Bab Lima Puluh Delapan: Aku Tidak Punya Uang!
Mo Xiangwan tak kuasa menahan diri untuk melirik ke arah Zhang Feiyu.
Bocah kecil ini sebenarnya punya daya tarik apa, sampai-sampai dirinya, seorang perempuan yang telah ditempa pengalaman bertahun-tahun, bisa bertindak begitu gegabah dan kehilangan akal sehat.
Selama beberapa bulan terakhir, semua uang Zhang Feiyu telah dihabiskan untuk membayar denda penalti kepada Abad Kebahagiaan.
Saat ini, ia benar-benar tak punya sepeser pun.
Maka, di saat seperti ini, sudah tentu walinya yang harus tampil ke depan.
Zhang Feiyu lebih dulu menatap Zhang Zhigang.
Zhang Zhigang, yang sudah sangat sadar diri sebagai mesin ATM berjalan, langsung mengeluarkan dompetnya dan berpura-pura membolak-balik isinya.
Setelah itu, ia mendengus kesal.
“Dasar bocah sialan, kenapa menatapku begitu? Ayahmu ini sudah menikah, tahu!”
“Ayah, aku tahu ayah sudah menikah. Kalau tidak menikah, mana mungkin aku ada,” ujar Zhang Feiyu sambil tertawa.
“Aku hanya berpikir, ini kan pertama kalinya anakmu mencoba berwirausaha, apa ayah tidak perlu memberikan sedikit dukungan?”
“Dukungan apa lagi! Sudah tahu ayahmu menikah, masih tega minta uang?” Zhang Zhigang mendelik, napasnya memburu menahan marah.
Sialan betul!
Bocah ini memang suka membahas hal yang mestinya tak perlu disebut. Sejak menikah, saldo di rekening pribadinya tak pernah lewat seribu yuan per bulan.
Untung saja, ia cukup cerdik untuk selalu menyisihkan uang rahasia.
Zhang Feiyu tertawa girang, posisi ayahnya di dalam keluarga memang mengkhawatirkan.
Baiklah, kalau ayah tak punya uang, tinggal andalkan ibu, sang kepala keluarga sejati.
Yang Yuying sudah tahu Zhang Feiyu pasti ingin meminta uang lagi, dan kali ini jumlahnya sampai sepuluh juta. Refleks pertamanya tentu saja menolak.
Uang? Tidak ada! Nyawa? Ada satu, silakan ambil saja.
Tapi, mana mungkin seorang ibu bisa menang melawan rengekan anaknya, apalagi ini anak kandung, darah daging sendiri.
Akhirnya, setelah tidak tahan dengan sikap manja Zhang Feiyu, Yang Yuying pun terpaksa mengiyakan, menyerahkan sepuluh juta untuk mendirikan studio bagi Zhang Feiyu.
Sebagai balasannya, Zhang Feiyu harus menyanggupi satu permintaan Yang Yuying.
Dalam setahun, ia harus berhasil mendapatkan Chen Xiaoxiao, kalau bisa sekalian membawanya kembali ke tanah air.
Sebab sejak tahu bahwa di Korea Selatan banyak pria muda tampan, apalagi negara itu surganya operasi plastik, Yang Yuying benar-benar cemas.
Bukan takut calon menantu direbut pria Korea, tapi takut Chen Xiaoxiao pulang dengan wajah yang telah berubah total.
Kebetulan, ia melihat Zhang Feiyu sepertinya tidak terlalu serius pada Chen Xiaoxiao. Maka, ia pun memanfaatkan kesempatan ini untuk mengajukan syarat tersebut.
Kalau anaknya tak mengerti urusan, ibunya lah yang harus lebih memikirkan masa depan.
Saat melihat transfer sepuluh juta berhasil, tabungan keluarga langsung susut hampir setengah.
Yang Yuying pun melamun tak percaya.
Sebenarnya, apa yang telah merasukiku?
Ini sepuluh juta, sepuluh juta!
Bagaimana aku bisa setuju memberikan uang sebanyak itu pada bocah bandel ini?
Sepuluh juta bisa beli berapa butir telur, berapa karung beras, berapa botol kecap?
Pertama lima juta, kini sepuluh juta. Jangan-jangan lain waktu bocah ini akan minta lima puluh juta?
Kalau benar terjadi, syarat apa lagi yang harus kuajukan padanya? Menuntut segera memberiku cucu gendut?
Sementara Yang Yuying tenggelam dalam kegelisahan, Zhang Feiyu justru merasa sangat puas.
“Ha ha ha, Kak Xiangwan, kalau begitu aku ucapkan selamat lebih dulu atas kerja sama kita,” ujar Zhang Feiyu dengan tawa riang.
“Ya, aku juga menantikan kerja sama kita, dan berharap di bawah pimpinan bos, studio ini bisa berkembang pesat dan jaya,” balas Mo Xiangwan dengan nada datar, sembari menyisipkan pujian.
Luar biasa, pantas saja sepuluh tahun lebih bergelut di dunia hiburan, ia bisa tanpa sungkan memuji seorang bocah di bawah umur seperti Zhang Feiyu.
Tentu saja, karena Mo Xiangwan sudah memutuskan bergabung dengan studio Zhang Feiyu, maka Zhang Feiyu adalah bosnya mulai sekarang.
Sebagai orang yang akan menggaji dirinya, menghormati Zhang Feiyu sudah sepatutnya.
Zhang Feiyu tertawa lebar. Sudah dua kali menjalani hidup, ia jelas tidak akan terbuai hanya dengan pujian manis dari Mo Xiangwan.
