Bab Lima Belas: Malam Pembantaian
Tangannya yang cekatan bergerak ke kerah bajuku, dan aku segera menangkap tangannya, tanpa berpikir, sebelum ia sempat bertindak lebih jauh, aku langsung menggunakan siasat yang pasti dipakai siapa pun: menjerit sekencang-kencangnya, “Aaaa!!!!”
Ternyata jurus ini benar-benar ampuh, ia pun langsung melepasku dan bertanya dengan suara dingin, “Kau bukan Chang, siapa kau sebenarnya?”
Suara itu, lembut dan menggoda, terdengar akrab bagaikan kabut tipis yang melingkupi telinga…
Saat itu juga, ruangan tiba-tiba menjadi terang, rupanya ada orang dari luar yang mendengar teriakanku dan masuk sambil membawa lentera.
Dalam cahaya temaram itu, aku bisa melihat jelas wajah yang ada di hadapanku, bibirku refleks bergetar dan aku terbata-bata berkata, “Tu... Tuan Hijikata.”
Dia juga tampak terkejut, “Kenapa kau ada di sini!”
“Aku datang untuk mengantarkan barang. Sepertinya kau salah orang,” jawabku dengan pasrah.
“Mengantar barang ke sini, kenapa kau sebodoh itu!”
“Hei, itu karena kau sendiri yang tergesa-gesa, bahkan tidak tahu dengan siapa berhadapan!”
Ia jelas tertegun mendengar kata-kataku, lalu berkerut kening, “Gadis seperti apa kau ini, bicaramu kasar sekali!”
“Huh!” Aku mendengus keras.
“Eh, Wakil Komandan! Eh, itu perempuan yang dekat dengan Souji!” Tiba-tiba terdengar suara terkejut. Aku menoleh dan langsung mengeluh nasib, ternyata Nagakura Shinpachi, si tukang gosip itu, juga ada di sini!
“Wakil Komandan, kau dan dia…” Shinpachi juga tampak terkejut. Melihat ke arah tatapannya, aku baru sadar ada masalah serius: aku dan Hijikata masih berada dalam posisi yang sangat mencurigakan.
Hijikata pun tampaknya menyadari hal itu, segera berdiri dan menjauh dariku.
“Hei, Tuan Bakpao, jangan menyebarkan gosip sembarangan, ini semua hanya kesalahpahaman!” Aku menatap tajam ke arah Shinpachi.
Wajah Shinpachi menunjukkan ekspresi aneh, ia tersenyum licik dan menyelinap keluar dari kerumunan. Jangan-jangan dia benar-benar akan menyebarkan rumor? Aku dan Hijikata saling bertukar pandang, sepakat untuk menangani masalah ini bersama. Hijikata langsung berlari keluar pintu, dan dari luar terdengar teriakan kesakitan Shinpachi. Barulah aku merasa lega—si Wakil Komandan yang berhati iblis pasti punya cara membuatnya diam seribu bahasa…
Malam itu, sesampainya di rumah, aku langsung terlelap. Hari ini sungguh melelahkan…
=======================================
Kericuhan di rumah Kame di Shimabara akhirnya usai. Entah bagaimana caranya, yang jelas Shinpachi benar-benar tidak mengatakan sepatah kata pun tentang kejadian itu.
Seiring udara yang semakin dingin, batuk Souji tampaknya semakin parah. Ia pun jarang datang ke toko Omiya seperti dulu. Kadang-kadang aku menjenguknya ke Honngan-ji, atau kadang kami bertemu di depan toko permen dan mengobrol sambil menikmati permen mame.
Meskipun tampak tenang di permukaan, situasi politik di Kyoto sudah mulai kacau. Menurut catatan sejarah, pasukan penentang kekuasaan shogun akan segera melancarkan peperangan di Kyoto…
Hari itu, sepulang dari markas, seperti biasa aku membawa sekeranjang lauk pauk. Lobak lagi, entah kenapa di zaman ini sepertinya semua masakan selalu memakai lobak. Para samurai Jepang memang biasanya tidak peduli urusan makan, mereka menganggap itu sebagai sesuatu yang tidak pantas bagi lelaki sejati. Hidangan sehari-hari pun sangat sederhana; hanya terdiri dari biji-bijian, sayur asin, rumput laut, dan ikan. Ada juga nasi diseduh teh dengan sedikit garam. Hanya mereka yang berkedudukan tinggi atau sangat memperhatikan makanan yang akan menambahkan ikan kering.
