Bab Tujuh Belas: Perpustakaan Lima Menara (Bagian Kedua)
Keluar dari lingkaran teleportasi, Renon mendapati dirinya berada di sebuah koridor melingkar yang sangat luas. Di sisi kirinya terbentang deretan jendela besar yang menjulur hingga lantai, kaca yang bersih memperlihatkan hiruk-pikuk jalan Pukser di bawah sana. Di sebelah kanannya berjajar pintu-pintu kaca, di baliknya tergantung tirai krem setengah transparan.
Jerry menggandeng Renon, mendorong salah satu pintu kaca dan masuk ke dalam ruangan. Di hadapan mereka terbentang sebuah aula setengah lingkaran, deretan rak buku tinggi berdiri berjajar bak barisan parade.
Melangkah di atas karpet cokelat kemerahan yang lembut, berjalan di tengah “hutan buku”, menghirup aroma tipis buku-buku yang memenuhi udara, Renon berbisik pelan pada Jerry, “Sekarang aku mengerti kenapa kau sering datang ke sini, ternyata sekadar berjalan-jalan di sini saja sudah menjadi kenikmatan tersendiri!”
“Haha! Kau baru menebak separuhnya,” Jerry tertawa sambil menepuk bahu Renon. “Separuhnya lagi ada di sini.” Jerry membawa Renon ke depan sebuah rak buku dan mengambil satu buku dari atasnya. Renon mendekat dan melirik judulnya: “Seri Teknik Bertarung Praktis Ligatus Jilid Satu.”
“Buku apa ini, Jerry?”
“Ya ampun, Renon! Kau benar-benar seperti datang dari planet lain? Kau bahkan tak tahu siapa Ligatus? Dia itu penyihir tempur terkuat dalam Liga Petarung Utama! Aku memilih mengambil jurusan penyihir tempur setelah menonton pertandingannya. Tahun lalu dia meraih gelar juara keenam kalinya di Liga Petarung Utama!” Mata Jerry berkilat penuh semangat.
Renon memandang buku itu dengan kebingungan, “Aku memang tak tahu apa itu Liga Petarung Utama, tapi kalau dia bisa jadi juara sampai enam kali, pasti dia penyihir tempur yang sangat hebat.”
Mendengar ucapan Renon, Jerry hampir saja pingsan, beruntung ia masih sempat berpegangan pada rak buku. Dengan sabar, Jerry menjelaskan, “Liga Petarung Utama atau Arena Petarung Utama adalah kompetisi adu kekuatan terbesar di Benua Tengah, tanpa memandang latar belakang para peserta. Pertama kali diadakan di negara Kevanras, tepatnya di ibu kota Kevanraliar, di Arena Petarung Utama, sehingga nama arenanya pun dipakai menjadi nama kompetisinya. Karena kompetisi ini sangat digemari masyarakat, akhirnya menyebar ke berbagai negara, tapi babak final setiap tahun tetap diadakan di Arena Petarung Utama.”
Renon menatap Jerry, masih sedikit bingung, “Jadi, bisa dibilang dia adalah penyihir tempur terkuat di Benua Tengah?”
“Tidak juga! Penyihir benar-benar kuat biasanya tidak tertarik ikut kompetisi semacam itu. Contohnya kakekmu, Arroyo Konstantin. Ia adalah salah satu penyihir tempur terkuat di Benua Tengah. Sayangnya, sangat jarang orang melihat kekuatannya secara langsung. Karena itu aku hanya bisa menonton Liga Petarung Utama dan membaca buku-buku tentangnya.”
“Tak kusangka, Kakek Konstantin ternyata penyihir tempur sehebat itu!” Renon mengangkat kepala, kagum.
Kali ini Jerry benar-benar jatuh terduduk di lantai.
“Jerry? Jerry, kau kenapa?” Renon buru-buru menolongnya berdiri.
“Tak apa! Aku benar-benar mengagumimu, sampai rasanya ingin bersujud di kakimu…”
“Tolong diam sejenak, dua orang mahasiswa. Jangan terlalu berisik agar tidak mengganggu pembaca lain. Ada yang bisa kubantu?” Tiba-tiba seorang pelayan muda cantik datang mendekati Jerry dan Renon, berbicara dengan suara lembut.
“Maaf! Kami terlalu bersemangat menemukan buku ini, haha! Tidak ada hal lain kok!” Jerry tersenyum kikuk.
“Bersuara keras di perpustakaan itu sungguh tak sopan, tahu? Kalau kalian kesulitan mencari buku, datang saja ke meja depan, kakak di sana pasti akan membantu,” ujar pelayan cantik itu sambil mengelus lembut kepala Jerry dan Renon.
“Baik!” jawab Jerry dan Renon serempak. Pelayan itu tersenyum ramah, melambaikan tangan sebelum pergi.
“Renon.”
“Ada apa, Jerry?”
“Aku putuskan, seumur hidup aku tak akan keramas lagi.”
“Aku juga… Jerry.”
“Ehm… Renon, buku apa yang ingin kau cari?” Jerry mendadak sadar dan bertanya pada Renon.
“Aku ingin mencari buku-buku dasar tentang sihir elemen. Pelajaran tadi pagi sama sekali tidak kumengerti. Jangankan mengerti, dasar-dasarnya pun aku tidak tahu. Kemarin di tempat latihan, kau sempat menyebutkan tentang atribut dasar sihir, itu pun aku belum paham.” Renon berbicara sambil menengok ke sana kemari, mencari rak yang memuat buku-buku itu.
