Bab Lima Puluh: Apa yang Kuinginkan Tak Bisa Kau Berikan
Wen Liyu melihat Han Zhen menutup pintu kamar mandi, lalu buru-buru mengenakan pakaian, membereskan barang-barangnya, dan langsung keluar dari kamar itu agar Han Zhen tidak menyadari. Ia melangkah dengan sangat hati-hati, bahkan pintu kamar pun tidak dikunci, hanya ditarik saja.
Sepuluh menit kemudian, Han Zhen keluar. Melihat kamar yang kosong tanpa seorang pun, Han Zhen langsung panik. Ia mengambil ponselnya, menelepon Asisten Wang, dan memintanya segera membawa mobil dan menunggu di depan hotel.
Asisten Wang belum pernah mendengar suara Han Zhen yang begitu cemas sebelumnya. Ia menyadari ada sesuatu yang terjadi, dan ini bukan perkara kecil, sehingga ia pun mempercepat gerakannya.
Begitu Han Zhen masuk ke dalam mobil, Asisten Wang menanyakan tujuannya. Han Zhen terdiam sejenak.
"Putari saja area dalam radius satu kilometer dari hotel ini!"
Asisten Wang sebenarnya ingin bertanya alasannya, tapi tidak tahu harus memulai dari mana. Han Zhen pun sadar perintahnya terdengar mendadak, jadi ia memutuskan untuk berkata jujur kepada Asisten Wang.
"Wen Liyu menghilang, sepuluh menit yang lalu!"
"Baik, Tuan Han, saya mengerti."
...
Setelah memutari area sekitar hotel dua kali, akhirnya mereka menemukan Wen Liyu di depan gerbang Taman Rakyat Kota Awan.
Saat itu, Wen Liyu tengah duduk di bangku panjang di depan taman, mengenang masa lalu, air matanya menetes tanpa henti. Ia merasa adegan ini seperti pernah dialaminya sebelumnya.
Saat Han Zhen melihat pemandangan ini, hatinya terasa sangat perih, sungguh menyakitkan.
Han Zhen turun dari mobil, membanting pintu dengan keras.
Kemudian ia berjalan cepat ke arah Wen Liyu, menarik tangannya, dan membawanya masuk ke dalam taman.
Wen Liyu yang wajahnya penuh air mata benar-benar bingung, kehilangan daya untuk bertindak, membiarkan saja Han Zhen menggandengnya.
Han Zhen membawa Wen Liyu ke tempat yang sepi, lalu memulai pembicaraan.
"Mengapa kamu pergi? Mengapa tidak menungguku? Bukankah aku sudah bilang, serahkan saja semuanya padaku?"
"Tapi aku tidak bisa menerima pengaturanmu, aku tidak mau! Kau tidak mempedulikan perasaanku, semuanya kau atur sesukamu. Dalam hal ini, aku bukan bawahaanmu! Lihatlah, inilah yang kau sebut ketulusanmu. Dari awal sampai akhir, apakah kau pernah sedikit saja menghormatiku?"
Saat itu, Wen Liyu seperti petasan, mudah sekali meledak.
Han Zhen pun terdiam, merasa bingung mendengar pertanyaan Wen Liyu, namun tampaknya memang seperti itu adanya.
Wen Liyu melihat Han Zhen tak bisa menjawab, ia pun melanjutkan meluapkan emosinya.
"Apa salahku, Wen Liyu, hingga harus menanggung begitu banyak penderitaan? Benarkah aku tidak bisa punya anak? Kalau anak itu tak kunjung datang, apa bisa kulakukan? Apa ini sepenuhnya salahku? Aku pulang kampung hanya ingin hidup tenang, kalau gempa datang ya sudah, asal keluargaku selamat, itu sudah cukup. Setelah susah payah membangun rumah lagi, kau datang lagi, menyeretku masuk ke duniamu, membuatku selalu disulitkan oleh para pengagummu di sekitarmu. Aku hanya ingin menjauh darimu!
Kini aku sudah di Kota Awan, hidup dengan tenang dan damai! Ya, aku bersyukur atas semua yang kau lakukan untukku, tapi mengapa kau harus menuntut balasan dengan cara seperti ini? Aku tidak ingin terkukung di dunia seseorang, aku hanya ingin hidup di duniaku sendiri, menjalani kehidupan yang aku inginkan, yang damai dan tenang, mengerti, kan? Kau mengerti tidak?"
Mendengar suara Wen Liyu yang melengking dan penuh luka, Han Zhen merasa seperti sedang berdiri di tengah angin dingin bulan Desember, sementara hatinya seperti dibakar di atas bara api.
Han Zhen berusaha keras menenangkan diri, menyadari bahwa Wen Liyu sedang tidak rasional. Ia memutuskan untuk menunda persoalan ini dan lebih dulu menenangkan Wen Liyu.
"Lalu bagaimana menurutmu sebaiknya masalah ini diselesaikan?" tanya Han Zhen dengan suara stabil, berusaha terdengar setenang mungkin.
"Han Zhen, bisakah kau lepaskan aku?" tangis Wen Liyu pecah.
Jika kata-kata Wen Liyu tadi telah membakar hati Han Zhen, maka permintaan barusan seperti menusuk hatinya yang sudah perih ke dalam air es nol derajat.
Namun Han Zhen tahu ia bersalah. Demi bisa mempertahankan Wen Liyu, ia memaksa diri untuk berpikir jernih.
