Bab Lima Puluh Tujuh: Terima Kasih
Nyonya Li hampir saja dibuat pingsan oleh putra bungsunya! Anak bodoh ini, kenapa otaknya tidak jalan! Istrinya itu, benarkah hanya ingin makan kue kacang merah? Jelas-jelas ia mengincar resep kue buatan Yu Niang!
“Nenek, jangan marah, marah-marah bisa merusak kesehatan, tidak sepadan,” ujar Du Yu Niang sambil menggulung lengan bajunya. “Toh resepnya ada di kepalaku, dia pun tak bisa mengambilnya! Tenang saja, tak akan ada yang bisa mengambil untung dariku.”
Nyonya Li berkata dengan nada sedih, “Aku tadinya berharap keluarga ini rukun, jangan cari perkara. Semua bilang, jangan terlalu ikut campur urusan rumah, tapi lihat sendiri, apapun yang dilakukan Zhang, mana ada yang tidak bikin orang khawatir? Barang milik keponakan sendiri, tega-teganya dia mengincar juga?”
“Sudahlah, Nek,” ujar Du Yu Niang sambil menggenggam tangan neneknya. “Dengarkan aku, jangan diambil hati. Kalau tidak, nanti-nanti akan ada lebih banyak hal yang bikin marah! Lagi pula, menurutku kehamilan Bibi kedua itu, sangat mungkin cuma pura-pura.”
“Pura-pura?” Mata Nyonya Li membelalak, pikirannya berputar beberapa kali, akhirnya ia pun paham. Sejak dulu Zhang selalu mengincar resep kue Yu Niang. Ia tahu Yu Niang pasti tidak akan memberikannya. Lagi pula, ia sendiri sudah bilang, tak boleh ada yang coba-coba mengincar kue Yu Niang! Tapi Zhang tak mau menyerah pada kesempatan emas ini, akhirnya mencari akal dengan berpura-pura hamil, demi bisa menipu resep kue Yu Niang?
“Perempuan itu, sungguh ingin aku suruh He Pu menceraikannya saja!”
Tentu saja itu hanya kata-kata saking kesalnya.
Du Yu Niang berkata, “Tenangkan hati, Nek. Pikirkan, kalau betul-betul Bibi kedua diceraikan, bagaimana Xiao Zhi dan adik-adiknya nanti bisa menikah? Kalau pun tidak memikirkan Paman kedua, setidaknya pikirkan nasib Xiao Zhi dan saudara-saudaranya!”
Nyonya Li benar-benar tak bisa menahan amarahnya. Saat itu juga, ia sangat membenci putra bungsunya. Kalau anak itu sedikit saja punya pendirian, mana mungkin bisa sampai ditipu istri sendiri seperti ini?
Du Yu Niang berkata lagi, “Jangan marah lagi, Nek. Bagaimana kalau Nenek temani aku ke dapur saja? Aku akan minta Kakak ipar membantuku membuat kue kacang merah, Nenek duduk di kursi kecil di depan pintu, bantu jaga api, sekalian menghalau orang-orang yang datang cuma ingin lihat aku buat kue. Bagaimana?”
Ini memang ide yang cukup menghibur.
Tanpa banyak bicara, Nyonya Li langsung setuju.
Du Yu Niang pun memanggil Tian Shi, lalu mereka berdua mulai membuat kue.
Kebetulan masih ada sisa tepung kentang dari waktu lalu. Bahan ini, meski diletakkan di luar, sepuluh hari setengah bulan pun tidak rusak, pas sekali untuk dipakai sekarang.
Du Yu Niang mengajari Tian Shi dengan telaten, bagaimana meracik bahan, menakar perbandingan, dan cara menguleni adonan.
Sebenarnya, ini bukan hal yang sulit. Selama bisa membuat makanan berbahan tepung, orang yang terbiasa masak, hanya dengan melihat dua-tiga kali saja sudah bisa menguasai cara membuatnya.
Yang sulit adalah pada perbandingan bahan dan pembuatan tepung kentangnya. Orang yang belum pernah bersentuhan dengan makanan seperti ini, tak akan pernah bisa membayangkan cara pembuatannya.
Ide Nyonya Li untuk duduk menjaga di depan pintu dapur ternyata sangat tepat.
Selama Du Yu Niang membuat kue, Zhang dan Du An Xing beberapa kali mencari-cari alasan untuk masuk dapur, ingin mengintip.
Sayangnya, semua dicegat oleh Nyonya Li di depan pintu, tak satu pun berhasil masuk.
Zhang sangat kesal, begitu kembali ke kamarnya, ia pun memaki Du Yu Niang habis-habisan! Isi makiannya itu-itu saja, menyebutnya pelit, tidak tahu diri, bahkan menyamakan dengan anak serigala.
Du Xiao Zhi yang mendengarnya hanya bisa mengernyitkan dahi, ia sungguh tak habis pikir dengan kelakuan ibunya.
Du Xiao Ye malah merasa puas, bahkan berkata, “Memang dia itu bukan orang baik!” Sambil memasang wajah seolah sejak awal ia sudah bilang begitu, tapi tak ada yang percaya.
