Bab 93: Di dalam diriku ada lautan! Dia akan membantai desa itu?!
Cao Mingliang sulit menerima kenyataan di depan matanya.
Benarkah dirinya sudah mati? Dan kini malah dihidupkan kembali oleh seseorang?
Sungguh luar biasa!
Namun, melihat identitas petugas tingkat dua Biro Khusus di tangan pria berwajah penuh luka itu, lalu menatap lampion kertas di samping ranjang, indra keenam Cao Mingliang yang semakin tajam perlahan meyakinkannya bahwa semua ini bisa jadi memang nyata.
Ia mengeluarkan ponsel, berniat menelepon Yang Ning untuk bertanya, namun baru saja memasukkan nomor, sebelum menekan tombol panggil, sebuah pesan lebih dulu masuk.
“Jangan tanya, jawabannya karena aku suka melihat kamu yang payah tapi tetap suka main-main. Semangat ya, ayam kecil!”
Pesan itu dari Yang Ning.
Cao Mingliang terdiam.
Seketika, kemarahan yang bercampur ketakutan kuat membakar hatinya—benar-benar emosi yang rumit.
Ia takut akan kemampuan luar biasa Yang Ning, namun juga marah karena...
Apa maksudnya ‘payah tapi suka main-main’?!
Sialan!
“Yang Ning, jangan sombong! Suatu hari kau pasti masuk penjara gara-gara aku!”
Dengan amarah membara, Cao Mingliang segera menghubungi Chen, orang yang dulu diminta mengambil lampion kertas dari Yang Ning, dan menanyai secara rinci apa yang ia lihat dan dengar di toko Yang Ning waktu itu.
Chen menjelaskannya singkat, lalu menyebut soal foto itu.
Mendengar soal foto, Cao Mingliang langsung tegang, “Foto apa?! Ada orang di dalamnya? Seperti apa?”
Di ujung telepon, Chen yang sedang tidur dan terpaksa terbangun karena Cao Mingliang, menjawab setengah sadar, “Nggak ada orang, cuma sebuah desa, kelihatannya desa biasa saja, nggak kelihatan ada orang...”
“Desa?”
Begitu tahu fotonya tak menampilkan orang, Cao Mingliang sempat lega, namun sedetik kemudian...
“Sialan?!”
Nada suara Cao Mingliang penuh teror!
Jika di foto ada orang, itu berarti Yang Ning akan membunuh orang tersebut.
Tapi kalau sekarang yang ada di foto adalah desa, itu artinya—
Yang Ning akan membantai satu desa?!
Cao Mingliang langsung panik, rasa sakit waktu di Kota Binhai pun kembali menyerangnya!
Melihat itu, pria berwajah luka di depannya keluar ruangan, lalu menyeret masuk seorang pendeta Tao.
Begitu masuk dan melihat Cao Mingliang hidup lagi, pendeta itu nyaris melotot sampai matanya mau copot!
“Apa-apaan ini?!”
Pria berwajah luka itu memandang sinis, “Kau latihan berkokok, ya?”
Pendeta itu menunjuk Cao Mingliang sambil terbata-bata, “Dia... dia hidup lagi?!”
Pria berwajah luka mengalihkan pembicaraan, “Sudahlah, tak usah pusing soal itu. Kau kan pendeta, coba cek penyakitnya. Aku tahu para pendeta dari Kuil Awan Putih bisa menyembuhkan penyakit. Kalian dari Kuil Awan Biru bisa?”
Pendeta itu menatap Cao Mingliang dari atas sampai bawah, lalu terkejut, “Hebat kau, Nak! Pernah tidur satu kamar dengan hantu?”
Cao Mingliang teringat malam itu di Rumah Sakit Aoyama, sepertinya memang ia tidur satu kamar dengan hantu.
Ia pun mengangguk.
Pendeta itu memandang penuh kagum, “Penyakitmu ini memang cuma bisa disembuhkan oleh Kuil Awan Putih.”
...
Keesokan paginya, di toko Yang Ning.
Sebuah tempurung kura-kura dilempar ke atas meja, beberapa keping uang tembaga ditaburkan, ramalan nasib toko untuk beberapa hari ke depan segera terbaca jelas oleh Yang Ning—
Takkan dapat satu sen pun.
Akhirnya, Yang Ning memutuskan menutup toko, lalu kembali tidur di tikar gulungnya.
Ia baru bangun hampir pukul dua belas siang.
Dengan bantuan belasan hantu kecil, ia selesai mandi dan menyikat gigi, lalu melempar ponsel pada para hantu kecil itu untuk memesankan makanan online, sementara ia sendiri mengambil batu giok biru laut yang pernah diberikan oleh Hantu Laut Kecil.
