Bab Lima Belas: Keputusan Zhao Timur

Aku memang kesepian. Tuan Rumah Diam 3868kata 2026-02-09 23:04:35

Bulan sabit menggantung di langit menerangi seluruh negeri, di mana ada keluarga yang bergembira, di situ pula ada yang berduka. Dunia ini luas, dan tentu saja kebahagiaan bukan hanya milik segelintir orang di Perkumpulan Gowi Ulur. Setidaknya, di kantor manajer lantai tiga Gedung Seratus Laga Zona Dua Kebun Apel, suasana hati Zhao Timur yang duduk di kursi besar sedang sangat baik.

Baru saja ia menerima kabar pasti bahwa Li Chenglong siang tadi naik pesawat ke Hainan untuk menemani istrinya berobat, dan kemungkinan besar tidak akan kembali dalam waktu dekat. Ini jelas kabar baik.

Zhao Timur teringat sepuluh tahun lalu saat pertama kali mendirikan perkumpulan catur. Semua harta yang dimiliki hanyalah sebuah rumah kecil dengan beberapa meja kursi. Tak punya uang, tak punya nama. Demi menarik lebih banyak murid dan penggemar catur, ia sendiri harus mengayuh sepeda tua menembus angin dan hujan, berkeliling kampung, mulut sampai kering, kaki sampai lelah. Semua kepayahan itu tak sanggup ia jabarkan. Namun, setelah bertahun-tahun, akhirnya ia bisa membanggakan pencapaian kecil. Rumah sudah ada, mobil pun punya, hidup terasa lebih mudah.

Zhao Timur mengira setelah melewati masa-masa sulit merintis usaha, ia bisa membawa Gedung Seratus Laga berkembang pesat di Shijingshan. Tak disangka, muncul Gu Ping yang merebut Jalan Yuyuan, lalu Li Chenglong yang menguasai Kota Tua. Gu Ping masih mending karena letaknya jauh, pengaruhnya tidak besar. Tapi Li Chenglong berbeda, Kota Tua cuma tiga stasiun dari Kebun Apel. Untuk para penggemar catur di sekitar situ, mau main ke mana saja mudah. Akibatnya, banyak pelanggan lama mulai beralih ke Perkumpulan Gowi Ulur. Jika saja pondasinya tidak kuat setelah bertahun-tahun, mungkin sudah lama tergeser.

Awalnya, Zhao Timur juga terpikir ingin mengusir Li Chenglong dari Perkumpulan Gowi Ulur, namun setelah beberapa kali bersaing hasilnya lebih banyak kalah daripada menang. Dalam dunia catur, kekuatan adalah segalanya. Jika kalah kuat, ya harus rela tersisih. Untungnya, Li Chenglong tidak terlalu ambisius. Setelah kukuh di Kota Tua, ia tidak memperluas ke tempat lain, sehingga mereka bisa hidup berdampingan secara damai. Kalau tidak, entah nasibnya sekarang akan seperti apa.

Meski beberapa tahun terakhir berjalan tenang, keinginan Zhao Timur untuk merebut kembali lahan Kota Tua tidak pernah padam. Kini, musuh terbesarnya akhirnya pergi. Sisa orang-orang di Perkumpulan Gowi Ulur tak ada yang sepadan dengannya. Hasrat untuk merebut kembali wilayahnya hampir terwujud. Bagaimana ia tidak girang?

Tiba-tiba, dering telepon di meja membuyarkan lamunan Zhao Timur.

"Halo, saya Zhao Timur. Ini siapa?"

"Bro Zhao, masih di perkumpulan catur? Rajin sekali kerjanya." Suara di seberang membuat suasana hati Zhao Timur langsung turun setengah.

"Gu Ping, kenapa tiba-tiba menelponku?" Nomor yang muncul di layar sudah ia kenal. Kalau bicara soal kerja keras, Gu Ping pun sama rajinnya. Bukan hanya dirinya yang ingin menorehkan nama di Shijingshan.

"Wah, masa segitu saja sudah merasa asing? Apa karena sudah lama tak bertukar kabar jadi mengira aku ini tak sopan?" Suara di seberang terdengar penuh tawa.

"Sudahlah, langsung saja. Ada apa?" Zhao Timur tahu betul betapa liciknya Gu Ping. Kalau dibiarkan, sejam penuh pun telepon tak akan selesai.

"Ha ha, kamu memang selalu tak sabaran. Baiklah, tak usah berbasa-basi. Kau sudah tahu Li Chenglong pergi, kan?"

