuk Hidup Kembali
He An masih menyimpan rasa keterikatan terhadap Kelompok Dao Tuo. Bagaimanapun juga, keterampilan yang mereka berikan padanya sangatlah berguna. Baik itu ilmu Yin-Yang, teknik membentuk daging, jurus ‘Berjalan Menyamping’, bahkan Yu Jingzi pun pernah mengajarkan beberapa teknik racun. Saat teringat masih ada delapan orang seperti itu, He An benar-benar ingin menghabisi semuanya!
Semakin banyak keahlian, semakin baik. Ia adalah orang yang sangat gemar belajar. Layaknya mengumpulkan perangko, He An pun ingin melengkapi seluruh dua belas shio!
“Terkutuk!”
“Matilah kau!”
Beberapa pendekar muda sudah menerjang ke arah gunungan mayat. Mendengar ucapan He An, Bangku malah melemparkan tongkat tulang gajahnya, menunggu lawan menyerang dengan tangan kosong. Sikap meremehkan ini seketika membuat para pendekar merasa terhina. Salah satu pendekar yang paling cepat menyerang, mengayunkan pedangnya!
Jurus itu adalah teknik tebasan kilat yang dikenal sebagai Iai-jutsu, atau tebasan cabut pedang—jurus yang mengutamakan kecepatan dan bertujuan membunuh dalam sekali serang! Pendekar di hadapan Bangku memang memiliki kemampuan. Tebasannya begitu cepat, sampai mata telanjang tak mampu mengikuti.
Suara tajam membelah udara, cahaya pedang membentuk busur indah, hasil latihan puluhan ribu kali yang sudah tertanam dalam ototnya, tak mungkin meleset!
Dentang terdengar saat Bangku menjepit mata pedang dengan dua jari.
Pada detik itu, suasana seakan membeku. Sang pendekar yang awalnya garang menatap Bangku dengan pandangan kosong. Ia tak habis pikir, jurus yang ia asah bertahun-tahun kalah dengan sepasang jari! Namun sayang, waktu untuk berpikir tak banyak tersisa. Bangku menekuk jarinya, lalu menjentikkannya ke kening sang pendekar.
Bunyi tumpul terdengar, meski pelan, isi kepala pendekar itu langsung kacau balau. Tubuhnya roboh tanpa nyawa.
Melihat rekannya tewas, para pendekar di belakang langsung meraung marah. Namun kali ini, tak ada yang berani maju, mereka hanya berteriak di tempat.
Sementara itu, mayat berzirah emas sudah menewaskan dua pendekar lain. Kini hanya tersisa tiga mayat utuh, kurang satu lagi, lalu apa yang mesti dilakukan?
Di saat para pendekar berteriak, dalam sekejap, sosok Bangku dan mayat berzirah emas sudah membesar di hadapan mereka!
Para pendekar yang mampu bersaing dengan para onmyoji di Negeri Sakura, tentu bukan orang sembarangan! Salah satu pendekar yang berusia sekitar empat puluhan membungkuk sedikit, dan dalam sekejap, ia kembali mengayunkan pedang!
Aura pedang yang kasat mata melesat keras, Bangku menyipitkan mata, menghentakkan kedua kakinya, tubuhnya meloncat tinggi. Seketika, mantra merah bermunculan di sekujur tubuhnya, badannya bertambah besar beberapa tingkat.
‘Berjalan Menyamping’!
Ilmu andalan Wang Sun itu kini sudah dikuasai Bangku dalam waktu dua bulan.
Dentuman keras terdengar.
“Langkah!”
Saat masih melayang, Bangku mengaktifkan jurus langkah, membuat tubuhnya meluncur turun bak batu seberat ribuan kilogram.
Pendekar paruh baya itu kembali menghunus pedang, namun Bangku sama sekali tak menghindar. Mantra di kakinya berkilauan, satu hentakan menghancurkan tebasan lawan!
Lalu kakinya mendarat tepat di wajah pendekar itu, menciptakan lubang besar di tanah akibat kekuatan dahsyat.
He An memandang waktu yang semakin menipis, enggan membuang waktu lebih lama.
Ia membentuk mudra dan melantunkan mantra. Gunungan mayat di bawah kakinya bergetar hebat, lalu tiba-tiba tumbuh ‘delapan kaki’!
Satu demi satu mayat kering menyatu membentuk ‘kaki kepiting’. Di antara gerakannya, masih terdengar jeritan pilu dari tubuh-tubuh yang bergabung!
