Bab Delapan: Topeng
“Monster, ini benar-benar monster! Jangan dekati aku, aku belum mau mati, jangan dekati aku!”
Seorang pria besar berkepala plontos yang mengenakan setelan jas mahal tampak ketakutan setengah mati. Wajar saja, meski dirinya adalah kepala geng yang telah banyak makan asam garam kehidupan, namun ia belum pernah melihat ada manusia yang bisa membunuh orang seperti hantu—begitu cepat dan tanpa suara!
“Aroma darah segar, bau ketakutan, dan aroma putus asa... sungguh membuatku ketagihan. Tapi... ini masih jauh dari cukup.”
Lelaki bertopeng badut itu melangkah perlahan menuruni tangga dari sekoci ke lantai bawah. Sekoci yang sebelumnya penuh sesak kini telah kosong melompong, hanya tersisa beberapa mayat pria dan wanita berpakaian mewah yang tak sempat melarikan diri dari kelas utama.
Si pria besar berkepala plontos itu juga tak sempat mundur, ia terhuyung-huyung lalu terjatuh ke lantai. Menghadap si badut, ia menopang tubuh dengan kedua tangan dan gemetar hebat. Dengan suara bergetar, ia memohon, “Jangan bunuh aku, aku adalah Macan Wang, aku bisa memberimu uang, sangat banyak uang, kumohon, jangan bunuh aku!”
Si badut sama sekali tak memedulikan kerumunan orang yang panik berlarian di antara ketakutan dan keputusasaan. Ia menatap pria plontos itu dari atas, lalu tersenyum aneh, “Uang, ya? Harga untuk menyuapku sangat mahal, tahu.”
Pria plontos yang mengaku bernama Macan Wang langsung melihat harapan. Ia buru-buru menimpali, “Tak masalah, tak masalah, aku punya enam hotel dan dua pusat hiburan, sebut saja harganya—lima ratus ribu? Satu juta? Dua juta? Dalam sepuluh menit aku bisa langsung transfer ke rekening yang kau mau. Kita sama-sama cari makan, tak perlu saling melukai, bukan?”
Ia memaksakan seulas senyum yang lebih mirip tangisan, tertawa kaku beberapa kali. Menghadapi pembunuh berdarah dingin seperti itu, hatinya benar-benar ciut.
“Harga untuk menyuapku—nyawamu sendiri. Apakah kau mau membayarnya padaku?” Suara tawa si badut terdengar seperti burung hantu di hutan malam, membawa rasa takut yang menembus hingga ke sumsum tulang.
Mata Macan Wang mendadak membelalak. Sekilas, tekad bulat melintas di matanya. Ia menyeringai garang, “Sialan, kalau kau tak memberiku jalan hidup, aku akan melawanmu mati-matian. Mati kau!”
Ia mengeluarkan pistol dari balik jasnya, mengarahkan tepat ke dada si badut, lalu menarik pelatuk berulang kali!
“Dor! Dor! Dor!”
Dengan jarak sedekat ini, bahkan rompi antipeluru pun takkan mampu melindungi! Apalagi, si badut hanya mengenakan jas ekor walet biasa; tiga peluru itu cukup untuk merenggut nyawanya!
“Hmph, kau kira aku takut padamu? Aku, Macan Wang, sudah melanglang buana bertahun-tahun, pemandangan apa yang belum kulihat? Dua juta? Kau tak lebih berharga dari seonggok sampah!” Macan Wang tertawa terbahak-bahak. Tunduk pasrah dan memohon tadi hanyalah siasat, demi membuat si pembunuh lengah dan mencari momen untuk berbalik menyerang!
“Bau kebodohan benar-benar membuatku muak.” Tubuh si badut yang semula tergeletak tak bergerak, tiba-tiba, dengan cara yang aneh, berdiri tegak.
Benar, ia berdiri tanpa menekuk lutut—tegak lurus seperti tombak!
“Kau... bukankah kau sudah ditembak? Mana mungkin...” Macan Wang tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Ketika ia menarik pelatuk, si badut jelas-jelas roboh ke lantai. Dengan jarak sedekat itu, bagaimana mungkin ia bisa ditembak tiga kali dan tetap hidup? Apakah dia hantu?
“Kau bilang tertembak, maksudmu benda ini?” Suara si badut terdengar parau, seperti suara menelan dari tenggorokan, seolah ingin tertawa namun pita suaranya telah rusak. Keinginan untuk tertawa yang tak dapat terwujud, sama suramnya dengan senyum aneh di balik topeng badut itu.