Bab 11: Mencari Guru
Tinggal sementara di Perkumpulan Wuluo memang sudah sewajarnya, setidaknya itulah yang dipikirkan oleh Lizi Yun. Bahkan sebelum Wang Ziming sempat memberikan pendapat, dengan sifatnya yang selalu ingin serba cepat, ia sudah menetapkan segalanya. Tentu saja, kamar itu sendiri memang sangat baik; meski kecil, segala perlengkapan hidup yang diperlukan tersedia lengkap. Luasnya memang tidak seberapa, tetapi untuk dihuni seorang diri sudah lebih dari cukup, dan Wang Ziming merasa cukup puas akan hal itu. Ditambah lagi dengan Lizi Yun yang di sampingnya terus saja memuji dan membesar-besarkan segala sesuatunya dengan penuh semangat, membuat Wang Ziming bahkan tak sempat punya kesempatan untuk menolak. Mengenai harga, apakah sesuai atau tidak, itu urusan penerbit, Wang Ziming tidak perlu memusingkan hal tersebut.
Setelah diputuskan bahwa ia akan tinggal di sana, Lizi Yun menjadi sangat gembira dan memaksa Wang Ziming untuk mentraktir mereka, dengan alasan bahwa ia baru saja mendapatkan rejeki nomplok. Lizi Yin yang berada di sampingnya hanya menasihati secara simbolis lalu diam saja; tampaknya keinginan untuk makan gratis bukan hanya milik satu orang saja.
Bujukan sang gadis kecil memang sangat meyakinkan, sehingga Wang Ziming tidak punya pilihan lain selain setuju. Lagi pula, itu memang rezeki tak terduga, datang dengan mudah, pergi pun dengan cepat, Wang Ziming sendiri tak merasa sayang.
Setelah memberi tahu penerbit bahwa tempat tinggal sudah ditentukan, yang berikutnya adalah bagaimana menata kamar. Dari segi kebersihan, menurut standar Wang Ziming, ruangan itu sudah sangat bersih, tapi di mata Lizi Yin dan Lizi Yun, masih saja ada kekurangan di sana-sini. Entah bagaimana, saat memperkenalkan kamar tadi mereka tidak melihat kekurangannya, mungkinkah di dunia ini benar-benar ada penyakit lupa sementara?
Untungnya, menata kamar memang sudah naluri para gadis, dan pada dua gadis ini, hal itu tampak sangat jelas. Selain urusan berat seperti menggeser meja dan lemari yang dilakukan oleh Wang Ziming, selebihnya mereka berdua yang menangani, tentu saja sambil mengeluh. Tapi semua orang tahu, jika ingin mendapatkan sesuatu, harus mau berusaha. Mendengarkan rengekan dan kelakar manja dua gadis itu juga terasa menyenangkan di telinga. Biar saja mereka bicara, toh yang diuntungkan tetap dirinya sendiri. Wang Ziming pun senang duduk di atas ranjang menonton kedua gadis itu sibuk ke sana kemari, rasanya cukup menghibur juga.
Papan skor di aula sudah lama dicabut, suasana perkumpulan catur pun kembali tenang seperti biasa. Pertandingan catur taruhan seperti ini memang sering terjadi di setiap perkumpulan, dan bila ada yang berbeda hari ini, itu karena jumlah taruhannya memang besar, dan biasanya pihak pemburu justru kali ini menjadi mangsa. Mungkin kejadian ini ibarat melempar batu ke danau yang tenang, meski sempat menimbulkan riak, akhirnya pun tak akan meninggalkan jejak. Tentu saja, itu hanya tampak di permukaan danau.
Di bangku panjang dekat jalan tak jauh dari Perkumpulan Wuluo, Huang San duduk termenung. Ia sangat sadar bahwa dirinya adalah batu yang dilempar ke air tadi. Meskipun para kenalan lama di Perkumpulan Wuluo berusaha bersikap tenang di depannya, ia yakin dalam sehari saja, cerita tentang dirinya yang kalah habis-habisan akan tersebar ke seluruh perkumpulan catur di Distrik Shijingshan, bahkan mungkin dengan tambahan bumbu cerita. Kehilangan hampir tujuh ratus yuan memang menyakitkan, tapi dibandingkan dijadikan lelucon oleh orang-orang di kalangan itu, rasanya seperti kehilangan sehelai rambut saja. Andai kekalahan ini hanya diketahui oleh mereka berdua, Huang San rela menambah lima ratus lagi, sayangnya itu hal yang mustahil.
