Bab 50: Jika tiga puluh tahun lebih awal, dia memang layak untukmu! (Mohon berikan penilaian bintang lima~)
Sepanjang pagi itu, seluruh Kota Cang'er seolah tertimpa malapetaka. Siang hari gelap gulita tertutup oleh awan tebal, hujan deras mengguyur tanpa henti. Barulah ketika Yang Ning terbangun dari tidurnya, menarik hantu kecil Mingming yang melintang di kakinya dan menepuk-nepuk pantatnya berkali-kali, hujan deras di luar mulai reda.
Pada saat yang sama, para pegawai hotel, petugas kebersihan, serta para tamu di Kafe Empat Musim yang sebelumnya tidur pulas tanpa sadar, satu per satu mulai terbangun. Semua orang di hotel itu menatap waktu dengan wajah penuh ketidakpercayaan.
"Aku... aku tidur sepanjang pagi? Astaga! Aku harus bertemu klien hari ini!"
"Tidak mungkin, aku benar-benar tidur sepanjang pagi? Apakah atasan tidak tahu?"
"Aku tidur sepanjang pagi? Anak buahku tidak sadar?"
"Aku tidur sepanjang pagi? Tidak membersihkan kamar, para tamu juga belum checkout?"
Semua serempak berkata, "Gila, ada apa ini?!"
Sementara suasana hotel kembali disibukkan oleh kebingungan, Yang Ning dengan wajah kikuk diam-diam menyelinap keluar kamar. Saat itu hujan memang sudah berhenti, tapi gerimis tipis masih turun dari langit. Dengan payung transparan di tangan, ia menyusuri tepi Danau Cang menuju Desa Jinsuo di distrik selatan.
Di tengah jalan, ia mampir di warung pinggir jalan menikmati semangkuk mi kacang polong. Begitu tiba di Desa Jinsuo, waktu sudah menunjukkan pukul empat sore.
Desa Jinsuo adalah tempat tinggal Wang Jiang. Lokasinya sangat jauh dari kantor polisi tempatnya bekerja, benar-benar tidak nyaman. Berjalan di jalan desa yang licin dan basah sehabis hujan, Yang Ning mengeluarkan tempurung kura-kura, menopangnya dengan satu jari sambil bertanya, "Hei kura-kura, bisakah kau tunjukkan di mana rumah Wang Jiang?"
Tempurung kura-kura itu berputar-putar di jarinya, sama sekali tidak menunjuk ke arah mana pun.
"Hmm?" Yang Ning menatap tempurung di tangannya dan berkata, "Ada dua kemungkinan kenapa begini, satu, kura-kura ini sudah bosan hidup, dua, memang tidak bisa menemukan tempatnya."
Ia mengangkat tempurung itu ke depan wajahnya, suaranya sarkastis, "Astaga! Jangan-jangan kau memang ingin mati?"
"Kau tempurung kura-kura, kau tahu, sekali aku remas, habislah kau!"
Tempurung kosong yang tak berisi apa-apa itu seolah hidup, mulai bergetar hebat, hingga Yang Ning memperlihatkan ekspresi mengerti barulah getaran itu berhenti.
"Oh, jadi memang tidak bisa ditemukan, berarti salah yang kutanyakan?"
Yang Ning menoleh ke sekeliling, lalu berjongkok di pinggir jalan. Ia mengeluarkan koin tembaga dan batu kecil, menyusun sebuah formasi sembilan kotak sederhana di tanah, lalu meletakkan tempurung kura-kura di tengah.
Ia menoleh ke kiri dan kanan, suasana berkabut, tak tampak seorang pun. Ia menyatukan dua jari tangan kanan, lalu dengan cepat mengguratkan sebuah garis di udara lembap, menciptakan percikan api yang menyambar tempurung itu!
Tiba-tiba, tempurung kura-kura itu melompat tinggi karena kesakitan, berputar di udara puluhan kali! Plak! Yang Ning dengan sigap menangkapnya, tanpa sedikit pun rasa bersalah ia berkata, "Maaf, tadi aku salah paham padamu."
