Bab 65: Meracuni
Pagi-pagi benar, langit masih gelap ketika Dewi Yu bangun dari tidurnya.
Nyonya Li juga ingin bangun, namun Dewi Yu menahannya.
“Nenek, ini masih terlalu pagi. Berbaringlah sebentar lagi.”
“Semakin tua, tidur pun semakin sedikit. Kalau terus berbaring, badan ini malah terasa berat. Aku ingin bergerak-gerak sedikit,” jawab Nyonya Li, lalu terdengar suara lirih ia memakai pakaian di dalam kamar.
Nyonya Li memang bukan tipe orang yang bisa diam saja. Meski dua tahun belakangan ini sebagian besar pekerjaan rumah diurus oleh menantu dan cucu menantunya, namun karena sudah terbiasa rajin, ia tetap merasa tidak nyaman jika hanya berbaring dan dilayani orang lain.
Mendengar penjelasan itu, Dewi Yu tak lagi membujuknya.
Hari ini ia akan sangat sibuk, sebab harus menyiapkan kue-kue yang akan dijual malam nanti.
Karena Ny. Zhang melarangnya menjual kue di toko-toko di kota, Dewi Yu pun meminjam gerobak pikul dari keluarga Wang di desa.
Keluarga Wang dulunya juga pernah berjualan jajanan, tapi karena kakek Wang sudah tua dan anak-cucunya tidak ada yang berminat melanjutkan usaha itu, akhirnya gerobak itu pun dibiarkan dan tak terpakai.
Setelah meminjam gerobak itu, Du Ankang membersihkannya sampai kinclong, sehingga kini terlihat hampir seperti baru. Bahkan lebih bersih daripada saat masih dipakai keluarga Wang.
Mengolah hampir seratus kati kacang merah dalam sehari tentu bukan perkara mudah.
Dewi Yu pun khawatir jika kue yang ia buat tak habis terjual, maka kue kacang merah itu akan kehilangan kesegarannya, jadi ia memutuskan untuk menggunakan setengah dari kacang merah yang ada lebih dulu sebagai percobaan.
Nyonya Tian pun sudah bangun pagi-pagi untuk membantunya.
“Yu, obat pencahar yang kau minta sudah kubawakan,” kata Nyonya Tian sambil menyerahkan sebungkus kecil bubuk obat, tampak jelas kekhawatiran di wajahnya.
Dewi Yu pun sangat gembira, menerima bungkusan itu dan mengucapkan terima kasih pada Nyonya Tian.
“Kakak ipar, terima kasih banyak.”
Nyonya Tian bertanya dengan cemas, “Kau mau apa dengan obat itu?”
Karena ibu Nyonya Tian memang menderita penyakit pencernaan dan kadang membutuhkan obat pencahar, jadi tak ada yang akan curiga jika Nyonya Tian membawakannya.
Dewi Yu melirik Nyonya Tian, lalu menghentikan pekerjaannya, bertanya dengan sangat serius, “Kakak ipar, menurutmu, apakah bibi kedua dan Du Anxing tertarik dengan resep kue kacang merahku ini?”
Nyonya Tian mengangguk, itu pun sudah jelas, orang bodoh pun tahu!
Dewi Yu menarik napas, lalu tiba-tiba mendekat dan berbisik, “Kakak ipar, aku bilang padamu, Du Anxing pasti punya niat jahat! Beberapa hari lalu, soal bibi kedua pura-pura hamil, itu juga idenya dia.”
Nyonya Tian benar-benar terkejut mendengarnya. Bukankah Du Anxing itu seorang pelajar? Ternyata ia malah memberikan ide seperti itu pada bibi kedua dan turut campur urusan keluarga... Sungguh tak disangka.
“Kakak ipar, menurutmu, apa bibi kedua cukup cerdas? Jelas saja ini ulah dia.”
Nyonya Tian pun sepakat. Menurutnya, urusan itu memang tak lepas dari keterlibatan Du Anxing.
“Mereka pasti tak akan melepaskan resepku ini, pasti ada rencana lain yang menantiku! Hari ini hari pertama kita berjualan kue, tak boleh ada masalah, jadi aku harus bertindak lebih dulu.”
Nyonya Tian terbelalak, “Bertindak lebih dulu? Kenapa adikku ini rasanya sekarang jadi agak asing bagiku?”
“Tentu saja! Lihat saja nanti, mereka pasti akan mengikuti kita ke kota! Siapa tahu apa yang akan mereka lakukan! Nanti saat makan malam, aku akan tambahkan sedikit ‘bumbu’ pada makanan mereka, biar mereka istirahat di rumah saja!”