Setelah menenangkan diri dan berpikir lebih jernih, Huang San semakin merasa dirinya telah masuk ke dalam jebakan orang itu. Kemampuan yang ditunjukkan lawannya pada pertandingan ketiga sangat luar biasa, penguasaan permainannya benar-benar mengagumkan. Meski karena terlalu meremehkan lawan di awal ia tidak bisa menunjukkan kemampuan sebenarnya, satu pertandingan memang belum cukup untuk membuktikan segalanya, namun kemampuan lawan secara keseluruhan jelas tidak kalah darinya. Artinya, dua pertandingan pertama yang tampak buruk dari lawan itu hanyalah umpan untuk menjeratnya! Ironisnya, dirinya yang sudah berpengalaman lebih dari sepuluh tahun dalam taruhan catur sama sekali tidak menyadari itu!
Apakah mungkin orang itu memang jago taruhan catur?
Jantung Huang San tiba-tiba berdegup kencang. Sebelum masuk ke perkumpulan tadi, ia mendengar orang itu ingin tinggal dan menyewa kamar di sekitar situ. Bukankah itu berarti ia berniat mengembangkan diri di sini? Kalau kekuatannya memang seperti itu, bukan tidak mungkin ia akan membuat dunia taruhan catur di Distrik Shijingshan porak-poranda. Kalau benar, apakah kekalahannya hari ini memang sengaja dijadikan peringatan?
Semakin dipikirkan, Huang San semakin yakin. Jika memang orang itu jagoan taruhan catur, maka apa yang terjadi hari ini bukan hanya urusannya sendiri, tapi masalah besar bagi semua orang yang hidup dari taruhan catur di distrik itu.
Ia harus segera mencari kakaknya untuk berdiskusi dan menyusun strategi. Sebaiknya selagi orang itu belum benar-benar mapan, segera singkirkan ancaman ini, jika tidak akibatnya bisa sangat serius.
Dengan pikiran seperti itu, Huang San pun membereskan suasana hatinya dan bergegas menuju halte.
Menata kamar memakan waktu hampir setengah jam, dan Wang Ziming heran mengapa kamar kecil satu ruangan itu bisa begitu banyak yang harus dibereskan. Mengapa kamar yang menurutnya sudah rapi, di mata orang lain seperti kandang babi? Wang Ziming tak habis pikir, sepertinya hanya bisa menyimpulkan itu semua memang sifat alami perempuan.
“Wah, rasanya memang beda setelah dibereskan, menurutku hotel bintang empat pun tak sebaik ini!” Meski tak banyak membantu, kalau tidak mengucapkan sesuatu, pasti sebentar lagi akan jadi sasaran omelan, jadi lebih baik bersikap proaktif.
“Tentu saja, coba liat siapa kami!” Lizi Yun menjawab, terbaring di ranjang dengan kelelahan tanpa memperdulikan penampilannya.
“Ayo bangun, dasar pemalas! Seprai yang baru dipasang sudah kamu acak-acak lagi!” Lizi Yin meletakkan sapu di tangannya, menegur adiknya.
“Ih, aku cuma rebahan sebentar setelah capek-capek, kok langsung dibilang pemalas. Tadi kan dia duduk di ranjang ini setengah jam, kenapa kamu gak bilang apa-apa?” Lizi Yun menunjuk Wang Ziming dengan nada tak terima.
“Kamu itu perempuan, mana bisa dibandingkan dengannya. Lagi pula, dia hanya duduk, bukan rebahan, dan waktu itu seprei belum dipasang, jadi tidak masalah,” jawab Lizi Yin.
“Tapi aku kerja, dia tidak. Kenapa cuma aku yang dibilang pemalas?”
“Kenapa? Karena lantai aku yang pel, jendela aku yang bersihkan, lemari dapur aku yang rapikan, semua aku yang kerjakan tapi aku tidak rebahan, kenapa kamu bisa rebahan!” Lizi Yin menghitung dengan jarinya.
“Oh, jadi karena tidak sempat istirahat di tempat yang paling enak ya! Kalau begitu bilang saja dari tadi, ranjang ini cukup besar, kamu tidur di sebelah sana saja, kenapa harus cari alasan?” Lizi Yun berkata seolah baru menyadari.
