Bab Enam Belas: Perubahan (Bagian Kedua)
Pagi itu, Wen Li sudah bangun sangat awal. Utamanya karena tengah malam ia mendengar suara gaduh membongkar-bongkar barang dari rumah Paman Keempat di sebelah. Malam-malam begitu, ia tak berani keluar melihat, orang tuanya pun tak ada tanda-tanda bergerak. Ia menduga, mungkinkah orang tuanya sudah pulang?
Begitu Wen Li masuk ke halaman sebelah, ia langsung melihat Wen An yang sudah lima tahun tak ditemui, sedang menyapu halaman.
"Wen An, lama tak jumpa! Kenapa kamu pulang ke rumah? Mana Xiao Meng? Pulang ke rumah orang tua, kenapa tidak bawa anak? Paman Keempat dan Bibi Keempat juga tidak ada, kamu mau silaturahmi juga tak bisa, kan!"
Bertubi-tubi ia bertanya, namun Wen An tak menjawab, hanya fokus mengayunkan sapu di tangannya.
Wen Li, sepupunya ini, memang bukan orang yang berpendidikan tinggi, hanya lulus sekolah menengah kejuruan, lalu merantau kerja ke Ningbo. Sejak kecil, ia begitu mengagumi Wen An, bahkan menganggapnya sebagai idola. Tapi kenapa tiba-tiba sekarang diam seribu bahasa?
Wen Li terus mengamati Wen An, perlahan sadar ada yang aneh pada dirinya. Padahal hanya menyapu, bukan pekerjaan berat, tapi ia tampak kepayahan, terutama tangan kanannya, seperti kehilangan tenaga.
Wen Li mendekat, tiba-tiba menggenggam tangan kanan Wen An, menggulungkan lengan bajunya, dan mendapati di siku tangan ada lebam besar keunguan, hampir menutupi seluruh siku.
"Wen An, kenapa denganmu? Jatuh, cedera? Kenapa diam saja? Sakit tidak? Bagaimana kalau kita ke klinik di ujung desa, atau ke rumah sakit di kota untuk rontgen? Kalau sampai patah tulang, bagaimana?"
Membicarakan hal ini, Wen Li masih merasa waswas. Dulu, karena usia mereka hanya terpaut dua tahun, mereka sering bermain bersama, kadang bahkan saling mengerjai. Suatu ketika, demi mengerjai Wen An, melihatnya berlari menuruni bukit, Wen Li tiba-tiba menjulurkan kaki, membuat Wen An tersandung jatuh. Wen An bukan tipe pendendam, tapi kali ini ia jatuh keras mencium tanah, tangan kiri refleks menopang tubuh, namun tetap saja tak bisa bangkit, tangan kirinya juga tak bisa digerakkan. Padahal sebelum kecelakaan itu, Wen An adalah seorang kidal.
Wen An langsung menangis keras, membuat Wen Li ketakutan, sadar telah berbuat salah, ia hanya bisa meminta orang tua menyelesaikan masalah. Itulah satu-satunya kali Wen Li dimarahi habis-habisan oleh Wen Jianjun hingga menangis. Setelah dibawa ke rumah sakit, ternyata tangan kiri Wen An tidak hanya patah, tapi juga retak. Ia harus dipasangi pen dan plat baja, menjalani pemulihan setahun penuh, dan selama tiga tahun dilarang beraktivitas berat dengan tangan kiri. Meski akhirnya sembuh, tangan kiri Wen An tetap meninggalkan bekas luka panjang seperti bekas gigitan kelabang, hampir memenuhi seluruh lengannya, bentuknya pun tak seperti tangan orang normal. Sejak peristiwa itu, Wen Li merasa seumur hidupnya ia berutang pada Wen An.
Sejak saat itu, Wen Li selalu memperhatikan Wen An, baik dalam pelajaran maupun kehidupan sehari-hari, benar-benar menunjukkan peran kakak sepupu yang baik. Hanya saja, karena Wen An memang tak punya bakat akademik, ia hanya bisa lulus sekolah kejuruan, lalu ikut ibunya merantau ke Ningbo. Kabar yang didengar, usia dua puluh sudah dijodohkan, dua puluh satu menikah dengan suaminya sekarang, dan dua puluh dua sudah punya anak.
Sejak menikah, Wen An tak pernah lagi menghubungi Wen Li. Wen Li pun tak tahu sebabnya. Hanya sekali, Wen An pernah menelepon, sepertinya setelah bertengkar hebat dengan suaminya, meluapkan emosi padanya. Setelah itu, mereka benar-benar putus kontak. Hanya lima tahun lalu, saat Tahun Baru, mereka sempat bertemu sekilas, itupun tanpa bicara apa-apa.
Tiba-tiba Wen An melempar sapu, memeluk Wen Li erat-erat sambil menangis tersedu-sedu. Wen Li sempat terkejut, tapi segera menenangkan, mengelus punggungnya pelan.
"Sudah, jangan menangis. Ada apa? Ceritakan saja padaku. Tidak ada masalah yang tak bisa diatasi."
"Kak Li... hu hu hu... Chen Dongming memukulku lagi, lalu mengusirku, tak mengizinkan aku pulang. Bahkan Xiao Meng pun tak boleh kutemui... hu hu hu..."
