Voltando a 1981, naquele ano os quatro irmãos do marido ainda não tinham se separado. Yang Chunyan não queria passar a segunda metade da vida sozinha e sem amparo, então decidiu ajudar, passo a passo,
Yang Chunyan menenteng cangkul di satu tangan dan seekor kelinci abu-abu yang gemuk di tangan lain, berjalan perlahan di jalan tanah pedesaan. Melihat rumah-rumah tanah beratap jerami yang rendah di sana-sini, serta para petani yang sibuk di tengah ladang, semuanya terasa akrab sekaligus asing baginya.
Ia melintasi pematang sawah yang tak begitu lebar, lalu memandang ke arah halaman rumah keluarga Zhou di kejauhan. Ia sempat ragu sebelum akhirnya melangkah maju. Belum sampai di halaman rumah, sudah terdengar suara makian marah dari ayah mertuanya, Zhou Damatong.
“Kamu anak bodoh yang bikin susah keluarga, berhenti di situ! Hari ini aku harus menghajarmu sampai puas!”
“Andai aku tahu kamu bakal jadi begini, waktu kamu lahir dulu sudah kubuang ke tong kotoran saja!”
Yang Chunyan mendorong kerumunan tetangga yang berdiri di depan pintu, dan melihat suami beserta seluruh keluarganya berkumpul di halaman. Di tengah halaman tergeletak seekor sapi mati dengan leher miring. Bahkan keluarga Xiong Dahai, yang biasanya jarang bergaul, juga datang.
Ingatan samar kehidupan masa lalunya muncul di benaknya.
Suaminya, Zhou Huaian, pernah mengejar seekor sapi sakit, sampai sapi itu jatuh dan mati. Akibatnya, keluarga Zhou harus mengganti rugi dengan uang yang semula akan dipakai untuk membangun rumah bagi keempat bersaudara. Belakangan, tiga kakak iparnya satu per satu berhasil membangun rumah dan pindah, sementara keluarganya sendiri tak mampu membangun rumah, sehingga tetap tinggal bersama mertua.
Sejak itulah, Zhou Huaian bercita-cita ingin me