"Tentu saja. Siapa di kalangan kita yang tak tahu? Kau bukannya mau cari akal licik lagi, kan?" Hati Zhao Timur langsung waspada. Yang bisa mengancamnya di dunia catur Shijingshan hanya segelintir orang—Gu Ping salah satunya. Jika hanya soal kemampuan catur, masih banyak master di Beijing yang lebih kuat, tapi mereka bukan pebisnis. Gu Ping, seperti dirinya, juga mengelola perkumpulan catur. Kalau hanya sebatas itu, tak masalah. Tapi Gu Ping itu ambisius, selalu berkhayal membuka cabang Perkumpulan Santai miliknya di seluruh Shijingshan. Seandainya bukan karena kehadiran Li Chenglong dan dirinya, impian itu mungkin sudah terwujud. Nama Perkumpulan Santai memang terdengar merdu, seolah-olah penuh ketenangan dan keunikan. Tapi pada kenyataannya, si pemilik malah cuma seorang licik kelas pasar. Lebih cocok disebut Sarang Rubah daripada Perkumpulan Santai.

"Ha ha, Bro Zhao, berani bilang kau tak pernah tertarik pada Kota Tua? Kalau kau bilang tidak, aku ngaku saja kalau aku memang punya niat buruk," Gu Ping tergelak.

Ini pasti sedang mencoba menguji reaksi dirinya. Kalau bilang tak tertarik, nanti kalau Gu Ping masuk Kota Tua, ia malah tak enak hati menghalangi. Tapi kalau mengaku ingin, berarti sama saja mengaku licik seperti Gu Ping. Berbicara dengan orang seperti ini memang melelahkan, harus selalu waspada.

"Jangan samakan aku denganmu. Li Chenglong baru saja pergi sehari, sudah tak sabaran saja, apa tak punya hati nurani?" Jika tak bisa jawab, balas saja dengan pertanyaan. Zhao Timur sendiri juga bukan orang polos.

"Wah, kita sama-sama tahu siapa diri kita. Gagak hinggap di punggung babi, siapa pula yang lebih hitam. Kau bukan baru sekarang punya niat, bahkan sejak Perkumpulan Gowi Ulur baru berdiri kau sudah kepikiran."

"Kalau ada apa, langsung sampaikan. Mengobrol kosong bukan gayamu," ujar Zhao Timur. Ia lebih percaya pada kemampuannya sendiri ketimbang adu mulut.

"Kau sudah tahu Li Chenglong pergi. Tapi tahu tidak siapa yang sekarang mengurus Perkumpulan Gowi Ulur?" Gu Ping akhirnya masuk ke pokok pembicaraan.

"Tidak tahu. Toh orangnya cuma segitu-segitu saja, tak penting benar siapa. Selain Li Chenglong, yang mengurus ya Zhao Changting. Kalau Li Chenglong pergi, otomatis Zhao Changting yang memegang kendali. Walau ia sudah lama malang melintang, kekuatan caturnya biasa saja, tak perlu dikhawatirkan."

"Ha ha, ternyata aku masih lebih update. Dari info terbaru, kini Perkumpulan Gowi Ulur dipegang dua gadis muda, dan keduanya adalah pemain catur profesional terdaftar di Akademi Catur," ujar Gu Ping bangga.

"Oh, apa hubungan mereka dengan Li Chenglong, dan bagaimana kekuatannya?" Ini informasi baru yang penting. Tak mungkin Zhao Timur tidak peduli.

"Mereka keponakan Li Chenglong, dan dua-duanya pemegang gelar profesional tingkat awal."

"Tingkatnya tidak tinggi ya? Umur berapa?"

"Baru sekitar dua puluh tahun," jawab Gu Ping agak ragu, mungkin tidak yakin juga.

"Oh, masih lumayan." Saat ini pemain catur profesional di seluruh negeri lebih dari dua ratus orang, dan setiap tahun hanya ada enam jatah promosi. Persaingannya sangat ketat. Sekuat apapun, kalau kurang beruntung tetap bisa gagal. Jadi, bisa mendapat gelar profesional saja sudah membuktikan bahwa kemampuan mereka tidak buruk. Bahkan, beberapa pemain tingkat awal pernah mengalahkan master tingkat delapan atau sembilan, meski jumlahnya sedikit. Umumnya, tingkat profesional awal setara dengan tingkat amatir empat atau lima. Kalau di usia dua puluh tahun masih di tingkat awal, berarti bakatnya biasa saja. Dengan kemampuan dirinya yang sudah amatir tingkat enam, mestinya tak sulit mengatasinya. Tapi, kebenarannya baru akan diketahui setelah bertanding, karena kekuatan pemain profesional tidak bisa dinilai dari gelar semata.

"Maksudmu masih lumayan itu apa? Jangan-jangan sedang memikirkan cara menghadapi mereka?" tanya Gu Ping.

"Ngapain aku harus menghadapi dua gadis kecil?" balas Zhao Timur.

"Masih saja sok polos! Jujur saja, Kota Tua itu pusat lalu lintas, kawasan bisnis ramai, penduduk banyak. Siapa yang tak tergoda? Satu perkumpulan catur saja rasanya terlalu sedikit. Kau sendiri setuju, kan?"

"Itu kan kau yang bilang, aku tak bicara apa-apa."

"Kalau begitu, kalau aku buka cabang di Kota Tua, kau tak keberatan kan?"

