Bab 51: Percakapan Tak Terduga di Atas Kereta
Keluar dari Klub Catur Wulu yang pendinginnya dinyalakan penuh, Wang Ziming langsung disambut oleh gelombang panas yang menyengat. Di Beijing, jika tidak turun hujan lebat beberapa kali, panas musim panas bahkan bisa bertahan hingga bulan Oktober. Ia mengangkat tangan kiri untuk menahan sinar matahari yang menyilaukan, meregangkan tubuh dengan nyaman. Sudah tujuh atau delapan hari ia tak melangkah keluar dari pintu klub, bahkan rumput liar di pojok jalan pun kini tampak begitu akrab.
Ia berjalan santai mengikuti jalan, sambil memperhatikan lalu-lalang orang dan menikmati sensasi panas matahari membakar kulit. Konon, berjemur setengah jam di bawah matahari setara dengan makan dua butir telur; entah benar atau tidak. Di sepanjang jalan, beberapa orang menyapa Wang Ziming. Zaman sudah berubah, kini Wang Ziming telah menjadi sosok yang cukup dikenal di kota tua itu. Meski yang benar-benar mengenalnya tak banyak, namun banyak yang melihatnya di klub catur. Kebanyakan penggemar catur memang seperti itu, meskipun mereka sendiri tak bisa terkenal, bisa mengobrol sebentar saja dengan seorang master sudah menjadi kebanggaan, apalagi Wang Ziming bukan tipe yang suka berkeliling, jadi kesempatan bertemu dengannya sangat langka.
Ia membalas sapaan para penggemar catur dengan senyum dan anggukan, menjawab santai pertanyaan-pertanyaan basa-basi seperti, “Sudah makan?” atau “Mau pergi ke mana?” Wang Ziming lalu naik kereta bawah tanah. Sejak tiket kejuaraan Piala Koran Sore sudah dipastikan, Peng Dingyuan ingin sekali berbincang dengannya. Sudah hampir dua bulan mereka tidak bertemu. Kini pekerjaannya ada jeda, ini waktu yang tepat untuk bersilaturahmi, supaya tidak dibilang melupakan kawan lama gara-gara teman baru.
Empat puluh menit kemudian ia tiba di Rumah Sakit Xinmin, namun Peng Dingyuan ternyata tidak ada. Dari petugas resepsionis, ia hanya tahu kalau Peng keluar setengah jam yang lalu, katanya untuk menghadiri sebuah acara, selebihnya tidak jelas.
Wang Ziming menghela napas dan menghubungi Peng Dingyuan lewat ponsel. Rupanya ia keliru karena tidak mengabari sebelum berangkat. Siapa sangka, seorang direktur rumah sakit pada jam kerja tidak berada di kantor. Ingin memberi kejutan saja gagal.
“Halo, ini Yifei, kan? Jarang-jarang kamu yang menelepon duluan,” suara di ujung sana terdengar sengaja diredam.
“Benar, ini aku. Jam kerja begini kamu ke mana? Dengar ya, aku sudah berpanas-panas hampir satu jam demi menjengukmu. Kamu malah tidak di kantor, aku jadi kecewa. Kalau nanti ada yang bilang aku lupa teman lama, jangan salahkan aku, ya,” kata Wang Ziming, setengah menggugat.
“Haha, itu bukan salahku. Kamu nggak bilang-bilang sebelumnya, mana aku tahu kalau kamu datang hari ini. Ngomong-ngomong, kamu sekarang di Rumah Sakit Xinmin, kan?”
“Ya, baru saja keluar dari gerbang depan.”
“Bagus! Dari gerbang, ambil gang kanan, tembus ke kompleks, di sana ada halte bus. Naik bus 44, turun lima halte ke arah barat di Xuanwumen. Di sisi selatan jalan ada Gedung Yuanfang, lantai 15, nomor 03, aku tunggu di sana. Cepat datang, ada kejutan buatmu,” kata Peng Dingyuan dengan nada agak senang.
“Apa kejutan itu? Hari panas begini, kalau sampai kamu memperdaya aku, siapa yang akan bertanggung jawab?”
“Tenang saja, nggak akan lama, paling lama dua puluh menit kamu sudah sampai. Sudah jauh-jauh juga, nggak usah hitung-hitungan. Lagi pula, kamu kan tahu rumahku, aku mau lari ke mana? Cepat datang, ya. Kalau nggak ketemu, telepon aku.”