Untungnya, Du He Pu meski agak bodoh, masih bisa membedakan mana yang benar dan salah. Ia menegur Du Xiao Ye dua kalimat, lalu berbalik menasihati Zhang dengan logika.
“Yu Niang sudah mau membuatkan kue untukmu, bahannya pun bukan kamu yang sediakan, kurang apa lagi? Ada makanan ya makan saja, kenapa masih banyak bicara.”
Sementara itu, Du An Xing tidak berkata sepatah pun. Begitu kembali ke kamar utara, ia mulai memikirkan cara untuk mendapatkan resep kue dari Du Yu Niang.
Bagaimanapun juga, resep kue itu harus ia dapatkan.
Kesempatan sebagus ini, tak boleh dibiarkan hanya dimiliki keluarga besar saja.
Ia sama sekali lupa, resep kue itu memang milik keluarga besar sejak awal.
Tak lama kemudian, kue kacang merah hasil kerja sama Du Yu Niang dan Tian Shi pun matang.
Kali ini, ia sengaja membuat lebih banyak.
Selain kue untuk Zhang, ia juga menyiapkan lebih banyak, sebagian kecil ditinggalkan untuk Xiao Huzi dan Nyonya Li, sementara yang lain ingin ia titipkan pada Liu Shi untuk dikirim ke rumah orang tua, agar Liu Lao Han dan Min Shi juga bisa mencicipinya.
Nyonya Li tersenyum senang, “Begitu memang benar, mereka itu nenek dan kakekmu, bukan orang lain. Sampai kapan pun, jangan lupakan berbakti.”
Du Yu Niang hanya mendengarkan dengan tenang, tanpa memperlihatkan tanda-tanda jenuh sedikit pun di wajahnya.
Di kehidupan sebelumnya, ia tidak pernah akrab dengan keluarga Liu Shi.
Ya, dengan keluarga Du juga tidak akrab, tapi dengan keluarga Liu, ia bahkan sampai pada tahap acuh tak acuh.
Ayah Liu Shi adalah seorang tukang kayu, Min Shi seorang nenek yang ramah dan lugas.
Ia masih punya empat paman.
Mereka semua adalah keluarga dekat, yang dulu berkali-kali ingin menunjukkan kasih sayang dan kedekatan, namun selalu ia tolak dengan dingin.
Saat masih gadis, Liu Shi sangat dimanjakan.
Karena di atasnya ada empat kakak laki-laki, ia satu-satunya anak perempuan di keluarga.
Saat Liu Shi menikah, mas kawinnya sempat jadi pembicaraan orang.
Di desa, sangat jarang ada perempuan yang menikah dibekali sawah dari orang tua.
Tanah, rumah dan sejenisnya, biasanya disimpan untuk keturunan.
Keluarga Liu rela memberikan sebidang sawah sebagai mas kawin untuk putri mereka, menunjukkan betapa pentingnya Liu Shi di mata keluarga.
Meski sawah yang dibawa Liu Shi hanya lima mu, bagi orang desa, itu sudah sangat besar nilainya.
Dulu, setelah ia menikah dengan keluarga He, ia jarang berhubungan dengan keluarga Liu.
Tapi belakangan ia dengar, keluarga Liu membawa pulang ibu dan kakak, serta kakak iparnya.
Keluarga Du hancur, tapi keluarga Liu masih ada.
Mereka benar-benar baik pada ibu.
Hanya saja, sebagai keluarga biasa, mereka tidak sanggup melawan keluarga He yang seperti serigala kelaparan.
Bagaimana bisa melawan? Jelas bukan tandingan.
“Yu Niang...” suara Nyonya Li terdengar cemas, “Apa yang kamu pikirkan?” Ia takut cucunya terjebak dalam mimpi buruk itu. Mimpi mengerikan, cukup sekali saja, jangan sampai terus-menerus teringat, betapa menyiksanya.
Du Yu Niang tersadar, menggelengkan kepala, “Tidak memikirkan apa-apa. Aku antar saja kue kacang merah ini ke Bibi kedua!”
“Biar saja, taruh saja di sini, mau makan silakan, enggak juga tak apa.” Setiap kali mengingat soal kehamilan pura-pura Zhang, api di dada Nyonya Li langsung membara.
Zhang itu paling rakus, tak perlu diantar, sebentar lagi pasti menyuruh anak perempuannya mengambil ke dapur.
Benar saja, tak lama kemudian Du Xiao Zhi masuk ke kamar.
“Nenek, belum istirahat?”
Meskipun kesal, Nyonya Li tidak sampai hati melampiaskannya pada cucu.
“Belum, masih ngobrol sebentar dengan Yu Niang. Xiao Zhi, naiklah ke dipan, di luar dingin, kan?”
Du Xiao Zhi tersenyum, “Tidak perlu, Nek. Aku ke sini cuma mau ambil kue, nanti langsung kembali.”
Du Yu Niang mengambilkan kue yang memang sudah ia sisihkan, meletakkannya di atas meja, “Ada di sini, bawa saja pulang.”
“Yu Niang, terima kasih,” ujar Du Xiao Zhi tulus, ia merasa seharusnya ia juga meminta maaf.