Bab Tiga Puluh Tiga: Awal Baru (Bagian Tiga)
Melihat wanita cantik itu sedang berpikir, wanita muda tadi segera menyela, tak ingin memberinya kesempatan untuk berpikir lebih lama.
“Waduh, masih dipikirkan lagi? Lihat saja, penjualan kami sangat laris, properti kami sedang jadi rebutan!”
Aura antusias wanita itu menular pada Wen Liu.
“Kalau begitu, saya bayar dengan kartu saja!” Wen Liu mulai menghitung simpanannya, memastikan cukup atau tidak untuk membeli satu unit ruko.
Namun, di tengah perhitungan, ia tiba-tiba sadar ada yang janggal. Bukankah ia datang untuk melapor diri? Kenapa malah jadi mau beli properti?
“Eh, mbak, saya mau tanya sesuatu.”
“Aduh, mau tanya apa lagi? Apa menurut Anda promosi kami masih kurang? Tenang saja, tidak ada ruko semurah dan semenarik milik kami!”
“Bukan itu, mbak, saya mau tanya di mana letak bagian kepegawaian kalian?”
“Lho, bukannya Anda mau beli properti? Ngapain cari bagian kepegawaian?” tanya wanita itu heran.
“Tidak, Anda salah paham. Saya datang untuk melapor. Saya dipindahkan dari kantor pusat di Yangjing,” Wen Liu menjelaskan dengan sabar.
“Apa? Kenapa tidak bilang dari tadi, saya jadi buang-buang tenaga bicara. Kalau Anda pegawai pindahan, bagian kepegawaian ada di lantai dua, tinggal naik lift saja.” Setelah berkata begitu, ia melambaikan tangan dan kembali ke meja depan untuk berbincang dengan teman-temannya.
Melihat perubahan sikap wanita itu yang begitu cepat, Wen Liu hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala, meski harus diakui kemampuan kerjanya memang mumpuni.
Mengikuti arahan wanita berkaki jenjang tadi, Wen Liu langsung menaiki lift ke lantai dua.
Sementara itu, wanita berkaki jenjang itu baru saja kembali ke meja depan ketika seorang wanita muda lain, berpakaian profesional, mendekat.
“Zhang Dai, gimana? Jadi beli nggak? Kok malah ke lantai dua?” tanya Chi Hui penasaran.
“Aduh, bukan calon pembeli ternyata, dia pegawai baru pindahan dari kantor pusat Yangjing. Entah apa maunya ke sini.”
“Iya sih, aneh banget, sudah di kota besar malah mau datang ke kota kecil begini. Jangan-jangan nanti dia malah rebutan sama kita soal hasil penjualan,” ujar Chi Hui dengan nada tak senang.
“Aku rasa tidak. Namanya juga ‘pasukan terjun payung’, paling-paling jadi pejabat. Mana mungkin bersaing dengan karyawan biasa seperti kita. Lagi pula, staf bagian pemasaran kita sudah cukup banyak, tidak mungkin tambah orang lagi, nanti kelebihan kuota!” sahut Zhang Dai.
“Biarkan saja. Kalau dia berani datang, tak perlu kita repot-repot. Lihat tuh, gadis-gadis di dekat maket properti, yang doyan bergosip soal warna lipstik Dior terbaru itu, pasti mereka langsung membabat habis si bunga putih kecil itu!” ujar Chi Hui sambil mengarahkan dagunya ke sekelompok wanita profesional yang sedang asyik berdiskusi tentang warna lipstik terbaru.
Yang tidak mereka sadari, kamera pengawas di atas kepala sudah mencatat semua percakapan mereka.
Di ruang pengawas, Asisten Wang segera melaporkan semua kejadian itu pada Han Zhen. Han Zhen hanya mengangguk tanda paham, lalu berpesan pada Asisten Wang agar segera menghubunginya jika terjadi sesuatu pada Wen Liu, selebihnya tak perlu ikut campur, agar niat baiknya tidak disalahartikan.
Asisten Wang sangat mendukung perintah Han Zhen itu. Dalam hati, ia merasa perempuan memang harus belajar mandiri dan tidak terlalu dimanja.
Sampai di bagian kepegawaian, Wen Liu menjelaskan maksud kedatangannya. Karena sudah ada instruksi dari atasan proyek, kepala bagian kepegawaian langsung membawanya ke hadapan Direktur Proyek, Direktur Li.
Saat itu, Direktur Li sedang menatap Wen Liu dengan pandangan aneh, lalu meneliti riwayat pekerjaannya, bahkan sampai bersuara pelan, merasa heran dalam hati. Ia benar-benar tidak mengerti apa istimewanya perempuan ini sampai-sampai disukai oleh bos. Riwayat pekerjaannya sangat biasa saja, bahkan untuk lolos seleksi saja belum tentu. Apa benar seperti gosip yang beredar, ada hubungan khusus antara mereka? Tapi wajahnya paling banter hanya manis saja, kulitnya agak pucat, seperti bunga putih kecil, apa mungkin bos menyukai tipe seperti itu?
