Bab 26: Badut-Badut yang Berulah
Hujan deras terus mengguyur tanpa henti. Langit perlahan meredup, tak terasa senja pun tiba.
Biasanya, bagi mereka yang kelelahan karena harus terus menempuh perjalanan, urusan makan selalu dianggap sekadar pengisi perut. Bisa mendapatkan semangkuk bubur nasi untuk menemani bekal kering pun sudah dianggap sebuah kemewahan. Namun, semenjak kehadiran Ren Heng, situasi mereka telah berubah total.
Hal lain mungkin bisa dilakukan dengan malas-malasan, tetapi urusan makan harus dilakukan dengan penuh semangat! Bagaimanapun, ini bukan sekadar untuk memuaskan selera pribadi, melainkan demi melayani sang "tuan putri" dengan sebaik-baiknya.
Begitu tiba di kuil tua itu, Huo Zijun dan kawan-kawan segera mengerahkan orang-orang untuk mencari kayu bakar ke seluruh penjuru kuil, karena khawatir tidak akan ada bahan bakar saat waktunya memasak nanti. Beruntung, karena kuil ini sering dijadikan tempat persinggahan para pengembara, mereka berhasil menemukan cukup banyak sisa kayu kering.
Karena mengetahui Huo Zijun dan kelompoknya memasak untuk sang "Dewi", orang-orang lain pun memprioritaskan mereka terlebih dahulu, bahkan banyak yang turut membantu mencari kayu. Setelah Huo Zijun merasa kayu bakar mereka cukup, barulah orang lain mulai membagi sisanya.
Karena rombongan pedagang keluarga Hu tiba agak terlambat, sebagian besar kayu sudah habis diambil, sehingga mereka hanya mendapatkan sedikit. Baru saat hari benar-benar gelap mereka bisa menyalakan api dan mulai memasak bubur.
Sekarang, karena ada orang luar, kelompok Ren Heng tidak ingin terlalu mencolok. Ren Heng diam-diam memberikan hadiah yang dijanjikan siang tadi kepada Zhao Wu untuk dibagikan kepada yang lain.
Keluarga Hu mulai memasak lebih dulu. Aroma bubur nasi dari panci mereka menyeruak, membuat para tahanan di dekat rombongan pedagang itu merasa sangat lapar. Beberapa orang tak tahan untuk menoleh ke arah mereka, bahkan tak sedikit yang menelan ludah.
Hu Ping'er menyadari hal itu dan mengerutkan kening dengan rasa jijik. "Apa yang kalian lihat? Dilihat sampai kapan pun, kalian tidak akan dapat bagian!"
"Sebagai sekumpulan tahanan, sadarlah diri sedikit! Jangan membuatku kesal!"
Ucapannya yang kasar membuat orang-orang itu merasa malu dan canggung. Salah satu yang agak berani bergumam, "Cuma melihat saja tidak akan membuatmu rugi, lagipula kami tidak meminta makananmu. Kenapa harus semarah itu?"
Hu Ping'er mencibir, "Kalian memang ingin meminta, kan? Tapi dengan status kalian, memangnya pantas makan bubur nasi?"
"Hah, apa kalian tahu berapa harga beras sekarang? Jangankan kalian, para sipir yang mengawal kalian saja belum tentu bisa makan nasi setiap hari, bukan?"
Niat awalnya adalah untuk pamer dengan angkuh. Namun, setelah mengatakannya, ia justru melihat ekspresi orang-orang itu tampak aneh. Tidak ada rasa iri seperti yang ia bayangkan, justru ada yang mencibir seolah meremehkan.
Dulu saat dipermalukan Zhao Wu, Hu Ping'er mungkin bisa menahan diri karena Zhao Wu adalah sipir. Tapi sekarang, para tahanan pun berani tidak hormat padanya? Kemarahannya pun meledak. "Ekspresi apa itu? Apa aku salah bicara?"
"Meski dulu kalian mungkin pejabat tinggi, bukankah sekarang kalian hanyalah tawanan yang harus makan makanan sisa? Atau jangan-jangan kalian belum sadar bahwa seumur hidup kalian mungkin tak akan pernah bisa mencicipi nasi putih lagi!"
Semakin ia bicara, semakin ia merasa puas. Hu Junyan sempat berbasa-basi menasihati adiknya dua kali, namun melihat adiknya tidak mendengarkan, ia hanya tersenyum tak berdaya kepada Zhao Wu, "Adikku memang nakal, mohon dimaklumi."
Meski berkata demikian, ia sebenarnya tidak berniat benar-benar menghentikannya. Di matanya, para tahanan ini hanyalah tawanan yang tidak berharga. Dimaki pun tidak masalah, ia yakin Zhao Wu tidak akan mempermasalahkan hal kecil seperti ini demi para tahanan.