“Aduh, kamu ini ada-ada saja! Ngomong apa sih!” Lizi Yin wajahnya memerah, melirik Wang Ziming sebentar lalu berkata pelan, jelas khawatir kalau ada yang salah paham.
“Sudahlah, kalian berdua memang sudah banyak berusaha, sekarang istirahatlah sebentar. Kalau ada yang perlu dikerjakan, biar aku saja yang urus.” Wang Ziming tersenyum menyela, mendengarkan percakapan antar gadis memang menghibur, kadang urusan kecil bisa melebar ke mana-mana. Melihat mereka memang sudah lelah, lebih baik mereka istirahat dulu.
“Huh, tadi waktu masih banyak kerjaan kok kamu gak kelihatan rajin? Sekarang semua sudah selesai, malah kamu yang enak-enakan!” Lizi Yun mencebik, wajah imutnya sangat menggemaskan.
“Eh, tadi yang pindah-pindah meja dan lemari kan aku? Kalau kamu bilang begitu, rasanya kok menyakitkan hati.” Wang Ziming berpura-pura sedih.
“Ah, apa yang perlu disesali, sembilan puluh persen pekerjaan kami yang lakukan, kamu memang angkat-angkat barang, tapi itu juga karena kami yang suruh! Ini kan rumahmu sendiri, kalau kamu gak kerja siapa lagi! Lagi pula, setelah angkat barang, selain duduk di ranjang, apa lagi yang kamu lakukan? Masih berani bilang sakit hati, sebenarnya kamulah pemalasnya!” Lizi Yun berkata dengan nada meremehkan.
“Eh, tadi kakakmu yang bilang kamu pemalas, kenapa tiba-tiba aku yang kena?” Wang Ziming tersenyum.
“Pertama, kamu gak peka sama kerjaan, artinya memang biasanya kamu malas. Kedua, waktu kami bersih-bersih, kamu tidak tahu membantu, artinya kamu memang pemalas. Ketiga, aku yang bilang dan aku tak pernah salah menilai orang. Gimana, kamu terima nggak?” Lizi Yun berkata dengan penuh keyakinan.
“Haha, alasanmu memang masuk akal. Kecuali orang iseng, siapa yang berani tidak terima.”
“Huh, baguslah kalau kamu mengaku. Nah, sekarang bilang, setelah kami bersihkan kamar setengah hari ini, bagaimana kamu mau berterima kasih?” Lizi Yun bertanya dengan gaya seolah-olah sudah menang.
“Tentu saja, nanti waktu makan, kalian pesan saja beberapa lauk tambahan, anggap saja sebagai ucapan terima kasihku atas bantuan kalian.” Gadis kecil ini memang cepat akrab, padahal baru kenal tidak lama sudah berani menuntut seperti ini, pasti di rumahnya juga jadi pusat perhatian.
“Jangan dicampur aduk, itu urusan lain. Makan malam ini kamu traktir karena menang catur, sekarang aku tanya soal kamar!”
“Lalu menurutmu harus bagaimana?” Wang Ziming menggaruk kepala, benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
“Nah, kalau aku minta apa saja, kamu mau turuti?” Sudut bibir Lizi Yun melengkung nakal, membuat Wang Ziming merasa ada sesuatu yang berbahaya.
“Yun, jangan keterlaluan. Bersih-bersih kamar kan bukan hal besar.” Lizi Yin yang sangat memahami adiknya memperingatkan, ia tahu adik kesayangannya itu berani melakukan apa saja.
“Tenang saja, Kak. Aku tahu batasannya kok.” jawab Lizi Yun, matanya tetap menatap Wang Ziming menunggu jawaban.
“Asal masih dalam kemampuanku, aku akan lakukan.” Meski dalam hati Wang Ziming merasa tidak enak, tapi melihat tatapan penuh harap dari lawan bicara, ia juga tak sampai hati menolak. Lagipula, andai permintaan Lizi Yun terlalu berlebihan, ia bisa saja menolaknya dengan alasan tidak mampu, jadi seharusnya tidak masalah.
“Baik, permintaanku adalah, kamu ajari kami berdua main catur!” Kali ini Lizi Yun mengucapkannya dengan nada serius, berbeda dari sebelumnya yang hanya bergurau.