Bab Lima: Tembok Besar

Dunia Masa Depan yang Gila Pembunuh Biru 981kata 2026-02-09 23:48:29

Kompleks bangunan megah itu dipenuhi berbagai gedung modern yang memancarkan nuansa muda dan penuh semangat. Gedung perkuliahan yang anggun dan mewah, lapangan sepak bola yang terang benderang oleh cahaya lampu, serta gerbang utama yang megah dipadati deretan mobil mewah dari berbagai model.

Para siswa laki-laki dan perempuan yang penuh vitalitas mengenakan seragam sekolah yang elegan dan menarik, menghias jalan dengan pita warna-warni dan balon. Mereka tertawa riang, bercakap-cakap dengan wajah ceria. Esok adalah hari pendaftaran bagi akademi bersejarah yang telah berdiri ratusan tahun ini, dan mereka akan naik tingkat menjadi kakak kelas yang disegani.

Dibandingkan dengan bangunan-bangunan indah tersebut, menara jam di sisi kanan akademi tampak tua dan sunyi. Aura senja yang menyelimutinya mengisyaratkan bahwa ia tak lagi milik zaman ini; ia berdiri sendiri, seolah mengawasi segalanya dalam diam.

Di atas menara jam, tampak dua sosok memandang ke bawah: seorang pria dan seorang wanita, satu tua dan satu muda.

"Ia sudah masuk ke ruang bawah tanah menara jam, apakah kita akan membiarkannya begitu saja?" Gadis itu tetap dingin bak embun pagi, tak terpengaruh riuhnya suasana di akademi.

"Itu pilihannya sendiri, juga pilihannya sendiri. Takdir bila tak bisa diubah, maka ikutilah alurnya, ikuti kata hati." Lelaki tua itu menghela napas pelan.

"Aku akan membunuhnya!" Gadis itu menggertakkan gigi, amarah dan tekad membara di matanya.

"Kau belum mampu melawannya, tak akan bisa menghentikannya," ujar lelaki tua itu sambil menggeleng pelan. Tatapannya keruh namun dalam, entah memandang ke mana.

"Aku tak terima!" Aura pembunuh menguar dari tubuh gadis itu. Pegangan tangannya pada pagar besi seketika berubah menjadi bongkahan es.

"Menerima atau tidak, apa bedanya? Bintang punya lintasannya, takdir punya jalannya. Nak, kau terlalu terpaku pada obsesi." Lelaki tua itu menatapnya dengan iba.

"Lalu kenapa?" sahut gadis itu dingin.

"Ngomong-ngomong, seminggu lalu ada pesawat yang diserang, beberapa jam lalu kereta juga mengalami hal serupa. Apakah monster sudah sampai sebegitu parahnya?" Lelaki tua itu mengerutkan dahi, berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Apa? Kau, ‘Penjaga Menara’ yang menutup diri dari dunia, lebih peduli soal ini daripada ‘Pemecah Langit’?" Gadis itu mengejek dengan nada sinis.

"Aku rasa, orang yang selama ini kita tunggu hampir tiba," lelaki tua itu tiba-tiba melontarkan kalimat yang tampak tak berhubungan.

Namun, gadis yang sejak tadi terus menentangnya, akhirnya terdiam setelah mendengar kalimat itu.

———

"Raja Kodok Panah Merah? Apakah aku terlihat seperti monster?" tanya Lin Xingluo dengan ekspresi terkejut, memandang Guanju dengan heran.

"Aku bukan bilang kau Raja Kodok Panah Merah, maksudku raja itu dikalahkan olehmu..." Guanju memang sejak awal merasa aneh bisa selamat tiba-tiba, dan ketika melihat Lin Xingluo muncul, secara naluriah ia menghubungkan keduanya, lalu tanpa sadar mengucapkan hal itu.

Namun sikap Lin Xingluo benar-benar tampak bingung, sehingga Guanju mulai ragu apakah itu hanya prasangkanya sendiri. Ia pun mengubah ucapannya, "Tadi kau tidak bertemu dengan monster-monster ini?"

Ia menunjuk mayat manusia kodok panah merah yang tergeletak di lantai, cairan kental berwarna hijau tua hampir membanjiri seluruh gerbong, hingga keduanya nyaris tak punya tempat berpijak.