Makanan seperti itu memang mudah dibawa dan dibuat, tetapi sangat kurang zat besi, protein, dan vitamin. Apalagi, anggota Shinsengumi sering kali harus menyergap, membuntuti, dan berjaga, sehingga mereka juga sering makan makanan seperti itu. Kalau terus-menerus makan begitu, mudah sekali terkena anemia dan daya tahan tubuh menurun. Singkatnya, dibandingkan dengan masakan Jepang masa kini, sungguh membosankan dan hambar. Jika dibandingkan dengan kekayaan masakan Tiongkok, perbedaannya bagai langit dan bumi. Selama di sini, berat badanku sepertinya menurun. Setelah kembali nanti, aku harus minta Asuka mentraktirku makan besar.
Saat aku sedang melamun, tiba-tiba aku menabrak seseorang. Salah satu lobak jatuh dari keranjang. Aku tidak melihat siapa yang kutabrak, hanya secara refleks meminta maaf, lalu membungkuk mengambil lobak dan hendak pergi.
“Mau pergi begitu saja?” Suara rendah terdengar di telingaku. Aku mendongak dan langsung merasa repot.
Seorang pemuda berpakaian ronin menatapku dengan tidak bersahabat.
Aku berusaha bicara dengan nada damai, “Aku sudah minta maaf, bukankah itu cukup?”
“Tentu saja tidak cukup. Kau tahu siapa aku? Aku seorang samurai, tahu!” Nadanya mendadak menjadi genit, “Tapi, kalau kau bersedia menemaniku, aku akan memaafkanmu kali ini.”
Dasar laki-laki tidak berguna. Aku melirik sekeliling, banyak orang yang menonton dengan tampang ingin tahu. Sungguh, manusia di zaman sekarang maupun dahulu sama saja, dingin dan acuh tak acuh. Melihat situasinya, sepertinya aku harus menyelamatkan diri sendiri, tapi di depan banyak orang begini tidak mungkin menggunakan sihir.
“Oh, begitu ya. Sebenarnya aku tidak ingin menolak, tapi di sini banyak orang…” Aku berpura-pura malu, lalu berbisik lembut, “Bagaimana kalau kau ikut aku?” Aku pun berbalik menuju gang sempit di depan.
Ia langsung tersenyum penuh maksud, lalu mengikuti dengan cepat.
Begitu masuk ke gang kosong, aku menampilkan senyum licik dan secepat kilat menempelkan jampi pembekuan tubuh ke badannya. Melihat wajahnya yang panik, aku tertawa semakin keras. Sekarang kau benar-benar tak berdaya di tanganku…
Tentu saja, aku langsung menampar pipinya dua kali sampai mukanya berbekas merah jelas.
“Mau aku temani? Kau pikir kau pantas?” Aku mencengkeram dagunya sambil tertawa. Ternyata mencubit dagu orang itu lumayan menyenangkan juga.
“Kau… kau siapa sebenarnya?” Bicaranya jadi tidak jelas karena pipinya bengkak.
“Itu bukan urusanmu.”
“Aku akan membunuhmu, perempuan menyebalkan!” Ia tampak sangat tidak terima.
“Diam kau!” Aku mengambil sebatang lobak dari keranjang, mematahkan ujungnya, dan menyumpalkannya ke mulutnya.
“Tak perlu tahu siapa aku. Yang jelas, orang yang mengusikku tak akan sempat melihat mentari esok.” Kalimat ini dulu pernah diucapkan Souji dengan sangat keren, jadi aku ikut-ikutan menggunakannya.