"Kenapa harus keberatan? Namanya juga ekonomi pasar, siapa yang mampu dia yang dapat. Aku malah iri kalau kau bisa. Semoga sukses, ya." Sambil berkata ramah, Zhao Timur dalam hati sudah penuh perhitungan.

"Baiklah, terima kasih atas doanya. Nanti kalau sempat kita minum bareng, aku yang traktir," ajak Gu Ping.

"Terima kasih sebelumnya. Sampai jumpa."

Setelah menutup telepon, Zhao Timur termenung. Sebenarnya apa maksud telepon Gu Ping tadi? Kenapa ia mau memberitahu rencananya? Walau semua pelaku bisnis catur di Shijingshan tahu hal ini, namun mengatakannya langsung berbeda dengan diam-diam melakukannya. Tak takutkah ia kalau ada yang bermain licik dari belakang?

Gu Ping tahu Zhao Timur pasti tak rela di depan rumahnya sendiri muncul pesaing baru, dan cara terbaik untuk menghalanginya adalah bertindak lebih dulu merebut pasar Kota Tua.

Apa Gu Ping tak khawatir kalau Zhao Timur lebih cepat bergerak?

Ada tiga faktor yang bisa mempengaruhi Gu Ping masuk Kota Tua: modal dan tenaga kerja, intervensi Zhao Timur, atau Perkumpulan Gowi Ulur sendiri.

Modal dan tenaga kerja sepertinya bukan masalah. Perkumpulan Santai sudah berjalan tujuh-delapan tahun, meski tak banyak master handal, tapi untuk membuka satu cabang baru, tenaga cukup tersedia. Modal awal membuka perkumpulan catur pun tak besar, biaya utama hanyalah sewa dan renovasi, itu bagi Gu Ping hanya receh.

Kemampuan catur antara Zhao Timur dan Gu Ping relatif seimbang, dan baik Gedung Seratus Laga maupun Perkumpulan Santai sama-sama veteran di Shijingshan. Keduanya saling mengenal kekuatan dan kelemahan, tak ada yang benar-benar takut satu sama lain. Jadi, faktor kedua pun bukan masalah.

Tinggal faktor ketiga: Perkumpulan Gowi Ulur sendiri. Li Chenglong memang pergi, tapi siapa yang tahu kapan ia kembali? Dua gadis muda yang baru datang belum jelas kekuatannya, sedangkan Zhao Changting berpengalaman dan punya jaringan luas—semua ini adalah variabel tak pasti.

Setahun lalu, Akademi Catur Beijing mengeluarkan aturan baru untuk mencegah persaingan tak sehat akibat terlalu banyak perkumpulan catur di satu wilayah. Setiap distrik hanya boleh mengeluarkan satu izin usaha. Ada tiga cara membuka perkumpulan catur: mencari daerah tanpa perkumpulan, bekerja sama dengan yang sudah ada, atau menantang secara resmi lewat pertandingan; siapa menang, dialah yang berhak mengelola.

Perkumpulan Gowi Ulur jelas tak punya alasan untuk kerja sama, jadi satu-satunya cara membuka usaha di Kota Tua adalah dengan tantangan resmi. Tapi, ada risikonya. Pengaju tantangan harus mendaftar sebulan sebelumnya ke Akademi Catur Beijing, serta menyerahkan jaminan dana yang nilainya hampir setara pendapatan satu tahun perkumpulan catur. Jika menang, mendapat hak usaha, jika kalah, jaminan hangus dan diberikan ke pihak lawan. Ini jelas bukan taruhan main-main. Bentuk tantangan ada dua: beregu (3-7 orang, satu babak penentu) atau tunggal (masing-masing perkumpulan mengirim satu orang, bertanding tujuh ronde, siapa menang empat lebih dulu jadi pemenang). Jenis tantangan dipilih oleh pihak yang ditantang, jadi penantang harus punya tim kuat dan satu pemain yang bisa mengalahkan semua pemain lawan. Itulah alasan kenapa Perkumpulan Gowi Ulur masih bertahan hingga kini: di Shijingshan, tak ada yang berani bilang kekuatannya melebihi Li Chenglong.

Senyum tipis muncul di sudut bibir Zhao Timur. Maksud telepon Gu Ping hari ini sudah jelas—ia ingin Zhao Timur lebih dulu mencoba kekuatan Perkumpulan Gowi Ulur. Jika Zhao Timur gagal, Gu Ping tak rugi; ia justru dapat informasi berharga. Kalau Zhao Timur berhasil, Gu Ping tinggal menantang Zhao Timur, dan posisi mereka kembali sama. Tak ada ruginya bagi Perkumpulan Santai.

Licik sekali, pikir Zhao Timur. Namun, ia juga bukan orang bodoh yang mudah diperalat. Masih banyak waktu, siapa yang lebih sabar akan menang. Zhao Timur memutuskan, sebelum ia mengetahui persis kekuatan Perkumpulan Gowi Ulur saat ini, ia takkan gegabah mengambil langkah. Perkumpulan Santai, pada akhirnya akan jadi cabang Gedung Seratus Laga milikku juga.