Melihat wajah Direktur Li yang penuh keheranan, Wen Liu tidak mengerti alasannya. Tapi jika diam terlalu lama, suasana jadi canggung.
“Direktur Li, apa ada sesuatu yang salah?”
“Ah, tidak, saya hanya berpikir. Sesuai instruksi dari kantor pusat, Anda harus belajar di semua departemen proyek ini, supaya bisa memahami operasional proyek. Tapi karena banyaknya departemen, saya bingung mau menempatkan Anda di mana dulu,” jawab Direktur Li dengan nada diplomatis, tanpa menunjukkan isi hatinya. Benar-benar seorang pemimpin proyek yang penuh perhitungan.
“Sebelumnya saya sudah pernah bekerja di bidang administrasi dan kepegawaian, jadi mungkin saya bisa mulai dari bagian yang paling saya pahami?”
“Baiklah. Hanya saja, di proyek ini bagian kepegawaian dan administrasi terpisah. Untuk administrasi dibagi dua, yang satu urusan eksternal seperti perizinan dan pelaporan, yang satu lagi urusan internal kantor. Anda pilih yang mana?”
“Untuk kepegawaian kan ada enam bidang utama. Administrasi, saya hanya pernah mengurus bagian logistik. Karena saya belum mengenal semua staf, lebih baik saya mulai dari bagian administrasi yang sudah saya pahami.”
“Baik, Anda bisa urus dulu administrasi masuk di bagian kepegawaian. Nanti saya akan menghubungi Kepala Administrasi, Bu Yu. Silakan langsung menemui beliau, nanti akan diatur pekerjaannya.”
“Baik, terima kasih atas bantuannya.”
Begitu Wen Liu pergi, Direktur Li langsung mengeluarkan ponsel dan menghubungi kantor pusat di Yangjing.
“Asisten Wang, sudah saya tempatkan sesuai instruksi Anda.”
“Tentu, keselamatan karyawan adalah yang terpenting.”
“Baik, kami tidak akan memperlakukannya secara khusus, dia harus benar-benar belajar.”
“Maaf, boleh tahu sebenarnya apa hubungan dia dengan Bos? Supaya kami bisa bersikap sewajarnya.”
...
“Apa? Bukan urusanmu, Direktur Li. Anda tahu sendiri seperti apa pimpinan kita, jangan cari tahu hal yang tidak perlu! Lakukan saja seperti yang saya katakan,” jawab Asisten Wang dengan tegas.
“Baik, saya mengerti.” Tanpa sadar, jawaban Asisten Wang membuat Direktur Li makin yakin bahwa Wen Liu bukanlah orang biasa. Pokoknya, jangan sampai bermasalah dan pastikan keamanannya. Bukankah itu juga perintah atasan?
Saat mengurus administrasi kepegawaian, Wen Liu bingung saat harus mengisi kolom jabatan. Ia ragu-ragu cukup lama, sampai Wang Xiaoya, petugas yang membantunya, langsung memberi petunjuk.
“Kak Wen, kolom ini tidak perlu diisi, soalnya nanti Anda akan bergilir di semua departemen. Direktur Li sudah bilang, status Anda di sini dicatat sebagai Asisten Proyek, dan untuk BPJS serta tunjangan lainnya akan diurus bagian kepegawaian. Soal gaji, Anda akan tetap menerima dari kantor pusat.”
“Baik, terima kasih, Xiaoya.”
...
Setelah bertanya ke beberapa orang, Wen Liu akhirnya bertemu Bu Yu, kepala administrasi yang berambut pendek dan terlihat sangat tegas serta terpercaya.
Karena sudah mendapat arahan dari Direktur Li, Bu Yu langsung meminta Wen Liu untuk serah terima tugas dengan Li Mei, staf administrasi saat ini. Wen Liu mengambil alih setengah pekerjaan Li Mei, sementara Li Mei di waktu luangnya harus membantu Pak Liu, kepala logistik, yang makin sibuk karena jumlah karyawan bertambah.
Akhirnya, Bu Yu juga memberi saran dengan baik hati, “Sebenarnya, pekerjaan paling sulit di administrasi proyek itu adalah urusan perizinan dan pelaporan. Kalau Anda memang ingin belajar, saya sarankan Anda bertahan di bagian administrasi satu minggu, pelajari dulu alurnya, lalu nanti ikut saya turun langsung, supaya Anda memahami proses perizinan dan pelaporan. Itu akan sangat berguna untuk proses belajar Anda.”
“Baik, saya akan mengikuti saran Anda. Terima kasih, Bu Yu,” kata Wen Liu, menerima saran itu dengan tulus. Ia merasa saran Bu Yu sangat tepat, jika ingin belajar, memang harus mulai dari yang paling penting.