Namun harus diakui, rasanya dipuji orang memang menyenangkan.
“Kalau begitu, Bos, sekarang kita sudah satu tim, aku ingin tahu pendapatmu soal popularitasmu di internet belakangan ini. Lebih tepatnya, setelah memiliki perhatian sebesar itu, apa yang ingin kamu lakukan dengan popularitas tersebut?” tanya Mo Xiangwan, kini dengan wajah serius.
Zhang Feiyu paham, orang-orang sukses yang telah makan asam garam kehidupan biasanya menghargai anak muda yang dewasa dan berpikiran matang.
Jika ia terlihat sombong atau bicara sembarangan, tidak diragukan lagi, kesan pertama yang ditinggalkan pada rekan kerjanya ini pasti sangat buruk.
Ia pun menahan senyum, dan menjawab dengan nada hati-hati dan serius.
“Kak Xiangwan, menurutku, popularitas yang kumiliki di internet saat ini hanyalah kemewahan semu, seperti gelembung—kelihatan indah, tapi sekali disentuh akan pecah.”
“Memang, aku bisa saja memanfaatkannya untuk meraih kontrak iklan dan mencari uang cepat, tapi itu sama saja dengan menghancurkan masa depan sendiri, merusak reputasi.”
“Karena itu, rencanaku adalah untuk sementara mengabaikan popularitas tersebut, fokus memperbaiki diri, menghasilkan karya yang berkualitas, lalu membangun reputasi secara perlahan. Tentu, sesekali menerima satu dua iklan yang punya reputasi baik juga boleh, supaya aku tidak sepenuhnya hilang dari perhatian publik…”
Zhang Feiyu memaparkan rencananya dengan runtut.
Mo Xiangwan terus mengangguk mendengarnya.
Ternyata benar, ini anak muda yang sangat matang, pemikirannya rapi dan terencana.
Dengan begitu, ia tak perlu lagi khawatir studio ini akan melakukan hal aneh hanya karena darah muda.
Di matanya, tampak kilatan kekaguman, sekaligus harapan akan masa depan.
Memiliki bos dan rekan kerja muda yang matang dan stabil seperti ini, ia mulai menaruh harapan besar.
“Oh ya, Bos, kudengar kamu masih duduk di kelas dua SMA, benar?” tanya Mo Xiangwan sambil tersenyum.
“Betul,” Zhang Feiyu mengangguk.
“Lalu, bagaimana rencanamu ke depan? Ingin kuliah di mana?”
Zhang Feiyu berpikir sejenak, tahu bahwa Mo Xiangwan ingin menilai sejauh mana visi dirinya melalui jawaban ini.
“Kak Xiangwan, sebenarnya aku sudah punya rencana, hanya saja belum final.”
“Boleh cerita?”
“Rencananya, aku akan ikut ujian masuk perguruan tinggi seperti biasa, belajar sebaik mungkin untuk meraih nilai tinggi. Pilihan utamaku adalah tiga akademi perfilman besar, yang utama tentu Akademi Drama Nasional, lalu Akademi Film Beijing, dan ketiga Akademi Seni Shanghai.”
Sebenarnya, hasil ujian seni Akademi Film Beijing sudah keluar, dan ia berada di peringkat pertama untuk jurusan tersebut.
Namun, Zhang Feiyu lebih ingin masuk Akademi Drama Nasional, dan pada pertengahan Februari nanti, ia akan mengikuti ujian seni di sana.
“Nilai tinggi? Setinggi apa?” tanya Mo Xiangwan.
“Hmm, untuk peringkat aman, masuk seratus besar provinsi sudah pasti bisa,” ujar Zhang Feiyu dengan nada ‘rendah hati’.
Padahal, kalau tak loncat kelas, ia berniat jadi peringkat satu.
Berkat kemampuan belajarnya yang luar biasa setelah terlahir kembali, ia tak pernah takut dengan sistem pendidikan nasional.
Mau bagaimana lagi, begitulah keunggulan orang yang terlahir kembali—dengan kemampuan luar biasa, siapa pun tak bisa menandingi.
Mo Xiangwan sampai kehabisan kata-kata. Provinsi Guangyue punya populasi lebih dari seratus juta, peserta ujian masuk perguruan tinggi tiap tahunnya lebih dari sejuta.
Bisa masuk seratus besar dari jutaan orang, dan masih bilang itu posisi aman?
Tak disangka, anak muda ini ternyata punya kepercayaan diri tinggi.
Tapi, dari jawaban Zhang Feiyu yang tenang dan terstruktur, tampaknya ia bukan anak yang suka bicara asal.
Bisa berkata seperti itu, berarti ia sangat yakin dengan kemampuannya.
Mo Xiangwan pun merasa lega, tak lagi khawatir studio ini akan tutup dalam waktu singkat.
Keduanya terus berbincang sampai larut malam, akhirnya memutuskan semua detail pendirian studio.
Setelah Tahun Baru, Mo Xiangwan dan Yang Yuying akan berangkat ke Hudou untuk mendirikan studio, dengan Yang Yuying sebagai perwakilan hukum sementara.
Sementara tugas Zhang Feiyu sekarang adalah belajar dengan baik dan mempersiapkan ujian seni.
Akhirnya, Mo Xiangwan menolak dengan halus ajakan Zhang Feiyu untuk menginap lagi, dan kembali ke hotelnya.
Tadi malam ia sudah begadang berdiskusi dengan Zhang Feiyu, semalam suntuk tanpa tidur, jadi ia benar-benar butuh istirahat.