"Lalu, apa yang kau ingin aku lakukan?" Han Zhen mempersiapkan mental untuk menahan keputusan apapun yang mungkin diambil Wen Liyu, juga menyiapkan kata-kata untuk membujuknya agar tak pergi.
"Aku sudah tidak mau lagi melanjutkan pelatihan yang kau sebut itu. Carilah orang lain saja, aku ingin pulang. Anggap saja apa yang terjadi semalam tidak pernah terjadi, cukup sampai di sini," ucap Wen Liyu dengan air mata berlinang.
Namun Han Zhen mana mungkin menyerah begitu saja? Ia sudah menunggu tiga tahun, tidak mungkin menunggu lebih lama lagi.
"Wen Liyu, tenanglah. Melarikan diri tidak akan menyelesaikan masalah. Coba pikirkan lagi alasanmu datang ke perusahaan untuk belajar, ingatlah niat awalmu, ya?"
"Aku bahkan sudah tidak bisa mengurus diriku sendiri, bagaimana aku bisa memikirkan orang-orang di kampung?" Wen Liyu bertanya dengan suara bergetar.
"Wen Liyu, Wen Liyu, tolong tenanglah, kita duduk dulu, ya?" Han Zhen menunjuk ke bangku di dekat mereka.
...
Setengah jam kemudian, Han Zhen merasa Wen Liyu sudah cukup tenang. Ia tidak lagi menangis, dan inilah saatnya Han Zhen mencoba membujuknya lagi.
"Wen Liyu, coba pikirkan, kalau kau pulang pun, tidak ada pekerjaan yang bisa kau lakukan, kan? Beberapa waktu belakangan ini kau menjalani hari-harimu dengan sangat baik dan penuh makna, bukan? Jadi, mengapa tidak tetap di sini saja? Aku tidak akan mengganggumu. Kalau ada urusan, aku akan menyuruh Asisten Wang menyampaikan padamu. Bagaimana? Aku akan perlahan-lahan menghilang dari pandanganmu, agar kau bisa mempertimbangkan semuanya dengan baik."
Wen Liyu mengerutkan kening, terdiam beberapa saat.
"Aku tidak ingin mempertimbangkan apa-apa, aku hanya ingin kau tidak terlalu ikut campur lagi dalam urusanku, biarkan aku benar-benar belajar sesuai tujuanku!"
"Baik, baik, aku janji!" Demi menenangkan Wen Liyu, Han Zhen pun terpaksa menyetujui permintaannya. Dalam hatinya ia berpikir, waktu masih panjang.
"Lalu, mulai sekarang, kecuali ada urusan pekerjaan, bisakah kita tidak bertemu secara pribadi lagi?"
"Kau bahkan ingin menghilangkan kesempatanku untuk bertemu denganmu?" tanya Han Zhen.
"Kalau begitu, biarkan aku pulang, boleh?"
Begitu Wen Liyu mengulang keinginannya untuk pulang, Han Zhen langsung mengalah.
"Baiklah, kecuali urusan kerja, aku tidak akan menemuimu secara pribadi lagi! Sekarang, biar aku antar kau kembali ke asrama, bukankah hari ini kau masih harus bekerja? Asisten Wang sudah mengajukan izin untukmu pagi ini, tenang saja, ia mengaku sebagai kerabat jauhmumu!"
Melihat situasi sudah terkendali, Han Zhen pun segera mengalihkan pembicaraan.
"Tidak usah kau antar, aku pulang sendiri saja naik taksi!"
"Baiklah!" Han Zhen tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Jika ia terus memaksa, Wen Liyu pasti benar-benar akan menutup diri dari semua orang.
Han Zhen hanya bisa melihat Wen Liyu naik ke dalam taksi, lalu ia sendiri kembali ke mobil, menyadari semua usahanya selama ini sia-sia, dan harus memulai semuanya dari awal lagi.
Sore harinya, Wen Liyu membereskan perasaannya dan pergi bekerja. Hari ini adalah hari terakhirnya di departemen pengembangan investasi, ia harus menulis laporan, menyerahkannya ke atasan, lalu melapor ke departemen barunya.
Saat Wen Liyu tiba di departemen itu, kebetulan Su Meng ada di sana. Su Meng menceritakan bahwa semalam ia menyerahkan Wen Liyu kepada Asisten Wang dan menanyakan keadaannya, apakah masih pusing atau tidak.
Tak disangka, perhatian Su Meng itu didengar oleh seseorang di dekat mereka, dan hanya dalam waktu kurang dari dua jam, rumor tentang hubungan khusus antara Wen Liyu dan Asisten Wang sudah beredar di seluruh perusahaan. Padahal, semua orang tahu bahwa Asisten Wang sudah menikah, dan gara-gara ini, Wen Liyu kembali menjadi pusat gosip.
Belakangan, setelah bagian personalia memberikan penjelasan bahwa Wen Liyu adalah kerabat jauh Asisten Wang, berita itu justru menyebar ke seluruh perusahaan. Hal ini karena pagi tadi bagian personalia menerima telepon dari Asisten Wang yang mengajukan izin untuk Wen Liyu.
Untuk menghindari gosip yang semakin meluas, Wen Liyu dengan tegas memilih departemen berikutnya untuk magang di bagian teknik. Ia berharap lingkungan di proyek akan lebih sederhana, dan di sana juga ada Ye Tong.