“Mengundang roh abadi turun ke dunia bukan hanya butuh wadah sempurna, tapi juga menghabiskan tiga ratus enam puluh kebaikan. Saat ini, jelas aku belum punya cukup kebaikan.”
“Tapi, sekarang aku dapatkan bahan yang sempurna, aku bisa memahat wadah roh abadi dulu, biar digunakan sementara oleh roh keberuntungan lain...”
Sambil berkata demikian, Yang Ning membalik pergelangan tangan, dan sebuah pisau ukir tajam muncul di genggamannya!
Ketika ujung pisau menyentuh permukaan batu giok biru yang bening itu, Yang Ning agak menyesal, “Batu giok tak diukir, takkan jadi indah...”
“Benda sebagus ini, sebenarnya aku pun tak tega. Tapi kalau tak kuubah jadi manusia, kau tetap cuma batu. Jadi, maafkan aku.”
Krek!
Sekali gores, sebuah celah muncul di giok itu.
Beberapa menit kemudian, sebuah patung kecil berbentuk manusia dari giok biru laut nan bening telah terukir rapi.
Selanjutnya, Yang Ning menegakkan patung kecil itu di tengah meja, menyalakan enam batang lilin mengitarinya, tangan kiri mendekap di depan dada, jari tengah dan telunjuk kanan ditegakkan di atas kepala patung, membentuk mudra, lalu melantunkan mantra—
Wush!
Tiba-tiba, enam lilin itu menyala dengan sendirinya, dan terdengar samar suara ombak lautan!
Pada saat yang sama, di Pantai Kota Binhai.
Di bawah permukaan laut yang bergelombang, Hantu Laut Kecil sedang bersembunyi di balik ombak, memperhatikan anak-anak bermain di tepi pantai.
“Hah?”
Tiba-tiba, ia merasakan sesuatu yang aneh. Ia mendongak, dan di langit biru di atas permukaan laut, tampak samar-samar wajah manusia raksasa!
Awalnya Hantu Laut Kecil terkejut, tapi ketika ia melihat jelas wajah di langit itu, ia segera tertawa gembira!
Wajah di langit itu adalah Yang Ning!
Sementara itu, Yang Ning menatap patung kecil dari giok di depannya dengan ekspresi sedikit terkejut, “Jadi, begini rupanya...”
Patung kecil itu menampilkan gradasi warna biru, bagian atas biru muda, makin ke bawah makin gelap, hingga di kaki menjadi biru tua nyaris hitam!
Bak laut yang berlapis-lapis dalamnya!
Jika diperhatikan dengan seksama, tampak gelombang kecil seolah terus berputar di dalamnya!
Di permukaan kepala patung itu, sebesar biji wijen, Hantu Laut Kecil sedang tersenyum pada Yang Ning yang di luar patung!
Yang Ning bergumam, “Waktu itu aku suruh kau tinggalkan laut dan ikut denganku, ternyata itu kelalaianku. Kau memang tak bisa meninggalkan lautan itu.”
“Sebab kau telah menjadi satu dengan lautan tersebut.”
Lalu, ia menatap Hantu Laut Kecil dan bertanya, “Maukah kau, bersama lautmu, ikut denganku melihat dunia ini?”
Di sisi Yang Ning, para hantu kecil berceloteh, “Ayo, ayo, ikut!”
“Hantu Laut Kecil sudah jadi Roh Laut ya? Selanjutnya bakal naik tingkat jadi dewa?”
Sun Dapeng, hantu kecil lain, berteriak, “Aku tebak, sebentar lagi Chengcheng bakal pamer dan bilang—”
Pada saat itu, Hantu Laut Kecil yang terapung di permukaan laut, mendengar bisa membawa lautan bersama dirinya, tanpa ragu mengangguk, “Tentu saja, mau!”
Yang Ning tersenyum, dua jarinya menunjuk langit, lalu menekan kepala patung kecil biru itu, menutup mata rapat-rapat!
Beberapa detik kemudian, ketika ia membuka mata lagi, di matanya tersirat gelombang laut setinggi seribu depa!
“Aku membawa lautan di tubuhku!”
Wuuush!
Sekejap, gambar di dalam patung kecil itu mulai bergolak hebat!
Namun, dari sudut pandang Hantu Laut Kecil, dunianya tetap sama, hanya saja sesekali di langit biru muncul wajah manusia raksasa.
“Hantu Laut Kecil, lemparkan satu ikan!”
Bukan Yang Ning yang berseru, melainkan Sun Dapeng si hantu kecil!
Hantu Laut Kecil terkekeh, “Hehe!”, lalu, wuuush! Ombak mengangkat seekor ikan besar dan gemuk ke angkasa!
Saat ombak surut, ikan itu pun lenyap.
Di depan Yang Ning, seekor hiu ganas menghantam karpet ‘mahal’ miliknya, meliukkan ekor dengan liar.
...