Bab Dua Puluh Enam: Kerakusan

Dunia Masa Depan yang Gila Pembunuh Biru 856kata 2026-02-09 23:48:35

Aula pameran yang terletak jauh di bawah Akademi Pemecah Bintang, dikelilingi oleh danau, kini berada di ambang kehancuran. Dalam pertempuran sengit yang terjadi di sana, dinding superalloy telah berlubang di banyak tempat, dan kubah yang kokoh pun penuh dengan retakan. Air danau terus merembes masuk, membuat ruangan itu bak air terjun kecil.

Lin Xingluo berlumuran darah, luka di lengannya begitu dalam hingga tampak tulangnya. Tak hanya di lengan, racun Xiang Yao telah menggerogoti tubuhnya dan membuat puluhan luka terbuka di seluruh badannya. Asap hitam tak terhitung jumlahnya melingkari luka-lukanya, berusaha memperbaikinya, membuat tubuhnya seperti terselimuti tirai hitam pekat—seolah-olah ia berada dalam kepompong.

Di tengah kabut pekat itu, matanya berkilat tajam, dan bilah pedang di tangannya memantulkan sorot marah dari mata sang ular raksasa.

“Sudah delapan kepala, tinggal satu lagi. Mengendalikan kekuatan yang tak stabil ini sungguh sulit. Sebelum menaiki kapal udara itu, aku belum tentu bisa sepenuhnya menguasainya, tapi sampai di sini saja.” Lin Xingluo membungkuk dalam posisi siap menerkam, dengan tenang mengumumkan hukuman mati bagi Xiang Yao.

“Graaaar!”

Binatang buas purba yang telah tertidur ribuan tahun di bawah tanah itu jelas tak rela dikalahkan oleh pemuda tak dikenal ini. Ia pun menyadari, kekuatan fisik dan mental bocah di depannya sudah nyaris habis. Selama ia bisa bertahan dari serangan kali ini, bahkan tanpa perlu menyerang balik, pemuda itu pasti akan tumbang lebih dulu karena kelelahan!

“Kau pasti mengira, dengan tubuh manusianya, aku mustahil mengalahkanmu, makhluk buas yang dulu mengikuti Gonggong dan menimbulkan bencana air bah. Tapi andai begitu, lalu apa?”

Lin Xingluo tersenyum aneh, benang-benang hitam yang semula tenang di tubuhnya kini mulai bergerak liar. Benang itu cepat saling terkait di belakangnya, perlahan membentuk sosok raksasa.

Saat Xiang Yao melihat jelas sosok itu, sorot marah di matanya seketika bergolak hebat. Tadinya ia masih bisa menahan diri, bahkan berniat mengulur waktu, kini ia langsung menerjang Lin Xingluo tanpa memedulikan apapun!

Apa yang bersemayam di matanya kini bukan sekadar amarah. Selain kemarahan, ada juga ketakutan. Ada pula keputusasaan!

Itulah musuh yang paling tak ingin ia hadapi! Ia harus membunuh bocah ini sebelum sosok itu benar-benar muncul, apapun yang terjadi, harus dibunuh!

“Pemangsa.”

“Aktifkan!”

Sang pemuda menerjang maju, menghadapi serangan mematikan dari ular raksasa itu.