Bagian 35: Tebasan Petir Menghadapi Ilmu Pedang Roh Suci
Malam semakin pekat, di sepanjang jalan, dua sosok manusia menyelimuti diri dengan kekuatan batin yang luar biasa, bergerak dengan lincah dan berubah-ubah, seolah-olah dua makhluk gaib yang saling bersilangan menyerang. Energi yang berkobar-kobar, batu dan bata yang hancur berantakan, meledak ke segala arah, memunculkan arus bawah yang bergelombang.
Kedua orang itu berada pada tingkatan kekuatan yang sama. Pada awalnya, Dewa Gunung agak canggung, gerakannya belum terlalu lancar sehingga ia sedikit tertinggal. Namun, seiring berlalunya waktu, semangatnya pun semakin membara, seperti ombak yang tak kunjung surut, semakin kuat setiap kali ia melancarkan serangan. Puluhan serangan kemudian, rasa takut di hatinya perlahan menghilang. Setiap pukulan yang ia lepaskan terasa semakin ringan dan segar, dan akhirnya ia benar-benar menguasai keadaan.
Setelah menekan Lawan Luling selama puluhan jurus, Dewa Gunung merasakan kebebasan yang luar biasa. Sensasi ini sangat berbeda dari saat bertarung melawan binatang buas yang hanya mengandalkan kekuatan kasar tanpa kecerdasan. Melawan manusia yang memiliki kekuatan dan kecerdikan, suasananya benar-benar berbeda. Inilah pertarungan nyata, pertarungan sesungguhnya!
Bagi seorang petarung, latihan hanya bisa meningkatkan kemampuan, tetapi pengalaman nyata di medan laga yang benar-benar mengasah kekuatan tempur. Saat di hutan Batu Hitam dulu, Dewa Gunung hanya membutuhkan beberapa jurus dan beberapa tebasan pedang untuk mengalahkan pria berwajah luka itu. Kini, ia merasa agak menyesal dan ingin benar-benar memanfaatkan kesempatan langka ini untuk berlatih melawan manusia yang berpengalaman, agar bisa menambah ilmunya.
Dewa Gunung sangat puas dengan musuh di hadapannya. Lawan Luling menggunakan teknik dan energi dari unsur logam, namun dalam penggunaannya, tidak tampak kekuatan keras dan tajam dari teknik logam, malah ada kelembutan seperti teknik air yang memberi kesan kuat dalam kelenturan. Mampu menguasai teknik logam hingga tingkat seperti ini, pengalaman bertarung Lawan Luling jelas jauh melebihi Dewa Gunung.
Walau kekuatan telah ditekan, jika biasanya petarung unsur logam tingkat sepuluh, pasti akan kewalahan menghadapi serangan bertubi-tubi dari Dewa Gunung. Namun, Lawan Luling benar-benar luar biasa. Tubuhnya bergerak bebas di tengah serangan yang deras seperti aliran sungai, lincah seperti ikan yang berenang. Selama ia tak terkena pukulan langsung dari Dewa Gunung, serangan sekitar tak akan mampu melukainya. Tapi, untuk menghindari dua tangan Dewa Gunung yang seolah ada di mana-mana, ia pun tak sempat membalas.
Pertarungan berlangsung setengah jam, Lawan Luling merasakan energinya mulai terkuras. Ia mengumpat dalam hati: Dari mana munculnya monster ini? Sudah menyerang begitu lama, tapi kekuatan serangan malah semakin meningkat, sama sekali tidak ada tanda-tanda kelelahan!
Apakah orang ini sudah mencapai puncak tingkat sepuluh? Kalau tidak, mana mungkin ia punya kemampuan sehebat ini! Lawan Luling menyesal, seandainya tahu dari awal, ia pasti akan lari. Tapi sekarang, ia sudah terjebak dalam serangan Dewa Gunung, sulit sekali untuk kabur. Berada di tengah pusaran serangan Dewa Gunung sangat berbahaya, dan ia mulai kehabisan tenaga.
"Tidak! Aku tidak boleh mati di sini!"
Lawan Luling berteriak dalam hati, keraguan sempat muncul di matanya. Ia menggertakkan gigi, setelah menghindari satu lagi serangan Dewa Gunung, tiba-tiba kedua kakinya menjejak tanah, seperti tiang batu yang menancap dalam. Kedua tangan diangkat tinggi, energi tingkat sepuluh ia kerahkan maksimal, meluap dari dalam tubuh, membentuk cahaya putih berkilauan seperti logam di permukaan kulitnya.
Dengan teriakan keras, "Tebasan Petir!" kedua tangannya tiba-tiba membesar, cahaya putih berkumpul di kedua tangan, menciptakan kilatan tajam yang meluncur ke arah Dewa Gunung, seperti gunung raksasa yang siap menghantam.
"Bagus sekali!"