“Baik, aku percaya padamu kali ini.” Setelah menutup telepon, Wang Ziming menentukan arah, lalu berjalan ke kanan. Bus nomor 44 adalah bus lingkar dalam kedua, jadi halte mudah ditemukan. Tak sampai dua menit menunggu, bus pun datang. Karena sudah lewat tengah hari, cukup banyak kursi kosong di bus. Ia memilih duduk dekat jendela yang teduh, membuka kaca dan membiarkan angin sepoi masuk, sungguh menyegarkan.
“Bang Feng, menurutmu kali ini di Piala Samsung berapa orang dari kita yang bisa masuk semifinal?” tanya seorang pemuda sambil membolak-balik majalah pada kursi ganda di depan, kepada pria paruh baya di sampingnya.
“Kalau beruntung, bisa tiga orang. Kalau sial, satu pun tidak ada,” jawab pria paruh baya itu.
“Mana mungkin! Dari delapan besar, ada enam pecatur Tiongkok, secara probabilitas setidaknya tiga atau empat orang lolos, kenapa Abang pesimis sekali?” tanya pemuda itu dengan heran.
“Adik, kamu baru belajar catur, belum paham dunia catur, wajar saja. Kalau kemenangan catur bisa dihitung dengan probabilitas, pecatur tak perlu repot-repot meningkatkan kemampuan, tinggal main lebih banyak pasti menang,” ujar pria itu sambil tersenyum.
“Bang Feng, jangan cuma mengejek, jelaskan dong alasannya,” kata sang pemuda tak puas.
“Begini, pertandingan Go itu duel individu, sebanyak apa pun jumlahnya tetap saja yang bertanding hanya satu orang di depan papan catur. Misal musim lalu, di Piala Chunlan, dari empat besar, tiga di antaranya pecatur Tiongkok, tapi yang juara tetap saja Lee Yong-hyun. Kali ini memang jumlah pecatur Tiongkok banyak, tapi analisis saja, hasilnya belum tentu bagus. Lihat, pertandingan kali ini adalah Wang Tianyuan lawan Lee Yong-hyun, Zhao Dayuan lawan Kim Byung-hui, Chen Haipeng lawan Choi Shishi, Song Yongzhu lawan Miyamoto Takeo, Zhang Yaoqing lawan Cao Zaixian, Guo Xing lawan Nagatani Naokazu. Dari enam pertandingan, empat lawan raja Korea. Kecuali Chen Haipeng, tiga lainnya baik dari segi kekuatan maupun prestasi kalah jauh. Apalagi pecatur Korea biasanya makin hebat di turnamen besar, jadi kemungkinan besar kita bakal kesulitan. Song Yongzhu dan Guo Xing lawan dua dari ‘Tiga Burung’ Institut Go Jepang, Song Yongzhu masih ada peluang, Guo Xing berat. Intinya hanya dua pertandingan, Chen Haipeng dan Song Yongzhu, yang kemungkinannya fifty-fifty, sisanya harapan tipis. Jadi aku bilang, menang tiga pertandingan saja itu sudah sangat optimis,” jelas pria paruh baya itu sambil menunjuk tabel di majalah.
“Apa iya pecatur Korea sehebat itu?” sang pemuda bertanya ragu.
“Kamu ini disuruh sering-sering belajar dari partai para master, malah main besar-besaran sama teman-teman yang mainnya kacau, makin lama mainmu makin buruk, pengetahuan pun tidak bertambah! Masa tanya, ‘pecatur Korea benar-benar sehebat itu?’ Aku tanya balik, dari tahun lalu sampai tahun ini, ada tiga belas kejuaraan dunia, sebelas di antaranya dimenangkan oleh empat raja Korea, menurutmu itu hebat atau tidak?” pria paruh baya itu mengetuk kepala sang pemuda.
“Iya, iya, aku tahu mereka memang hebat. Tapi kenapa sih mereka bisa sehebat itu? Padahal sama-sama punya kepala dua bahu, kok bisa beda jauh?” pemuda itu mengelus kepalanya, penasaran.
“Lho, kamu tanya aku, aku harus tanya siapa lagi? Aku ini terlihat seperti direktur Institut Go Tiongkok atau presiden Federasi Go Dunia? Mana mungkin pertanyaan begini bisa dijawab sama aku, yang tiap tahun gagal naik tingkat amatir?” jawab pria paruh baya itu dengan kesal.