Saat aku sedang berpikir untuk mengerjainya lebih jauh, tiba-tiba seseorang berlari masuk ke gang dan suara lembut yang sangat kukenal terdengar di belakangku, “Segera jauhi gadis itu!”
Itu suara Souji! Aku menoleh dan benar saja, dia Souji!
“Kohin, kau?” Souji juga tampak terkejut, “Cepat keluar dari tempat berbahaya itu!” serunya cemas. Ia memakai haori biru muda, tampaknya sedang berpatroli. Aku segera mencabut jampi pembekuan dari tubuh ronin itu, berputar dan lari ke sisi Souji secepat mungkin.
“Aku tak apa-apa!” Aku tersenyum padanya.
Ronin itu baru sadar bisa bergerak lagi, langsung mencabut pedang dan hendak menyerang.
“Mau mengacungkan pedang pada Kapten Regu Satu Shinsengumi?” Aku memandangnya dengan senyum mengejek. Ia terperanjat, lalu meneliti Souji dengan saksama, ragu bertanya, “Jangan-jangan kau…”
“Aku adalah Kapten Regu Satu Shinsengumi, Okita Souji.” Souji tersenyum cerah. Tapi bagi ronin itu, mungkin senyum itu seperti panggilan dari neraka. Wajahnya seketika berubah pucat, dan ia lari terbirit-birit tanpa menoleh.
“Kohin, kau benar-benar tak apa?” Souji tidak mengejarnya, hanya tampak khawatir padaku.
“Aku baik-baik saja, untung kau datang tepat waktu. Tapi, kenapa kau bisa ada di sini?” tanyaku riang.
Ia tampak lega, “Barusan aku dan Saito sedang berpatroli, lalu mendengar kabar ada ronin yang mengganggu warga, jadi kami mampir. Eh, ternyata kau. Yang penting kau selamat.”
“Sepertinya yang bermasalah bukan dia,” tiba-tiba suara dingin terdengar dari samping. Aku kaget, lalu menengadah dan mendapati Saito Hajime sudah berdiri di samping kami entah sejak kapan. Aku menepuk dadaku, “Tuan Saito, jangan muncul tiba-tiba seperti hantu begitu, bisa-bisa orang jantungan, tahu!”
Dia tidak menjawab, hanya menatapku dengan pandangan dalam. Tatapannya membuatku agak merinding. Jangan-jangan dia mencurigai sesuatu?
Keluar dari gang, aku dan Souji berjalan sambil bercanda. Saito mengikuti di belakang, berjarak lima-enam langkah.
Angin dingin berhembus, Souji langsung batuk pelan beberapa kali. Hatiku ikut bergetar, tapi aku tetap tersenyum, “Tahun Baru sebentar lagi, ya.”
Souji tersenyum makin cerah, “Iya, kau tahu kan, setiap Tahun Baru di Kyoto, di tepi Sungai Sumida selalu ada pertunjukan kembang api. Indah sekali. Kau pernah lihat kembang api?”
“Aku… belum pernah,” jawabku pelan. Tidak bohong, aku memang belum pernah melihat kembang api zaman dulu.
“Begitu ya.” Ia tersenyum misterius, “Nanti saat kembang api, aku akan mengajakmu ke tempat terbaik untuk menonton. Di sana pemandangannya paling indah.”
Melihat ekspresi bahagianya, aku pun ikut senang. Aku mengangguk, “Baiklah. Jangan lupa, ya. Aku juga akan memberimu hadiah Tahun Baru, kalau kau anak baik.”
Ia tertawa dan menatapku dengan hangat, polos, dan rapuh—
Hari-hari menuju Tahun Baru semakin dekat. Toko Omiya pun semakin sibuk dari biasanya, terutama karena Akiku mengurus semuanya sendirian. Suaminya, Takeshita, sering tidak ada di toko.
Malam itu, angin bertiup lebih kencang dari biasanya. Tidak ada satu pun pelanggan di toko. Seperti biasa, Pak Takeshita tidak di rumah. Setelah berbincang sebentar, Akiku bersiap menutup toko.