Zhao Wu memang tidak berniat ikut campur. Sebab, di matanya saat ini, Hu Ping'er tidak ada bedanya dengan para tahanan itu—ia hanya menganggap Hu Ping'er sebagai badut yang sedang melawak.
Setelah dihina dan direndahkan oleh Hu Ping'er, para tahanan yang awalnya marah justru menjadi tenang, bahkan menatapnya dengan tatapan seperti melihat orang bodoh. Salah satu yang berwatak keras tak tahan dan membalas, "Sudahlah, kenapa kau begitu yakin kami tidak bisa makan nasi?"
Hu Ping'er merasa sikap mereka aneh. Bukannya merasa lega setelah menghina, ia justru semakin kesal. Sekarang ada yang berani menjawab, ia pun semakin menjadi-jadi. "Hah, kalian bisa makan? Kurasa kalian hanya membual!"
Saat sedang bicara, bubur nasi mereka sudah matang. Seorang pengawal membawakan semangkuk bubur kental untuknya. Hu Ping'er segera mengangkat dagu dan berkata, "Jika kalian minta maaf padaku sekarang dan bersujud tiga kali mengakui bahwa kalian hanya membual, aku mungkin akan mempertimbangkan untuk memberikan bubur ini kepada kalian!"
Sikapnya yang angkuh membuat bibir para tahanan itu berkedut. Orang yang tadi membantah langsung melambaikan tangan, "Tidak perlu, sudah kubilang kami pun punya!"
Wajah Hu Ping'er berubah masam. "Kenapa? Apa kalian juga ingin meniru sikap sok suci sipir itu?"
"Pikirkan baik-baik, jika melewatkan kesempatan ini, mungkin selamanya kalian tak akan bisa mencicipi makanan seenak ini lagi!"
Tahanan itu menatapnya datar, "Kalau memang seenak itu, simpan saja untuk dirimu sendiri!"
"Kau!" Hu Ping'er sangat marah hingga berdiri, bersiap untuk memukul.
Pada saat kritis, Zhao Wu akhirnya angkat bicara, "Nona Hu, jangan mencari masalah. Orang-orangku, meskipun mereka tahanan, tidak semudah itu untuk bisa kau tindas!"
Melihat Zhao Wu ikut bicara, Hu Junyan yang tidak ingin terlibat konflik karena masalah sepele terpaksa berdiri untuk menengahi. Hu Ping'er akhirnya menyerah. Namun, saat melihat bubur nasi dan bakpao putih yang harum itu, ia justru kehilangan selera. Ia membanting sumpitnya, "Aku tidak mau makan!"
Melihat Hu Ping'er tidak lagi membuat keributan, Zhao Wu berdiri dan memanggil semua orang, "Waktunya sudah cukup, kita juga harus mulai memasak. Ayo bergerak!"
Karena sekarang mereka makan bersama, tidak ada alasan bagi para sipir saja yang bekerja sementara para tahanan hanya duduk manis. Mereka pun membagi tugas bagi siapa saja yang tidak memiliki pekerjaan lain untuk memasak secara bergantian.
Mendengar mereka akan memasak, rasa tidak puas dalam hati Hu Ping'er muncul kembali. Ia menatap para tahanan itu dengan sinis, menunggu momen saat mereka dipermalukan nanti. Sayangnya, mereka sama sekali tidak peduli padanya, bahkan tidak meliriknya sedikit pun.
Usahanya mencari perhatian sia-sia. Hu Ping'er menjadi semakin murka. Matanya terus terpaku pada tempat mereka memasak, bertekad harus melihat mereka dipermalukan hari ini demi melampiaskan amarahnya.
Ren Heng yang mengamati dari awal hanya merasa Hu Ping'er benar-benar kurang kerjaan. Entah apa yang ia dapatkan dari menghina orang lain? Apakah ia merasa puas hanya jika ada orang lain yang menjadi pembanding kemegahannya? Ia tidak sadar bahwa perilakunya justru membuatnya terlihat sangat rendah.
Namun, dari beberapa kejadian ini, terlihat jelas bahwa Hu Ping'er meskipun tempramental, sangatlah bodoh dan kejahatannya hanya di permukaan. Berbeda dengan Hu Junyan yang terlihat seperti orang baik, namun sebenarnya memiliki banyak muslihat.
Oleh karena itu, ke depannya ia harus lebih waspada terhadap Hu Junyan. Sedangkan Hu Ping'er yang pemarah dan sombong itu... bagi Ren Heng, ia hanyalah sebuah mesin ATM berjalan!
Hm, uang orang seperti ini paling mudah ditipu... maksudnya, paling mudah dicari!