“Haha, Bang Feng, bukankah selama ini ngaku dua tingkat, raja catur kampung, eh ternyata sama saja kayak aku, pemula!” pemuda itu tertawa terbahak-bahak.
“Hmph, di gang rumahku, kalau aku bukan nomor satu, siapa berani bilang nomor satu? Gelar raja catur bukan sembarang orang bisa pakai! Soal dua tingkat itu, kamu tanya saja sama Lao Zhao, aku pernah menang sekali dari dia. Kalau dia bilang tidak, kepalaku siap buat kamu tendang!” kata pria itu, wajahnya memerah karena keceplosan.
“Baiklah, aku tahu Bang Feng itu hebat. Ngomong-ngomong, untuk Piala Koran Sore Nasional kali ini, kuota tim Beijing sudah ditentukan, kok nama ketua klub kita nggak masuk? Bukannya dulu Bang bilang setelah Li Chenglong keluar dari Klub Wulu, Ketua Zhou pasti terpilih jadi tim utama?” sang pemuda buru-buru mengalihkan topik saat melihat pria paruh baya itu mulai kesal.
“Dua bulan ini kamu dinas ke timur laut, jadi nggak tahu apa yang terjadi di Beijing. Sini aku kasih tahu, Li Chenglong memang sudah pergi dari Klub Wulu, tapi yang datang malah tiga harimau! Wang Ziming jangan ditanya lagi, katanya bahkan Ji Changfeng dari Dojo Changfeng pun bukan tandingannya, apalagi yang lain. Lalu ada dua gadis muda, umurnya baru dua puluhan, katanya sih baru profesional tingkat satu, setara amatir empat atau lima. Siapa sangka, mereka ini ibarat bakpao isi daging, tidak tampak dari luar tapi dalamnya mantap—tangan mereka lihai sekali. Dalam sekejap, enam master yang mengincar tiket lolos dibuat kelimpungan, bahkan Ketua Zhou kita pun digunduli habis, sampai seminggu lebih tidak berani menampakkan diri di klub. Lucu juga kalau diingat-ingat,” pria paruh baya itu tersenyum geli.
“Ah, mereka kan profesional, menang lawan Ketua Zhou juga bukan prestasi, Ketua Zhou memang terlalu menjaga gengsi!” sang pemuda menyepelekan.
“Kamu tahu apa! Ketua Zhou itu usianya sudah empat puluh lebih, sedangkan gadis-gadis itu, andai belajar catur sejak lahir pun tetap lebih muda beberapa tahun. Lagi pula, waktu Ketua Zhou mundur dari tim muda, ia sudah profesional tingkat tiga. Kamu pikir dia nggak malu kalah?” pria paruh baya itu menegur.
“Tapi itu kan dulu, sekarang Ketua Zhou cuma amatir, jelas kalah sama profesional,” sang pemuda tak mau kalah.
“Omong kosong! Ketua Zhou kelola klub catur, gadis itu juga kelola klub catur. Walau sertifikat tingkat berbeda, sama-sama pegiat catur, kerjaan juga sama. Bukan berarti kalah dari profesional lalu harus malu. Main catur itu bukan rapat tahunan, yang tua harus duduk di podium. Dulu Wang Yifei pertama kali ikut Kejuaraan Empat Kota, baru amatir tingkat satu, tapi bisa mengalahkan anak-anak dua dan tiga tingkat dari tim muda kota sampai mereka kelabakan. Siapa waktu itu bilang amatir lebih rendah dari profesional?” pria itu balik bertanya.
“Hehe, Wang Yifei kan jenius sejati, pakai contoh dia juga terlalu spesial,” sang pemuda tetap membantah walau mulai terdesak.
“Hmph, pantas saja pecatur Tiongkok sering kalah, rupanya penggemar catur akar rumput saja tak punya semangat. Kayaknya masa depan Go Tiongkok suram,” pria paruh baya itu mendesah berlebihan.
“Sudahlah, Bang Feng, soal masa depan Go Tiongkok aku nggak tahu, yang jelas kalau kita nggak turun sekarang, kita bakal terlambat,” sang pemuda tertawa lalu berdiri menuju pintu bus. Pria paruh baya di belakangnya menggeleng dan ikut berdiri.