Didukung delapan kaki raksasa, gunungan mayat itu pun perlahan bergerak. Setiap langkahnya, daging busuk berjatuhan, aroma pembusukan menyesakkan udara.
“Cepat selesaikan!”
Mendengar perintah He An, mantra di tubuh Bangku memancarkan cahaya merah. Empat mayat utuh sudah siap, sisanya tak perlu dipikirkan!
Mayat berzirah emas mengaum, zirah uang logam di tubuhnya bergerak seolah hidup.
Sejak menewaskan Yu Jingzi, He An terkesan pada zirah sisik ular milik wanita itu. Setelah mempelajari cara pembuatannya, ia kembali menempa zirah logam miliknya, menambah kekuatannya berkali lipat.
Para pendekar tertegun menatap gunungan mayat yang bergerak, merasakan absurditas seolah mereka sedang bermimpi.
Ilmu ‘Berjalan Menyamping’ sangat cocok untuk Bangku. Begitu ia mengaktifkan jurus itu, tongkat tulang gajah di tangannya berkelebat, memecah kepala para pendekar lemah tanpa ampun.
Sedangkan yang lebih kuat, ditahan oleh mayat berzirah emas. Setelah Bangku menghabisi yang lemah, baru keduanya bersama-sama membantai yang tersisa.
He An menatap empat mayat utuh, lalu mengeluarkan Darah Dewa Kegelapan, membentuk mudra, dan mulai melantunkan mantra. Darah itu dengan cepat membentuk simbol rumit di permukaan mayat.
Seketika, He An berteriak lantang!
“Bangkitlah dengan tubuh pinjaman!”
Bersamaan dengan teriakan itu, cahaya merah berkedip di belakangnya, empat roh keluar dari Bendera Seribu Jiwa, langsung masuk ke dahi masing-masing mayat.
“Bau apa ini? Siapa yang meledakkan jamban di sini?”
Mayat pertama langsung meloncat berdiri, menutup hidung, wajahnya penuh ekspresi jijik.
Namun segera ia sadar ada yang tak beres. Melihat tubuhnya sendiri, ia malah tertawa.
“Haha, akhirnya aku keluar juga!”
Namun begitu mendongak dan melihat senyum sinis He An, ia sadar, kebebasannya hanya sementara.
Melihat kelakuan itu, He An sudah bisa menebak siapa yang terbangun lebih dulu.
Wang Sun!
Tiga mayat lainnya pun perlahan membuka mata, masing-masing berkerut kening mencium bau sekitar.
“Hu Ran Lang,” panggil He An.
“Aku di sini.”
“Gunakan teknik membentuk dagingmu, kembalikan wujud semua ke asalnya.”
“Baik,” jawab Hu Ran Lang, lalu mulai bekerja.
He An mengamati dengan saksama. Harus diakui, Hu Ran Lang sangat ahli di bidang itu. Dalam beberapa tarikan napas, keempat mayat kembali seperti semula. Bahkan Yu Jingzi yang semula menempati tubuh lelaki, kini kembali menjadi perempuan.
He An membalikkan badan menghadap arah Gunung Fuji. “Barusan aku rasakan ada aura asing di dunia ini. Sepertinya mantan pemimpin kalian sudah membuka jalur.”
Mendengar itu, keempatnya tak bereaksi. Setelah masuk ke dalam Bendera Seribu Jiwa, segalanya—termasuk pikiran mereka—sudah bukan milik sendiri.
“Tapi kurasa dia gagal sepenuhnya. Kalau tidak, Dao Tuo pasti sudah muncul dan membantai segalanya, bukan?”
“Aku dan kelompok kalian sudah lama saling kenal. Sudah sewajarnya aku bantu.”
Senyum tipis terulas di bibir He An.
“Kalian dengar, begini rencananya ...”
...
Di puncak Gunung Fuji, kawah yang hancur memancarkan aura khas Alam Setan Lapar.
Batu dan salju di sekitar mulai terkikis, berubah bentuk oleh aura itu.
Salju mencair, menjadi tumpukan belatung busuk yang menggeliat.
Batu meleleh, berubah menjadi cairan kehijauan yang menguap.
Bahkan gunung itu perlahan berubah menyerupai jaringan daging dan darah!
Namun Dewa Kuil tak peduli, sepenuh hati bertarung melawan monster di hadapannya!
Awalnya, ia bisa mengandalkan jumlah orang untuk menekan monster itu.
Tapi barusan, pendekar terkuat dari Balai Bela Diri—Sang Pendekar Pedang—akhirnya tiba dan bergabung dengan sang monster. Keseimbangan yang semula miring, kini kembali setara.