Saat aku sedang membereskan meja, tiba-tiba ia membungkuk menahan sakit. Aku panik dan segera menopangnya, “Kenapa, Akiku?”
Keningnya basah oleh keringat dingin, “Aku… perutku sakit sekali. Ini penyakit lama…” Ia berusaha berdiri dan mencari sesuatu di kotak kayu. Setelah sebentar, wajahnya berubah cemas, “Celaka, obatnya habis.”
“Obat apa? Biar aku belikan.”
Ia tampak ragu, “Malam sudah larut… sudahlah.” Tapi melihat ia menderita, aku memaksanya berbaring di kamar dalam, “Biar aku yang beli, tunggu saja di sini.”
Ia akhirnya mengangguk, “Terima kasih. Bilang saja pada Pak Matsuo, sebut nama Akiku dari Omiya, dia pasti tahu.”
Aku mengangguk dan tersenyum meyakinkan, lalu bergegas keluar.
Toko obat itu terletak di Hachijo, dulu aku pernah ke sana membeli chuanbei. Jadi aku cukup hafal jalannya.
Malam di Kyoto benar-benar menusuk tulang. Begitu keluar, aku menggigil dan segera melipat pakaian lebih rapat lalu melangkah cepat.
Saat hampir sampai di toko obat, samar-samar aku melihat bayangan beberapa orang di jendela kertas lantai atas. Aku senang, artinya pemilik toko belum tidur. Tapi tiba-tiba aku melihat beberapa orang dengan gerak cepat mengepung toko itu. Karena gelap, aku tidak bisa melihat jelas siapa mereka. Untuk berjaga-jaga, aku langsung bersembunyi di tempat yang aman dan menguping.
Terdengar suara berat, “Mata-mata dari Choshu berkumpul di sini malam ini. Jika ada yang melawan, bunuh saja!” Aku refleks menutup mulut, takut bersuara. Bukankah itu suara Wakil Komandan iblis? Mereka sedang menjalankan tugas? Ternyata di toko obat ini…
Beberapa bayangan cepat-cepat membuka pintu dan menyerbu masuk dengan pedang terhunus. Dari dalam, terdengar jeritan, suara pedang beradu, dan suara daging tertusuk. Di jendela kertas putih, bercak-bercak merah bermekaran seperti bunga darah, semakin tampak menyeramkan dan mengerikan dalam cahaya remang.
Di saat seperti ini, mereka semua telah berubah menjadi iblis…
Tiba-tiba, seorang pria berlumuran darah menerobos keluar, lalu disusul beberapa orang lagi. Salah seorang dari mereka, dengan gerakan kilat, menebas punggung pria itu. Saat itu juga, bulan muncul di langit, dan dalam cahaya bulan, aku bisa melihat jelas beberapa anggota Shinsengumi berpakaian haori biru muda: Wakil Komandan iblis, Saito Hajime, Hirama Saburo, dan… Souji.
Yang memberi luka terakhir pada pria itu adalah Hirama Saburo. Tapi pria itu tidak langsung ambruk. Ia menatap jauh ke depan dengan mata penuh dendam, dan berkata dengan susah payah, “Hanya… hanya Restorasi Jepang… hanya itu yang bisa membawa masa depan… membebaskan negeri ini dari kehancuran…”
Ia tiba-tiba berbalik, dengan sisa tenaga mengeluarkan sebuah kantong kain dari dadanya, lalu dengan napas terakhir berkata pada Saburo, “Hi… Hirama-san, aku… aku tidak menyalahkanmu… tolong… berikan ini pada Akiku…”
Sebelum pria itu jatuh, aku memandangi wajahnya dengan cahaya bulan dan tersentak kaget, sampai akhirnya tanpa sadar bersuara pelan. Pria itu ternyata adalah Takeshita, suami Akiku! Ternyata dia seorang pejuang Restorasi dari Choshu!
Baru saja berbisik, aku tiba-tiba merasa tubuhku melayang, seseorang menarikku keluar dari persembunyian.