“Buku yang kau cari tidak ada di sini, ikut aku.” Jerry menarik Renon menuju deretan rak yang lebih besar di sisi lain, “Aku mau merekomendasikan satu buku istimewa untukmu…” Selesai berkata, Jerry langsung menarik sebuah tangga kecil. Tak lama kemudian, ia mengambil sebuah buku tebal berkulit keras dengan sampul yang mewah.
“‘Sistem Sihir Mike Pitt Jilid Satu’, ayo pinjam!” Jerry melemparkan buku itu kepada Renon.
Buku tebal itu hampir saja membuat Renon terjengkang. “Buku karya Kepala Sekolah Pitt?” tanya Renon sambil memandang sampulnya.
“Betul! Meski kepala sekolah itu tampak sangat materialistis, dalam teori sihir dia sangat ahli.” Jerry turun dari tangga dan berkata, “Buku sudah lengkap, ayo kita ke ruang baca di seberang sana!” Ia lalu menarik Renon melewati hutan buku menuju pintu aula setengah lingkaran. Begitu pintu kayu kuno itu terbuka, tampak koridor lebar melingkar. Di sisi luar koridor berjajar pintu-pintu kecil, di setiap pintu tertempel label seperti “ada orang” atau “kosong”.
Renon bertanya, “Ini ruang baca?”
“Ya. Perpustakaan Lima Menara ini punya bentuk menara bundar. Tiap lantai bagian luar berupa koridor melingkar, bagian tengah terbagi dua: satu setengah lingkaran untuk ruang koleksi dan yang lain ruang baca. Lihat label sihir itu, kalau ada orang di dalam, otomatis berubah jadi ‘ada orang’, kalau kosong ya ‘kosong’.” Jerry menjelaskan sambil membawa Renon ke salah satu ruangan yang bertanda ‘kosong’.
Ruang baca itu sederhana: satu meja panjang bersih, dua baris bangku kayu sederhana yang bersandar tenang ke jendela besar, sinar matahari menembus tirai putih setengah transparan, menerangi ruangan dengan lembut, terang namun tidak menyilaukan.
Jerry dan Renon duduk berhadapan, membuka buku masing-masing. Tak lama pelayan cantik tadi mengantarkan dua cangkir teh, berkata pelan “permisi” lalu menutup pintu dengan hati-hati setelah keluar.
Menghirup aroma teh yang harum, Renon mulai membaca dengan saksama, jari-jarinya menyusuri halaman demi halaman, hingga sampai pada bab tentang empat atribut dasar:
Daya Anti-Kontrol: Seperti namanya, adalah kekuatan magis untuk melawan kontrol dan gangguan. Sihir elemen adalah proses penyihir mengendalikan elemen lewat kekuatan pikiran untuk membentuk dan menyusunnya. Jika daya anti-kontrol lemah, sihir yang terkena gangguan akan langsung gagal atau bahkan bisa dicuri orang lain. Karena itu, agar hasil sihir maksimal, seseorang harus memiliki daya anti-kontrol yang kuat, yang bergantung pada kekuatan mental dan pemahaman terhadap sihir. Kekuatan mental yang mutlak dapat menahan gangguan saat merapal mantra, sedangkan pemahaman mendalam akan membuat penyusunan elemen lebih rumit sehingga daya anti-kontrol meningkat. Jadi, kekuatan anti-kontrol bergantung pada kekuatan mental dan pemahaman sihir penyihir itu sendiri.
Daya Hancur: Merujuk pada seberapa besar kerusakan atau luka yang dapat dihasilkan sihir tempur. Cara kerja sihir tempur bermacam-macam, misalnya sihir api menghasilkan luka bakar dan ledakan; sihir angin menimbulkan badai atau bilah angin untuk melukai secara fisik. Agar sihir api menghasilkan kerusakan maksimal, elemen api harus dipadatkan dan disusun sepadat mungkin, yang menuntut kekuatan mental yang besar dan pemahaman mendalam pada sihir api. Begitu juga dengan sihir angin. Jadi, daya hancur sihir tempur pun bergantung pada kekuatan mental dan pemahaman penyihir.
Daya Tahan Waktu: Daya tahan waktu adalah lamanya sihir dapat bertahan. Lamanya sihir bergantung pada seberapa besar kekuatan mental yang dicurahkan dan bagaimana elemen disusun. Dua sihir dengan atribut dan susunan yang sama, yang diberi energi lebih akan bertahan lebih lama, sebaliknya jika sedikit maka lebih singkat. Dua sihir dengan atribut sama dan energi sama, yang memakai susunan sederhana dan kurang padat akan bertahan lebih lama, sebaliknya yang lebih rumit dan padat akan bertahan lebih singkat. Karena setiap atribut memiliki susunan berbeda, tidak bisa dibandingkan antar atribut. Jadi, daya tahan waktu berbanding lurus dengan besarnya energi mental yang diberikan, dan berbanding terbalik dengan kerumitan serta kepadatan susunan elemen.
Daya Tembus: Segala benda di dunia memiliki daya tahan terhadap sihir, daya tembus adalah kemampuan sihir untuk menembus daya tahan itu. Hal ini sepenuhnya bergantung pada seberapa rapat susunan elemen tersebut.
Penjelasan di atas hanya berlaku pada sihir elemen.