"Sekarang, aku tanya sekali lagi, kura-kura, di mana rumah Hu Yingying?"
Kali ini, setelah ia lepaskan ke tanah, tempurung kura-kura itu langsung menunjuk ke satu arah.
Yang Ning membereskan batu dan koin di tanah, berdiri dan berkata, "Ayo, tunjukkan jalan."
Tempurung kura-kura itu melompat-lompat cepat ke depan, membuat suara nyaring beberapa kali. Setelah beberapa lompatan, Yang Ning pun tiba di sebuah gang sempit, di bawah atap rumah di mulut gang duduk beberapa ibu-ibu tua yang sedang mengobrol santai.
Begitu Yang Ning muncul, semua ibu-ibu itu menoleh kepadanya.
"Wah, anak muda yang tampan!"
"Pasti turis, ya?"
"Ini salah jalan, Nak! Di sini tidak ada tempat wisata, cuma desa saja!"
Yang Ning tersenyum sopan kepada mereka, mengambil tempurung kura-kura di tanah dan terus berjalan. Saat melewati para ibu itu, seorang nenek yang dari tadi diam saja, tampak agak linglung, terus menatap Yang Ning.
Saat Yang Ning hendak lewat, nenek itu perlahan berkata, suara tuanya penuh kenangan, "Nak, kalau kau datang tiga puluh tahun yang lalu, di gang ini ada seorang gadis yang pantas untukmu."
Yang Ning menoleh, tersenyum dan mengangguk, lalu melangkah pergi.
Ia berhenti di depan sebuah rumah tua tanpa halaman di tepi jalan gang. Ia memperhatikan gembok di pintu dan tempurung kura-kura di tangannya, memastikan inilah rumah yang dicari.
Ia mendekat, bertanya, "Maaf, bolehkah aku masuk?"
Pintu kayu itu bergetar pelan. Yang Ning tersenyum, "Terima kasih, aku tahu kau tak bisa membukakan, biar kubuka sendiri, ya?"
Pintu itu kembali bergetar pelan. Namun, saat Yang Ning hendak memutar gagang pintu, ibu-ibu yang tadi duduk di mulut gang segera menghampirinya.
"Anak muda, kamu ada hubungan apa dengan keluarga ini?"
"Mereka tidak ada orang di rumah siang hari, kalau mau cari, malam saja!"
"Ada urusan apa? Kalau tidak penting, jangan ganggu, rumah ini aneh!"
"Kamu datang terlambat, tiga puluh tahun yang lalu baru tepat..."
Aneh? Mendengar kata itu, Yang Ning jadi semakin bersemangat. Ia menimbang-nimbang, lalu bertanya, "Apakah dari rumah ini sering terdengar suara tangisan perempuan?"
Mendengar pertanyaan itu, wajah para ibu berubah, semua mengangguk serempak.
Yang Ning tersenyum, "Aku bisa mengatasi masalah itu, tapi butuh bantuan kalian."
Para ibu saling pandang, lalu bergiliran mengangguk, "Anak muda, kamu ini dukun ya?"
"Beneran bisa? Mau dibantu apa?"
"Suaranya bikin merinding, padahal yang tinggal di sini laki-laki! Coba saja kalau kamu bisa!"
"Kamu datangnya terlambat, tiga puluh tahun lalu gadis itu pasti cocok untukmu..."
Melihat para ibu setuju, Yang Ning mengeluarkan ponsel dan menelepon seseorang.
Tak lama kemudian, tiga petugas pemadam kebakaran datang membawa tang. "Pintu mana yang tak bisa dibuka?"
Yang Ning menunjuk ke pintu kayu di depannya. "Yang ini tak bisa dibuka."
Petugas memeriksa, ternyata hanya gembok besi biasa. Dengan sekali jepit, gembok itu putus.
"Klik," petugas membuka pintu dengan mudah.
Di dalam tampak ruangan kuno tanpa renovasi, perabot lama, televisi lawas, poster besar zaman dulu, aroma nostalgia menyergap. Namun, di tengah ruangan itu justru berdiri kulkas dua pintu modern.
Petugas pemadam melirik dan tertawa, "Dekorasi rumahmu unik juga, nostalgia banget!"
