Terbang ke Langit

Terbang ke Langit

Penulis: Melompat Seribu Kesedihan
24ribu kata Palavras
0kunjungan visualizações
100bab Capítulo

Di bawah langit yang luas, dunia penuh kepalsuan; manusia lebih menakutkan daripada siluman dan iblis! Tangan halus selembut sutra, kecantikan bak batu giok, namun pedang melesat bagai pelangi di anta

Bab Satu: Dunia yang Penuh Cahaya (Bagian Satu)

"Jangan lari! Marga Miao, kau tak akan bisa kabur, berhenti di situ!"

Tiga pemuda berlari membawa golok panjang, menyusuri pegunungan yang gelap gulita dan aneh, sambil sesekali mengayunkan senjata menakuti orang di depan agar berhenti. Namun, ancaman itu sia-sia, orang di depan malah semakin kencang larinya.

Pemuda yang menggenggam pisau jagal itu sama sekali tak mengindahkan teriakan di belakang, bahkan sambil berlari ia menoleh dan membalas dengan lantang, "Anjing gila, tak lihat ini tempat apa? Otakmu rusak!"

Mana mungkin ia berhenti? Jika berhenti, nyawanya pasti melayang. Ia terus berlari sekencang-kencangnya, suara 'krek krek' terdengar dari bawah kakinya, setiap tanah yang dipijak membuat rumput hitam menjadi abu beterbangan.

Sekelilingnya, rumput berwarna hitam, pepohonan juga hitam, semua tanaman pun hitam. Bukan karena dicat atau memang berwarna hitam sejak awal, tapi karena telah menjadi arang, hitam legam. Seperti apa sepuluh ribu tahun lalu, begitulah juga sepuluh ribu tahun kemudian, waktu seolah berhenti di tempat ini. Segala vegetasi bagaikan patung hitam yang hidup, terbungkus kabut putih yang kelam dan misterius.

Tempat yang mirip alam baka ini dinamakan 'Kedalaman Debu Merah'. Konon sepuluh ribu tahun lalu, seratus ribu prajurit dan dewa turun dari langit, mengejar seorang raja iblis hingga ke sini. Namun sang raja iblis terlalu kuat, sehingga mereka memasang formasi maut, lalu binasa bersama di tempat ini.

Sepuluh ribu tahun sudah berlalu, kabut putih yang kini meliputi temp

📚 Rekomendasi Terkait

Peringkat Terkait