Nyonya Tian benar-benar melongo.
Sebenarnya ia sudah sempat memikirkan kegunaan obat pencahar itu, tapi mendengar adik iparnya mengatakannya dengan jelas, ia tetap saja kaget.
Nyonya Tian menjilat bibirnya, “Yu, tidak akan apa-apa kan?”
“Tidak akan, kakak ipar tenang saja. Bukankah ini obat yang biasa diminum ibu mertuamu? Tak akan apa-apa kok!”
Nyonya Tian berpikir sejenak, memang benar juga! Jumlah obatnya sedikit, paling-paling mereka hanya mencret sehari saja.
“Lalu, mau dicampur ke makanan apa?” Nyonya Tian agak khawatir. Kalau sampai ada orang lain yang ikut makan makanan itu, bisa-bisa satu keluarga mencret bersama.
Dewi Yu tersenyum misterius, “Kita buat dulu kue kacang merah, nanti juga kau tahu.”
Meski ia masih menutup-nutupi, entah kenapa, Nyonya Tian merasa adik iparnya kini lebih nyata, lebih dekat, jauh lebih baik daripada dulu yang selalu bersikap arogan. Ternyata memang sudah dewasa, jauh lebih bijak dari sebelumnya.
Nyonya Tian pun tak memikirkan hal lain lagi dan mulai membantu Dewi Yu dengan sepenuh hati.
Lima puluh kati kacang merah, setelah direndam hingga mengembang, lalu dicampur berbagai macam tepung, kemudian dikukus, bisa menghasilkan hampir seratus kati kue setelah jadi. (Sesuai resep, setengah kati kacang merah dicampur satu kati tepung kastanya dan tepung tangmien, jangan salahkan.)
Kue kacang merah ini cukup berat, satu kati pun hanya dapat beberapa potong saja.
Dewi Yu memotong kue kacang merah itu menjadi kotak-kotak kecil seukuran satu jari. Ia tak memakai cetakan apapun, hanya sebuah pisau biasa, namun hasil potongannya rapi dan simetris.
Hal ini membuat Nyonya Tian sangat kagum.
Kue kacang merah yang baru matang sangat lengket, harus menunggu hingga dingin, lalu pisau dibasahi air, baru bisa dipotong cepat-cepat. Jika terlalu lambat, kue akan menempel di pisau dan menjadi susah dipotong.
Bagi Nyonya Tian, cara Dewi Yu memotong kue kacang merah itu sungguh mengagumkan. Ia tak pernah melihat adik iparnya itu memegang pisau dapur sebelumnya, tapi kini malah begitu ahli membuat makanan, benar-benar di luar dugaan.
Semua kue yang telah dipotong rapi itu kemudian disusun Dewi Yu ke dalam nampan kayu yang telah disiapkan.
Nampan kayu itu bentuknya unik, Nyonya Tian belum pernah melihat sebelumnya.
Sekilas mirip kotak untuk tahu, tapi ada perbedaan. Dua tiga kotak bisa ditumpuk jadi satu dan tampak sangat kokoh.
“Yu, rak ini kau pesan ke siapa? Kenapa aku belum pernah lihat sebelumnya?”
Dewi Yu tersenyum, menutup kue kacang merah dengan kain kasa, “Aku tidak mungkin bisa membuatnya sendiri, ini buatan paman. Katanya sih hanya dari sisa-sisa kayu, tapi menurutku tidak begitu.”
Nyonya Tian tahu keluarga Liu memang pengrajin kayu, keempat paman Dewi Yu semuanya ahli kayu, bahkan salah satunya khusus membuat ukiran.
“Pantas, buatan pamanmu, jadi wajar saja!” Mereka memang sudah terbiasa membuat barang-barang aneh, jadi tidak heran lagi.
Dewi Yu berkata, “Kakak ipar, kue ini sudah selesai. Setelah pintu dikunci, tolong kau awasi orang-orang di rumah kedua, jangan sampai mereka mengacau.”
“Tenang saja, aku tinggal di depan rumah mereka, siapa pun yang keluar pasti tidak bisa lolos dari pengawasanku.”
“Oh iya, Yu, soal obat tadi, kau mau pakai bagaimana?”
Dewi Yu tersenyum, “Kakak ipar, dari tadi kau terus kepikiran soal itu ya?”
Nyonya Tian jadi malu, “Iya juga sih.” Bukan karena ia penakut, tapi memang merasa rencana ini agak berisiko! Bagaimana kalau ada anggota keluarga lain yang tak sengaja ikut makan obat itu? Bisa-bisa semua orang di rumah kena mencret, mana mungkin bisa!