Yang Ning menjawab, "Hah? Ini bukan rumahku."
Petugas heran, "Bukan? Lalu rumah temanmu?"
Yang Ning kembali menggeleng, "Bukan, aku tak kenal pemilik rumah ini."
Ketiga petugas langsung marah, "Lalu kenapa suruh kami buka pintu ini?"
Yang Ning memberi isyarat pada para ibu, "Mereka yang memintaku datang ke sini, mau membersihkan rumah ini, katanya ada yang tak beres."
Petugas memandang para ibu, tapi mereka yang tadi yakin malah langsung saling menyalahkan, "I-iya, dia yang bilang bisa usir setan, makanya kami suruh!"
"Benar, kami tidak suruh buka pintu orang!"
"Iya, bukan urusan kami, anak muda ini sendiri yang lakukan!"
"Sayang sekali, terlambat tiga puluh tahun..."
Mendengar alasan mereka, seorang petugas berkata pada temannya, "Telepon polisi!"
Lalu ia menatap Yang Ning dengan curiga, berdiri di depan pintu menghalangi jalan masuk.
Yang Ning pun menurut, berdiri di samping tanpa bergerak. Hanya saja ia tiba-tiba bertanya dengan suara dingin, "Sudah boleh?" Membuat para petugas merinding tak jelas sebabnya.
Tak lama, dua polisi datang. Setelah bertanya sebentar, mereka pun paham situasinya.
Salah satu polisi mendekat, dengan nada prihatin, "Kamu masih muda sekali, belum dua puluh tahun, kenapa melakukan pencurian seperti ini?"
Ia menunjuk ke dalam rumah, "Lagipula, kau kira rumah seperti ini ada barang berharga yang pantas kau curi?"
Mendengar itu, para ibu pun turut menunjuk-nunjuk Yang Ning, hanya nenek yang linglung tadi tersenyum bodoh menatap Yang Ning.
Yang Ning tersenyum, "Rumah ini aneh, aku hanya ingin membersihkannya."
"???" Polisi itu tertawa, menunjuk ke dalam, "Coba tunjukkan, mana yang aneh?"
Yang Ning melangkah ke depan, memandang polisi, petugas pemadam, dan para ibu, "Semua tadi melihat, aku belum pernah melangkah masuk ke ruangan ini, benar?"
Kedua polisi menoleh ke orang-orang di sana, dan semua mengangguk membenarkan. Polisi itu berkata, "Baik, kalau ada yang hilang di rumah ini, bukan urusanmu."
Yang Ning bertanya, "Kalau ada yang bertambah?"
Kedua polisi saling pandang, salah satunya menjawab tak sabar, "Juga bukan urusanmu!"
Yang Ning mengangguk, "Bagus kalau begitu."
Ia pun masuk ke dalam, langsung menuju kulkas dua pintu, berdiri di sampingnya lalu menoleh pada semua orang di luar dan tersenyum, "Aku sudah mendapat izin dari pemilik rumah, jadi..."
"Semuanya, perhatikan baik-baik."
Selesai bicara, Yang Ning menarik pintu kulkas itu!
Ternyata, di dalam ruang pembeku kulkas itu, rak dan kotaknya sudah dicabut semua! Seluruh ruang diisi oleh seorang gadis cantik mengenakan seragam sekolah musim panas zaman dahulu, tubuh merapat sambil memeluk lutut, membeku kaku seperti patung es!
Gadis itu pucat pasi, wajahnya kebiru-biruan, jelas-jelas sudah menjadi mayat!
Sekejap saja, wajah dua polisi langsung memutih! Para petugas pemadam serempak menjerit, "Astaga!"
Para ibu-ibu itu seketika membeku seperti tersetrum, tubuh gemetar hebat!
Hanya nenek yang tampak linglung itu bertepuk tangan sambil melompat-lompat, mulut ompongnya berteriak, "Haha! Itu dia! Itu dia!"
"Andai kau datang tiga puluh tahun lalu, dia pantas untukmu!"
"Dia pantas untukmu!"
"Pantas untukmu!"
...