“Kohin!” Souji menatapku terkejut, tanpa senyum biasanya.
“Kau lagi,” gumam Saito dengan nada heran. Sungguh, kenapa aku selalu terlibat masalah seperti ini?
Hijikata, yang menarikku keluar, juga sedikit melembutkan tatapannya setelah menyadari itu aku.
“Kenapa kau ada di sini?” tanyanya dingin.
“Aku mau membelikan obat untuk Akiku,” jawabku sambil melirik Takeshita yang sudah tak bernyawa. Hati terasa pilu, bagaimana aku harus memberitahu Akiku?
Aku juga melirik Saburo, yang biasanya ceria, kini memegang kantong kain itu dan berdiri mematung di samping mayat Takeshita, bergumam, “Kenapa harus dia, kenapa harus dia…”
“Buang saja itu,” kata Saito dingin.
“Tidak!” Saburo cepat-cepat memasukkan kantong itu ke dadanya, “Ini permintaan terakhirnya, aku harus menyerahkannya sendiri pada Akiku. Jangan ada yang melarang! Aku yang membunuh suaminya, masa permintaan sekecil ini pun tak boleh?” Ia berteriak, berbeda dengan biasanya.
Hijikata dan Saito tidak berkata apa-apa lagi. Mereka hanya memasukkan pedang ke dalam sarung.
“Ayo pulang.” Souji tersenyum tipis, menepuk bahu Saburo. Saburo tidak bicara, berjalan pelan ke depan.
“Wakil Komandan, aku akan menyusul nanti,” kata Souji pada Hijikata sambil tersenyum. Hijikata menoleh ke arahku dan Souji, lalu mengangguk.
Melihat mereka pergi, Souji kembali tersenyum padaku, “Sudah malam, biar aku antar kau pulang.”
“Tidak usah.” Kepalaku penuh kekacauan. Aku tidak tahu bagaimana harus memberitahu Akiku tentang berita buruk ini. Aku terus membayangkan wajah Akiku yang berduka, dan hatiku semakin tenggelam.
Wajah Souji sempat meredup, tapi ia tetap berusaha tersenyum, “Kalau begitu…”
“Souji, aku tahu membunuh bukan salahmu. Tapi aku tidak suka caramu yang seolah-olah biasa saja setelah membunuh orang…” Entah kenapa aku langsung mengucapkannya.
Ia diam, hanya menatapku dengan ekspresi sulit ditebak. Di matanya kulihat sekilas cahaya dingin yang belum pernah kulihat sebelumnya, dan suaranya juga terasa dingin, “Karena… aku bukan lagi anak manusia. Aku… anak iblis.” Aku merasakan hawa dingin menjalar dari punggungku. Souji yang seperti ini membuat orang tertekan.
“Souji, bukan itu maksudku, aku…” Aku sadar telah berkata salah.
“Aku mengerti. Sudahlah, biar aku antar kau pulang.” Tiba-tiba ia tersenyum lagi, dan suasana menekan tadi seketika hilang.
Souji, kau sebenarnya malaikat atau iblis?
“Uhuk, uhuk…” Ia tiba-tiba membungkuk, menutup mulut, batuk keras, lalu memuntahkan darah. Setelah itu, lagi-lagi darah segar mengalir dari sela-sela jarinya. Hatiku terasa sakit dan perih. Aku melangkah mendekat, berlutut, dan memeluknya erat.
Tubuhnya tersentak, berusaha mendorongku, “Uhuk… nanti bajumu kotor.”
Aku memeluknya semakin erat, menggelengkan kepala, tapi tak sanggup berkata-kata lagi. Yang terasa hanya kepedihan yang mengalir dari dalam hati…
Batuk keras kembali terdengar. Bahuku tiba-tiba terasa hangat. Tubuhku bergetar. Darah Souji sangat panas… bahuku serasa terbakar…
Di malam musim dingin yang menggigit, angin terus berhembus. Aku tidak juga melepaskan pelukan dari tubuh Souji… Mengapa pemuda ini begitu membuat orang merasa pilu…