Dewa Gunung tengah menikmati pertarungan. Setelah benar-benar menguasai keadaan, ia tahu manfaat latihan ini sudah habis. Lawan Luling punya pengalaman sangat kaya, selalu menghindari pertarungan langsung. Namun setelah puluhan jurus, Dewa Gunung sudah cukup mengenal kemampuan dirinya. Ia berniat segera mengakhiri pertarungan ini, namun Lawan Luling malah melakukan perlawanan terakhir, dan Dewa Gunung sangat menantikan itu.
"Bang!"
Kedua tangan mereka kembali bertabrakan keras. Wajah Dewa Gunung langsung berubah, ia merasakan energi tajam yang naik melalui telapak tangannya, dua tangan Lawan Luling seperti senjata sakti yang menembus kekuatan Dewa Gunung dan membalas tanpa ampun. Kekuatan besar itu menembus pertahanan Dewa Gunung, seolah-olah tubuhnya diterjang pedang tajam.
Saat itu, mata Dewa Gunung membelalak, takjub: Ini bukan teknik tingkat awal, melainkan teknik tingkat tinggi! Bagaimana mungkin petarung tingkat sepuluh bisa menembus kekuatan seorang ahli tingkat atas?! Kekuatan yang keluar dari kedua tangan Lawan Luling benar-benar di luar pengetahuan Dewa Gunung, bahkan melampaui ingatan sebelumnya.
Dengan satu sentuhan kaki, tubuh Dewa Gunung melesat seperti anak panah, sekejap sudah mundur jauh. Tangan kanan menjulur, dua jari membentuk pedang, suara ledakan terdengar di udara, meluncur tajam seperti pedang yang menembus ruang.
"Trang!"
Walau terpisah jarak, keduanya tetap beradu, pukulan tajam dan gerakan pedang saling bertabrakan, mengeluarkan suara nyaring seperti benturan logam.
Lawan Luling merasa dingin di hati. Saat ia mengerahkan jurus pamungkas, ia sudah siap untuk bertarung hingga luka parah, bahkan mati bersama. Jurusnya sangat kuat, bahkan melawan ahli puncak tingkat sepuluh ia masih punya peluang menang. Jika ia bisa melukai Dewa Gunung, dengan pengalaman bertarungnya, ia yakin bisa mengalahkan lawan dalam waktu singkat.
Namun, apapun rencana yang ia buat, ia tak pernah menyangka Dewa Gunung ternyata adalah ahli tingkat atas, yang sebelumnya hanya menggunakan sebagian kecil kekuatan dan belum memperlihatkan teknik tingkat tinggi. Baru ketika mereka kembali bertarung, ia sadar bahwa lawan tidak hanya punya kekuatan besar, tapi juga teknik tinggi yang tak kalah dari dirinya.
Kekuatan pedang di jari Dewa Gunung sangat luar biasa, seolah melampaui batas tingkat sepuluh, tajam dan kuat, menahan Tebasan Petir Lawan Luling sehingga ia tak bisa membalas.
"Teknikmu bagus, sayang baru menguasai kulitnya saja, ada bentuk tapi tak punya roh."
Dewa Gunung mendengus dingin, "Pedang Empat!" Tubuhnya melesat mundur, jari pedangnya berputar, menggerakkan energi luar, membentuk jejak aneh yang saling berjalin, menciptakan kilatan pedang tiga warna. Dalam sekejap, puluhan hingga ratusan posisi berganti, lalu ia menusukkan pedang.
Wajah Lawan Luling berubah drastis, menghadapi pedang yang datang bagaikan badai, ia merasa tak bisa menghindar, seolah-olah kekuatan tak kasat mata telah mengurungnya. Dari gerakan pedang lawan, terasa bahwa ke manapun ia lari, lawan pasti bisa mengejar.
"Membunuhku tidak semudah itu!"
Rasa takut memang ada, tapi ia sudah terbiasa dengan pertarungan berdarah. Setelah ketakutan sesaat, sifat buas dalam tubuhnya pun bangkit, ia berteriak, kedua tangan diangkat tinggi, cahaya putih terkumpul, seperti pedang tajam siap menebas.
"Tebasan Petir!"
Seperti dua lempeng besi besar bertabrakan, saat kedua tangan bertemu, terdengar suara nyaring benturan logam, cahaya putih berkilauan, menghadang serangan.
"Trang!"
"Plak!"
Gelombang energi memancar dari titik benturan, menyebar cepat ke segala arah, seperti angin topan yang membawa debu dan batu beterbangan.
Kilatan pedang yang dingin dan tajam, seperti pedang sakti yang tak bisa ditahan, hanya dalam sekejap berhasil menembus cahaya putih di tubuh Lawan Luling, menembus bahu kirinya, dan darah pun memancar ke udara.
Beberapa hari ini adalah masa krusial, mohon dukungan berupa hadiah, klik, rekomendasi, dan koleksi. Aku akan memenuhi janji untuk terus menulis, semoga kalian semua bisa mendukung dengan sepenuh hati! Bagi yang suka cerita ini, bisa bergabung ke grup 244131267, atau grup 245806487, atau grup 126743112, dan jangan lupa kirim bukti voting!