"Apa? Dasar bajingan! Berani-beraninya dia berbuat begitu! Dulu waktu kamu memilih dia, aku sudah bilang, bandingkan dulu, banyak yang lebih baik. Tapi kamu tak mau dengar, sudah, tak perlu diungkit. Sekarang katakan, kenapa dia memukulmu lagi? Sejak dua tahun lalu kau meneleponku mengadu, sudah berapa kali dia memukulmu? Aku bilang, laki-laki macam itu, kenapa tak kau ceraikan saja? Mau dipelihara sampai tahun depan? Atau mau terus jadi samsak hidup?"
Begitu mendengar kata "cerai", Wen An menangis semakin keras, seolah langit hendak runtuh.
"Kamu ini, bisa tidak lebih tegar sedikit? Cerai darinya bukan berarti hidupmu berakhir! Cepat cerita, kenapa dia memukulmu dan mengusirmu kali ini?"
Akhirnya, Wen An berhenti menangis keras, meski masih terisak.
"Kemarin, dia mabuk berat, semua gajinya sudah habis dipakai sendiri. Saat mabuk, dia minta uang padaku. Aku ingat, susu formula Xiao Meng bulan ini belum kubeli, jadi aku tak beri. Lalu dia mengusirku dari rumah... hu hu hu..."
Menyebut itu saja, Wen An kembali menangis keras.
"Menangis terus, apa tidak malu? Dipermalukan laki-laki seperti itu! Jadi kamu naik bis malam pulang ke sini?"
"Ya..." Wen An menjawab lirih, melihat wajah Wen Li yang marah.
"Ya, ya apanya! Dengar, sekarang kita ke rumah sakit dulu cek tanganmu. Kalau sudah membaik, baru kita cari suamimu yang brengsek itu! Kalau dia tetap tak mau berubah, kita bawa Xiao Meng pulang, urus rumah, tinggal di sini dulu. Kalau dia sadar dan minta maaf, baru kita bicara lagi!"
"Iya, iya." Wen An mengiyakan lirih, takut Wen Li marah.
"Ayo, berangkat!"
Untung saja, tangan Wen An tak apa-apa. Tinggal menunggu sembuh, baru mereka akan menemui Chen Dongming!
Sementara itu, Han Zhen sudah tiba di meja nomor 12, restoran Perancis di Hotel Mingdu Kaiyuan, tepat waktu sesuai janji. Namun sampai pukul tujuh, orang yang ditunggu belum juga datang. Dalam hatinya ia berpikir, terlambat sudah jadi nilai minus.
Akhirnya, lima belas menit kemudian, Han Zhen melihat perempuan yang konon anak Kepala Staf Wang—Wang Yuanyuan.
Tas edisi terbatas, gaun pesanan khusus, kacamata hitam besar, bibir merah mencolok, tatanan rambut rapi, benar-benar perwujudan gadis kaya sejati.
Tak disangka, gadis itu lebih dulu membuka suara, "Kakak Han, ya? Aku Yuanyuan, masih ingat, kan?"
Tentu saja ingat, hanya saja, ini jelas bukan Yuanyuan yang dulu dikenalnya.
"Iya."
"Kakak Han masih tetap tenang seperti dulu."
"Iya."
"Kakak Han sudah lama menunggu, ya?"
"Tidak."
"Kakak Han sekarang kerja di mana? Kata Ibu, Kak Han kuliah bioteknologi, sudah lulus doktor, ya?"
"Iya, pesan makanan dulu saja!" Sudah menunggunya sejak lama, malah sibuk basa-basi.
"Aku pesan salad sayur saja, sama jus jeruk!"
"Cukup?"
"Cukup, aku lagi diet!" Padahal sudah kurus, masih saja diet, benar-benar tak sehat, pikir Han Zhen dalam hati.
Selama makan, Wang Yuanyuan bertanya beberapa hal remeh. Menjelang selesai, ia bertanya lagi, "Kak Han sekarang kerja apa?"
"Aku mendukung pertanian."
"Apa? Mendukung pertanian?"
"Memberikan dukungan teknis gratis bagi petani, membantu membangun desa."
"Hehe, Kak Han benar-benar punya rasa tanggung jawab sosial." Dalam hati, Wang Yuanyuan mencibir: tak punya pekerjaan tetap, tak berpenghasilan tinggi, sama sekali tak berguna. Sebulan saja tak cukup buat beli tas dan baju, mungkin malah masih mengandalkan orang tua, nanti aku yang harus menafkahi.
Tentu Han Zhen tak tahu ini, dan Wang Yuanyuan pun tidak tahu bahwa kakek Han Zhen sudah mewariskan seluruh saham perusahaannya pada Han Zhen. Saat ini perusahaan dikelola manajer profesional, Han Zhen tinggal menikmati dividen saja, uang sebanyak itu seumur hidup pun tak habis. Belum lagi honor tulisan ilmiah, berbagai penghargaan riset, semua itu Wang Yuanyuan tak tahu.
"Iya," jawab Han Zhen datar, dalam hati sudah bisa menebak apa yang dipikirkan lawan bicaranya. Ia sudah sering bertemu orang seperti ini. Malah, rasanya ngobrol dengan Wen Li yang suka bicara ngalor ngidul lebih menyenangkan. Eh, kenapa tiba-tiba jadi ingat perempuan aneh itu.
Akhirnya, pertemuan yang dingin dan penuh canggung itu selesai juga. Han Zhen dengan sopan menawarkan mengantar Wang Yuanyuan pulang, tapi tanpa diduga Wang Yuanyuan berkata ia masih ada janji lain, nanti saja kontak lagi.
Han Zhen justru lega.
Langsung mereka berpisah tanpa basa-basi.